Ilustrasi tabungan nasabah. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Perlambatan ekonomi yang berkepanjangan mulai berdampak nyata pada perilaku finansial masyarakat. Survei Inventure-Alvara 2025 menunjukkan bahwa nasabah melakukan reposisi besar-besaran terhadap penggunaan produk perbankan.
Bahkan, dalam kondisi dormant economy, masyarakat tidak hanya berhemat, tetapi juga melakukan re-engineering total terhadap strategi keuangan mereka.
Perubahan tersebut bukan bersifat parsial, melainkan membentuk pola yang lengkap dan sistematis: nasabah mengurangi kredit, memindahkan investasi ke aset aman, dan memperpanjang horizon keuangan melalui produk jangka panjang.
“Data menunjukkan bahwa produk kredit mengalami penurunan paling signifikan. Transaksi kartu kredit, pinjaman pribadi, dan kredit kendaraan dipangkas oleh mayoritas nasabah,” ujar Managing Partner Inventure Yuswohady, dikutip Selasa, 9 Desember 2025.
Baca juga: Perkuat Sinergi Bisnis, Maybank Indonesia Layani 11 Entitas TSH Group
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal langsung bahwa masyarakat tengah menghindari komitmen finansial baru. Kredit, yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan bank, kini berubah menjadi simbol risiko.
Sebaliknya, kata dia, tabungan berjangka dan deposito justru mencatat kenaikan transaksi. Nasabah mengalihkan fokus ke penguatan likuiditas dan cadangan finansial.
Hal itu mengonfirmasi bahwa dalam fase dormant economy, tabungan bukan lagi sekadar produk tetapi mekanisme survival.
Menurut Yuswohady, pola tersebut merupakan refleksi dari logika frugal, di mana konsumen sangat sensitif terhadap komitmen jangka panjang. Mereka meminimalkan kredit demi menjaga fleksibilitas.
“Tabungan dan deposito menjadi ‘benteng pertama’ untuk menjaga stabilitas arus kas di tengah ekonomi yang tidak pasti,” pungkasnya.
Survei tersebut juga menemukan bahwa 72 persen nasabah mengalihkan investasinya dari instrumen berisiko tinggi ke instrumen aman seperti deposito, emas, dan obligasi.
“Ini bukan sekadar preferensi melainkan adalah flight to safety. Dalam konteks dormant economy di mana pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan yang cukup intens, nasabah memilih stabilitas daripada spekulasi,” bebernya.
Baca juga: Bank Mandiri Siapkan Uang Tunai Rp25 Triliun untuk Kebutuhan Libur Nataru
Kondisi itu, sebut dia, memperlihatkan bahwa masyarakat tidak ingin volatilitas menggerus nilai kekayaan mereka. Mereka rela melepaskan potensi keuntungan tinggi demi memastikan nilai kekayaan tetap terjaga di tengah turbulensi ekonomi.
CEO Alvara Research Center, Hasannudin Ali menjelaskan, keputusan tersebut sangat rasional dalam konteks saat ini.
“Nasabah kini menilai keamanan aset lebih penting daripada potensi imbal hasil tinggi. Flight to safety adalah bukti bahwa masyarakat memilih stabilitas di tengah dormant ekonomi. Mereka mengutamakan perlindungan nilai bukan spekulasi,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting IHSG perdagangan perdana 2026 ditutup menguat 1,17% ke level 8.748,13 dengan nilai transaksi… Read More
Poin Penting BEI menargetkan pasar modal RI masuk 10 besar bursa dunia pada 2030 melalui… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya optimistis IHSG tembus 10.000 pada akhir 2026, meski penutupan 2025 hanya… Read More
Poin Penting Presiden Prabowo kembali absen di pembukaan perdagangan BEI 2026 karena menjalani kunjungan kerja… Read More
Oleh Wilson Arafat, Governance, Risk & Compliance (GRC) dan Environmental, Social, and Governance (ESG) Specialist… Read More
Poin Penting IHSG sesi I menguat 0,90% ke level 8.724,90 dengan nilai transaksi mencapai Rp11,86… Read More