KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Masih Resilien di Tengah Gejolak Global

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Masih Resilien di Tengah Gejolak Global

KSSK: Stabilitas Sistem Keuangan RI Masih Resilien di Tengah Gejolak Global
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan, stabilitas sistem keuangan Indonesia pada kuartal III-2022 masih berada dalam kondisi yang resilien. Hal ini sejalan dengan perekonomian domestik yang masih kuat ditengah kondisi global yang tidak menentu.

“Saya, Gubernur BI, Ketua DK OJK dan Ketua DK LPS di dalam rapat berkala yang berlangsung hari ini merupakan rapat berkala KSSK keempat untuk 2022 berkomitmen untuk menjaga stabilitas sistem keuangan untuk perkuat koordinasi dan perkembangan risiko global dalam siapkan respons kebijakan,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat KSSK, Kamis, 3 November 2022.

Dia mengatakan, kinerja ekonomi global masih melambat dengan risiko ketidakpastian yang makin tinggi. Perlambatan ekonomi terjadi di AS, Eropa dan China. Hal ini turut memengaruhi ke PMI manufaktur global di bulan september 2022 yang masuk ke zona kontraksi ke level 49,8.

“Perlambatan ini dipengaruhi berlanjutnya ketegangan geopolitik dan perang di kawasan Ukraina yang picu inflasi tinggi. Fragmentasi ekonomi global perdagangan dan investasi dan pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju,” ungkapnya.

Di sisi lain, lanjut Menkeu, kenaikan suku bunga AS atau Fed Fund Rate dengan siklus yang lebih panjang, dikhawatirkan akan mendorong penguatan dolar AS dan membuat depresiasi nilai tukar di berbagai negara termasuk. 

Meski demikian, perekonomian domestik masih cukup kuat dan berlanjut. “Ini ditopang agregat demand sisi domestik konsumsi swasta yang kuat di tengah kenaikan inflasi. Investasi non bangunan yang meningkat dan kinerja ekspor yang terjaga,” paparnya.

Sementara itu, pada oktober 2022 PMI manufaktur Indonesia juga masih masuk di dalam zona ekspansif yakni sebesar 51,8. Sedikit turun dari september 53,7. Sementara itu pada september 2022 indeks penjualan riil IPR masuk 55,5% yoy.

Sedangkan indeks keyakinan konsumen (IKK) menunjukan persepsi konsumen yang ekspansif yakni mencapai 117,2. Posisi ini memang lebih turun dari posisi juni yang berada pada 128,2. 

“Ini merupakan dampak dari penyesuaian harga BBM yang tentu menimbulkan tingkat kenaikan harga. Perbaikan ekonomi nasional terlihat kinerja lapangan usaha utama yaitu sektor perdagangan pertambangan dan pertanian. Dari sisi demand konsumen masih kuat, ekspor baik dan dari sisi supply side lapangan usaha utama perdagangan, pertambangan pertanian tunjukan kinerja yang masih baik,” tambah Menkeu.

Ia menyampaikan, bahwa laju inflasi saat ini lebih rendah dari perkiraan awal sejak pemerintah kenaikan harga bbm. Indeks inflasi harga konsumen per Oktober 2022 tercatat pada level 5,71% yoy, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 5,95%. 

“Ini suatu tanda dan perkembangan yang baik. Indonesia tetap mampu jaga inflasi dan dalam level moderat. Inflasi volatile food turun jadi 7,19% yoy,” tuturnya.

Menurutnya, hal ini juha sejalan dengan langkah sinergi dan koordinasi yang dilaksanakan pemerintah baik pusat dan pemda bersama-sama dengan Bank Indonesia dan berbagai mitra strategis lainnya yang diwadahi TPIP dan TPID. Serta terus digiatkan gerakan pengendalian inflasi pangan. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]