Ilustrasi: Kredivo
Poin Penting
Jakarta – PT Kredivo Finance Indonesia (Kredivo) membidik pembiayaan ke sektor produktif hingga 20 persen. Hal ini sejalan dengan bisnis loan yang telah diluncurkan perusahaan.
“Kita lagi mengusahakan meraih 20 persen (produktif) karena kita juga sudah ngeluarin bisnis loan juga sekarang,” kata Indina Andamari, SVP Marketing & Communications Kredivo dalam acara Media Workshop “KrediCourse” di Jakarta, Selasa, 2 Desember 2025.
Ia mengakui, saat ini penyaluran pembiayaan ke sektor produktif sudah mendekati 20 persen. Sedangkan 80 persen pembiayaan masih didominasi sektor konsumtif.
Dengan adanya bisnis loan tersebut, dia berharap bisa menggenjot porsi penyaluran produktif yang ditargetkan pada akhir 2025.
Baca juga : Tumbuh Signifikan, Pembiayaan Produktif Pindar Tembus Rp31,37 T per September 2025
Menurutnya, bisnis loan sendiri berbeda dengan pinjaman tunai yang diperuntukan untuk perorangan. Sebaliknya, bisnis loan memiliki size (pembiayaan) yang lebih besar.
“Kalau bisnis loan bisa lebih besar, tapi dia harus provide beberapa dokumen. Size yang lebih tinggi dengan bunga yang lebih rendah,” tandasnya.
Saat ini bunga yang ditawarkan Kredivo untuk pembiayaan 1 dan 3 bulan adalah nol persen. Sementara itu, transaksi cicilan 6 dan 12 bulan akan dikenakan bunga senilai 2,6 persen per bulan.
Baca juga : AdaKami Belum Mau Beralih ke Pembiayaan Produktif, Ini Alasannya
Diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong industri pinjaman daring (pindar) menyalurkan pendanaan ke sektor produktif.
Saat ini penyaluran pendanaan untuk sektor produktif tercatat masih di bawah 50 persen. Adapun pada 2028, OJK menargetkan penyaluran di sektor ini mencapai 70 persen
Sementara itu, dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi (LPBBTI) 2023–2028, porsi pendanaan produktif ditargetkan sebesar 40 persen-50 persen dalam rentang 2025-2026.
Adapun per September 2025, nilai pembiayaan pindar kepada sektor produktif atau Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mencapai Rp31,37 triliun per September 2025. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Studi CELIOS menunjukkan Program MBG bisa membuang 62–125 juta porsi/minggu, merugikan negara Rp622… Read More
Poin Penting OJK menegaskan tidak ada perpanjangan waktu, semua UUS asuransi wajib spin off paling… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa ungkap sudah ada sejumlah pendaftar calon ADK OJK, terutama… Read More
Poin Penting Pemerintah memastikan dana THR 2026 sebesar Rp55 triliun telah siap dan tinggal menunggu… Read More
Poin Penting IHSG ditutup anjlok 1,37 persen ke 8.280,83 pada 24 Februari 2026, didorong koreksi… Read More
Poin Penting Bank Mandiri sediakan berbuka puasa di Menara Mandiri lewat Livin’ by Mandiri. Program… Read More