BSI memiliki Layanan Pasar dan Pengusaha UMKM (Lapak) BSI yang pada tahap awal ini ditempatkan di 31 pasar seluruh Indonesia
Poin Penting
Jakarta – Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksikan pertumbuhan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hanya akan mencapai 4 hingga 5 persen pada 2026.
“Hitungan kita tuh yang pertumbuhan kredit UMKM di kisaran 4 hingga 5 persen, jadi tumbuh di 4 persen saja sudah bagus sebenarnya,” kata Asmo panggilan akrab Andry, dalam acara Silaturahmi Bersama Media, dikutip, Jumat, 27 Februari 2026.
Baca juga: Menata Ulang Kredit UMKM di Era Data dan Kepercayaan
Asmo menjelaskan, pertumbuhan kredit UMKM masih terkendala karena belum meratanya pertumbuhan di seluruh sektor. Saat ini, sekitar 75 persen kredit UMKM terkonsentrasi di tiga sektor utama.
Sektor terbesar adalah perdagangan besar dan eceran dengan porsi 45 persen, didominasi UMKM di industri makanan serta jasa reparasi kendaraan.
“Jadi UMKM di Indonesia banyak memang seputaran dagang. Dulu saya diskusi sama badan ekonomi kreatif, mayoritas dari ekonomi kreatif di Indonesia relatif ke makanan juga. Jadi packaging-nya lebih bagus dianggap kemudian industri kreatif gitu. Nah itu kalau kita lihat 45 persen dari perdagangan besar dan eceran. Reparasi perawatan mobil, dan sepeda motor,” jelasnya.
Baca juga: OJK-Kemenkeu Kompak Tekan Bunga Kredit, Targetkan Lebih Rendah dari 8 Persen
Selain itu, sektor pertanian memiliki porsi 19,4 persen, disusul industri pengolahan. Namun, pertumbuhan sektor-sektor tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mendorong ekspansi kredit UMKM secara signifikan.
“Kalau sektor-sektor tersebut belum tumbuh secara konsisten. Misalnya tadi pertanian masih tumbuhnya di 2,4 persen, rata-rata ke 1-3 persen. Ya memang akan sangat sulit untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM lebih agresif lagi. Kita lihat kemarin pertanian di Desember 2025 itu turun tumbuhnya hanya 4,56 persen,” imbuhnya.
Meski demikian, Asmo menilai kredit UMKM masih memiliki peluang tumbuh melalui program prioritas pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dinilai dapat menciptakan ekosistem dan sumber permintaan baru bagi pelaku UMKM di daerah.
“Bayangan saya harusnya yang related kepada MBG tadi kan sudah jelas tuh sebenarnya off-taker-nya. Nah itu harusnya bisa nge-create sumber-sumber off-taker-nya baru, invoice-based loan mestinya yang seperti itu,” paparnya.
Baca juga: BGN Buka-bukaan soal Anggaran MBG, Ini Rincian per Porsi
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), penyaluran kredit untuk UMKM pada Desember 2025 terkontraksi 0,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp1.501,5 triliun. Angka ini melanjutkan kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 0,7 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting PT Bank Digital BCA fokus kredit ritel lewat channeling dengan lebih dari 10… Read More
Poin Penting BEI dan OJK menyiapkan indeks saham syariah hijau yang ditargetkan terbit pada 2026… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo dan Presiden UEA Mohammed bin Zayed sepakat meningkatkan kerja sama investasi,… Read More
Poin Penting Grab memastikan memberikan bonus hari raya 2026 kepada mitra pengemudi, dengan besaran disesuaikan… Read More
Poin Penting PINTAR BI memudahkan pemesanan tukar uang Lebaran 2026 secara online tanpa antre panjang.… Read More
Poin Penting Mobil dinas Gubernur Kaltim senilai Rp8,5 miliar disiagakan di Jakarta untuk fungsi representasi… Read More