Internasional

Krisis Tenaga Kerja, Jepang Buka Lowongan Besar-Besaran untuk TKA

Jakarta – Pemerintah Jepang kini tengah membuka besar-besaran tenaga kerja asing (TKA) untuk bekerja di negaranya. Hal ini sebagai imbas menyusutnya jumlah populasi Jepang sehingga membutuhkan para TKA untuk mengisi berbagai posisi kerja.

Dinukil Kyodo News, Selasa (19/9), berdasarkan survey terbaru, sebanyak 86 persen kota di Jepang membutuhkan adanya penambahan kehadiran TKA. Adapun, para TKA tersebut dibutuhkan di sektor seperti pertanian dan sektor-sektor kunci di daerah.

Baca juga: Miris! Ternyata Ini Alasan Lansia Jepang Ramai-Ramai Memilih jadi Penjahat

Dalam survei yang mencakup 47 prefektur serta kota-kota dan kotamadya lainnya di Negeri Sakura, sebanyak 84 persen kepala pemerintah daerah menyatakan, sangat khawatir bahwa penduduk mereka berisiko menghilang.

Hal ini karena angka tersebut melonjak dibanding studi tahun 2015 yang hasilnya ada 77 persen pemimpin pemerintah daerah merasa khawatir terhadap masa depan warganya.

Berdasarkan kelompok think-tank yang berbasis di Tokyo, diperkirakan Jepang membutuhkan sekitar empat kali lebih banyak TKA pada tahun 2040 untuk bisa mencapai target pertumbuhan oleh pemerintah Jepang dalam proyeksi ekonomi. 

Temuan ini juga menyoroti peningkatan ketergantungan Jepang terhadap tenaga kerja migran untuk menebus populasi yang menyusut. 

Di lain sisi, untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata 1,24 persen, maka Jepang harus menambah jumlah pekerja asing menjadi 6,74 juta orang tahun 2040. 

Sebagaimana diketahui, saat ini Jepang tengah bergelut dengan efek dari fenomena depopulasi atau penyusutan jumlah penduduk seiring dengan merosotnya angka kelahiran di titik terendah.

Kementerian Kesehatan Jepang, Jumat (2/6), mengatakan rendahnya tingkat kelahiran telah terjadi sejak tujuh tahun ke belakang. Bahkan, kondisi ini membuat populasi warganya semakin menyusut dan menua dengan cepat.

Mengacu kondisi tersebut, pemerintah setempat memprediksi bahwa populasi anak muda Jepang akan menurun drastis pada tahun 2030.

Baca juga: Ternyata Ini Pemicu Warga China Ramai-Ramai Boikot Produk Jepang

“Populasi kaum muda akan mulai menurun drastis pada 2030-an. Jangka waktu hingga saat itu adalah kesempatan terakhir kami untuk membalikkan tren penurunan kelahiran,” kata Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, dikutip Reuters, 3 Juni 2023.

Ia mengatakan, penurunan tingkat populasi penduduk menjadi prioritas utama pemerintah Jepang saat ini. Meski di tengah tingkat utang yang melejit, Jepang akan menggelontorkan anggaran sebesar 3,5 triliun yen (USD25 miliar) setahun untuk perawatan anak dan tindakan lain untuk mendukung orang tua. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Permata Bank Tebar Dividen Rp1,26 Triliun, Angkat Direktur Baru

Poin Penting Permata Bank membagikan dividen Rp1,266 triliun atau Rp35 per saham dari laba 2025.… Read More

2 hours ago

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

5 hours ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

6 hours ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

6 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

6 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

7 hours ago