Jajaran Direksi IBK Bank Indonesia. (Foto: Dok. IBK Bank Indonesia)
Jakarta – PT Bank IBK Indonesia (IDX: AGRS) atau IBK Bank Indonesia mencatat pertumbuhan positif pada kuartal pertama (Q1) 2025. Per Maret 2025, laba bersih perusahaan tumbuh 18,87 persen secara year-on-year (YoY) menjadi Rp54,58 miliar.
Pertumbuhan tersebut ditopang kinerja intermediasi yang kuat, dengan penyaluran kredit perseroan melesat 37,96 persen menjadi Rp12,97 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp10,09 triliun, naik 4,85 persen (YoY).
Rasio keuangan Bank IBK Indonesia juga sehat. Diawali dengan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) di angka 36,40 persen.
Lalu kredit macet (NPL) gross juga masih di kisaran 1,93 persen, jauh di bawah ambang batas regulator sebesar 5 persen.
Return of Asset (ROA) dan Return of Equity (ROE) masing-masing di angka 1,26 persen dan 3,96 persen.
Baca juga: RUPST IBK Bank Indonesia: Rombak Direksi dan Absen Tebar Dividen
Sementara, Biaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) menyentuh 82,80 persen.
Namun, likuiditas terpantau agak ketat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai persentase 128,54 persen.
Pada akhir 2024, perseroan menargetkan laba bersih 2025 di kisaran Rp220 miliar. Direktur Utama Bank IBK Indonesia, Oh In Taek, menegaskan bahwa target tersebut tetap berlaku.
“Target laba bersih tidak akan ada perubahan. Jadi, sama seperti yang sudah ditargetkan sebelumnya. Namun, pertumbuhan kredit yang cepat membuat kita memberikan suku bunga yang lebih rendah,” ujarnya dalam acara public expose (pubex) Bank IBK Indonesia, dikutip pada Minggu, 22 Juni 2025.
Bank IBK Indonesia menargetkan penyaluran kredit di angka Rp13,89 triliun pada akhir 2025. Oh memastikan perusahaan akan terus mendorong ekspansi kredit untuk mencapai target tersebut.
Baca juga: Prabowo: Banyak Maling Uang Rakyat, Harus Ditertibkan
Bank IBK Indonesia banyak menyasar sektor industri, sesuai dengan identitas perusahaan. Namun demikian, Direktur Operasional Bank IBK Indonesia, Andreas Mikhael Sumual, menyebut bahwa diversifikasi kredit telah dilakukan ke berbagai sektor lainnya.
“Misalnya, kami juga masuk membantu pembiayaan sektor produktif. Kami juga bisa masuk melalui multifinance atau juga melalui channeling. Jadi, diversifikasi ini sudah kami lakukan,” tegas Andreas.
Direktur Kredit Bank IBK Indonesia, Park Jin Je menambahkan bahwa strategi utama bank adalah memperkuat fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang. Salah satunya melalui peluncuran produk-produk sesuai kebutuhan nasabah.
“Bank kami juga berkomitmen untuk terus mengembangkan produk dan layanan digital kami demi memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pengguna. IBK Bank Indonesia juga berupaya untuk menjadi lebih efisien dan andal dalam menyalurkan pinjaman,” jelasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting IHSG turun 3,05% pada penutupan perdagangan 13 Maret 2026 ke level 7.137,21, diikuti… Read More
Poin Penting Banyak orang Indonesia gagal menabung karena pola keuangan yang keliru: penghasilan naik, pengeluaran… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% pada periode 9-13 Maret 2026 ke level 7.137,21, sementara kapitalisasi… Read More
Poin Penting IHSG melemah 5,91% selama pekan 9–13 Maret 2026 dan ditutup di level 7.137,21.… Read More
Poin Penting LPS mulai membayar klaim simpanan nasabah BPR Koperindo sebesar Rp14,19 miliar pada tahap… Read More
Poin Penting YLKI menilai pembentukan Satgas Ramadan dan Idulfitri oleh Pertamina sebagai langkah positif untuk… Read More