Poin Penting
- Krisis energi global diprediksi dapat berlangsung hingga 2027 jika gangguan di Selat Hormuz tidak segera terselesaikan.
- DEN meminta masyarakat menghemat BBM untuk menekan konsumsi dan mengurangi ketergantungan impor di tengah tekanan krisis energi.
- Ketahanan energi Indonesia masih dalam kategori aman, dengan indeks 7,13 dan cadangan BBM operasional 21–28 hari.
Jakarta – Krisis energi global diperkirakan tidak segera mereda dan berpotensi berlangsung hingga 2027 jika gangguan di jalur strategis perdagangan minyak terus berlanjut. Situasi ini memicu kekhawatiran atas stabilitas pasokan dan harga energi dunia.
Di tengah tekanan geopolitik yang meningkat, Dewan Energi Nasional (DEN) meminta masyarakat Indonesia untuk mulai melakukan penghematan bahan bakar minyak (BBM) guna mengurangi dampak terhadap ketahanan nasional.
Pasar minyak global disebut belum akan kembali normal dalam waktu dekat, terutama jika lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tidak segera pulih.
“Semakin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan hanya beberapa pekan tambahan, maka akan dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama bagi pasar minyak untuk kembali seimbang dan stabil,” kata CEO Saudi Aramco, Amin Nasser dalam konferensi video yang membahas hasil kuartal pertama Saudi Aramco, seperti dikutip dari Antara.
Baca juga: Selat Hormuz Kembali Normal usai Baku Tembak AS-Iran, Trump Ancam Serangan Baru
Menurutnya, krisis energi ini dapat berlangsung hingga 2027 apabila kebuntuan di Selat Hormuz terus terjadi hingga pertengahan Juni. Ia juga menjelaskan bahwa pasar yang telah kehilangan satu miliar barel minyak akibat terganggunya produksi atau transportasi akan terus kehilangan sekitar 100 juta barel per minggu selama jalur tersebut tetap tertutup.
Sebelumnya, sekitar 70 kapal per hari melintasi Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital pengiriman energi global.
Krisis Energi Global dan Dampak pada Pasar Minyak
Eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia telah memperparah kondisi pasar energi internasional. Penutupan efektif Selat Hormuz—yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia—mengganggu produksi dan ekspor migas.
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, sekitar 20 juta barel minyak per hari memasuki pasar melalui jalur tersebut. Situasi ini memperdalam tekanan terhadap stabilitas suplai dan memperpanjang potensi krisis energi global.
Gangguan tersebut hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk ke pasar internasional. Dampaknya langsung terasa pada kenaikan harga bahan bakar dan meningkatnya ketidakpastian di pasar energi.
Respons Geopolitik dan Upaya Stabilitas
Berbagai langkah diplomatik telah ditempuh, namun belum membuahkan hasil konkret. Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, sementara dinamika politik antara Amerika Serikat dan Iran terus memengaruhi prospek pemulihan jalur perdagangan tersebut.
Situasi ini memperpanjang risiko krisis energi dan menekan ekspektasi pemulihan pasar dalam waktu singkat.
Meski sejumlah inisiatif seperti Project Freedom sempat diumumkan untuk membantu kapal-kapal yang terjebak, kebijakan tersebut juga mengalami penundaan. Ketidakpastian ini memperkuat sinyal bahwa stabilitas pasar minyak masih rentan selama konflik belum terselesaikan.
DEN Minta Warga Hemat BBM
Menanggapi kondisi tersebut, Dewan Energi Nasional (DEN) meminta masyarakat melakukan efisiensi energi, khususnya BBM, sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi krisis energi global. Anggota DEN Satya Widya Yudha menegaskan pentingnya perubahan perilaku konsumsi energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
“Kita meminta masyarakat untuk melakukan efisiensi. Ya bermobil berkendara dengan efisien dengan cara-cara efisien memaksimalkan penggunaan daripada transportasi publik. Ya, itu sudah mengurangi konsumsi. Insyaallah bagi mereka yang mampu untuk membeli mobil listrik, gunakanlah mobil listrik itu dengan baik,” ujar Satya dalam sarasehan energi bertajuk transisi energi di tengah disrupsi geopolitik global di Kampus ITB Bandung, Jawa Barat, Selasa, 12 Mei 2026.
Baca juga: Subsidi BBM-LPG Bengkak 266 Persen jadi Rp118 T per Maret 2026, Purbaya Bilang Begini
Ia menambahkan bahwa dengan menekan konsumsi BBM secara mandiri, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan secara signifikan di tengah tekanan krisis energi internasional. “Dengan demikian, konsumsi daripada BBM itu bisa ditekan jauh. Ketergantungan kita pada impor juga pasti akan berkurang,” ujarnya.
DEN juga mencatat bahwa ketahanan energi nasional masih berada pada level aman dengan skor indeks 7,13 dari skala 10. Cadangan operasional BBM nasional berada di kisaran 21–28 hari. Pemerintah pun memiliki dasar hukum melalui PP Nomor 40 Tahun 2016 untuk menghadapi kondisi krisis dan darurat energi apabila terjadi gangguan pasokan ekstrem.
Sebagai langkah jangka panjang, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi energi domestik, pengembangan lapangan migas baru, serta percepatan energi alternatif guna memperkuat kemandirian energi nasional di tengah ancaman krisis energi global.
Kondisi geopolitik yang belum stabil menunjukkan bahwa tantangan krisis energi berpotensi berlanjut dalam beberapa tahun ke depan, sehingga efisiensi konsumsi menjadi langkah nyata yang dapat dilakukan masyarakat saat ini untuk menjaga stabilitas energi nasional. (*)
Editor: Yulian Saputra


