Kursi Panas Pos Ibu Rini Soemarno dan Sejumlah Menteri

Jakarta – Sebelum pembentukan kabinet baru pada periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kedua, beredar beberapa nama menteri yang akan di-reshuffle. Mereka adalah menteri perdagangan, menteri agama, menteri pemuda dan olahraga, dan menteri badan usaha milik negara (BUMN).

Di antara kursi menteri tersebut, menteri BUMN bisa dikatakan paling panas. Sebab, posisinya strategis karena mengawasi 115  perusahaan BUMN dengan total asset Rp8.092 triliun. Menteri BUMN yang lima tahun terakhir diduduki Rini Sumarno pun menjadi kursi paling panas untuk diperebutkan.

Menurut Bhima Yudhistira, ekonom dari Indef, kinerja menteri BUMN lima tahun tidak bagus. “Kalau BUMN tumbuh, pada masa-masa menteri Sofyan Djalil dan Dahlan Iskan juga tumbuh. Jadi BUMN tumbuh bukan karena holdingisasi. Yang menjadi pertanyaan holdingisasi BUMN itu hasilnya apa?” ujarnya kepada Infobanknews.com (23/7/2019).

Bhima melanjutkan, justru dari sisi pengawasan dari kementerian BUMN terlihat lemah, terbukti banyaknya kinerja perusahaan BUMN yang terperosok seperti Krakatau Steel, Garuda Indonesia, Jiwasraya, dan Pertamina, serta PT Pos Indonesia, “Pengawasan kementerian BUMN cenderung bukan karena performance based, tapi faktor-faktor lain seperti kedekatan dan loyalitas,” tandas Bhima.

Siapa yang akan menduduki kursi panas sebagai menteri BUMN? Sumber Infobank mengatakan, ada sejumlah nama yang berpotensi menjadi menjadi menteri BUMN yaitu Ignasius Jonan, Wahyu Sakti Trenggono, Dwi Soetjipto, Agus Martowardojo, Arsjad Rasjid, Budi Sadikin, dan Eko Putro Sandjojo. Semua nama tersebut berlatar belakang korporasi dan memiliki catatan keberhasilan

I Jonan adalah bankir jebolan Citibank yang berhasil merubah image KAI sebelum kemudian diangkat menjadi menteri perhubungan kemudian menteri ESDM. Wahyu Sakti Trenggono yang menjadi bendahara Tim Jokowi-Ma’ruf Amin adalah taipan yang bisnisnya mengguritas dalam bidang telekomunikasi, teknologi, property, media, dan e-commerce.

Dwi Soetjipto adalah profesional yang dijuluki bapak pemersatu industri semen Indonesia setelah berhasil konsolidasi industri semen nasional yang kemudian diangkat Presiden Jokowi untuk memimpin Pertamina berhasil membubarkan Petral yang sebelumnya menjadi sarang mafia migas.

Agus Martowardojo adalah bankir bertangan dingin yang berhasil memimpin merger PermataBank lalu ditugaskan memimpin krisis Bank Mandiri dan karena keberhasilannya kemudian ditunjuk menjadi menteri keuangan dan tiga tahun kemudian dipercaya memimpin bank sentral sampai 2018.

Budi Sadikin adalah bankir senior yang setelah memimpin Bank Mandiri ditunjuk menjadi staf ahli menteri BUMN sebelum kemudian diangkat menjadi direktur utama Inalum dimana perusahaan ini berhasil meningkatkan porsi kepemilikannya di Freeport dari 9,36% menjadi 51,2% tahun lalu.

Sementara nama Arsjad Rasjid yang pada 2014 juga sempat disebut-sebut menjadi salah satu menteri BUMN adalah CEO Indika Energy memiliki catatan keberhasil membuat perusahaan merugi bertahun-tahun menjadi untung.

Sedangkan Eko Putro Sandjojo yang saat ini menjadi menteri desa, pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi, sebelumnya pernah memimpin Humpuss sebelum kemudian kembali memimpin Sierad Produce sebagai presiden direktur.

Sumber Infobank mengatakan, orang yang berlatar belakang korporasi dibutuhkan untuk menduduki kursi menteri BUMN. “Menteri BUMN harus dipimpin oleh profesional yang tidak terafiliasi dengan partai politik. Dia harus memiliki pengalaman panjang di pasar karena maju mundurnya perusahaan BUMN saat ini ditentukan oleh pasar. Bukan karena fasilitas subsidi dan monopoli seperti dulu,” seorang bankir yang tidak mau disebut namanya kepada infobanknews.com(23/7/19).

Pada masa kementerian BUMN dipimpin Dahlan Iskan yang memang orang pasar, BUMN sebetulnya sudah berusaha dibawa ke pasar. Begitu juga di zaman Tanri Abeng dan Sofyan Djalil memimpin Kementerian BUMN, keduanya mendorong perusahaan-perusahaan BUMN untuk lebih berpikir sebagai korporasi.

Rini Soemarno pun sesungguhnya orang pasar karena jebolan Citibank dan pernah menjadi petinggi di Astra Internasional. “Tapi mungkian karena sudah sudah lamaberkecimpung di birokrasi sejak 1998 dan dekat dengan elit partai politik, cara membawa BUMN-nya agak berbeda dari menteri-menteri BUMN sebelumnya,” ujar sumber tersebut.
Kursi Menteri BUMN paling panas karena menjadi perebutan banyak pihak.(Jovian).

Paulus Yoga

Recent Posts

Transaksi MADINA Bank Muamalat Tembus Rp. 48 triliun pada akhir 2025.

Bank Muamalat Indonesia mencatat kinerja yang solid untuk layanan cash management system bernama Muamalat Digital… Read More

3 hours ago

Sejak 1976, BTN Salurkan KPR Rp530 Triliun untuk 6 Juta Rumah

Poin Penting BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga April 2026 dengan… Read More

3 hours ago

ALTO Luncurkan ASKARA Connect dan Collab, Perkuat Pengelolaan Transaksi Digital

Poin Penting ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab untuk mengintegrasikan pemantauan, pengelolaan, dan analisis… Read More

3 hours ago

BTN Targetkan Penyaluran KPR Capai 400 Ribu Unit per Tahun

Poin Penting optimistis pertumbuhan KPR tetap positif dalam 3–5 tahun ke depan, dengan target peningkatan… Read More

4 hours ago

ALTO Network Proses 30 Juta Transaksi Harian, QRIS jadi Kontributor Terbesar

Poin Penting ALTO Network memproses ~30 juta transaksi per hari hingga Maret 2026, dengan kontribusi… Read More

4 hours ago

RUPST OCBC Sepakat Tebar Dividen Rp1,03 Triliun dan Buyback 438 Ribu Saham

Poin Penting RUPST OCBC sepakat untuk membagikan dividen tunai Rp1,03 triliun atau Rp45 per saham… Read More

7 hours ago