Pekerja melintas di dekat layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (Foto: Erman Subekti)
Poin Penting
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka dengan koreksi tajam hingga 6,5 persen pagi ini, Rabu (28/1) menyusul pengumuman terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait hasil peninjauan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
Pengumuman ini langsung memicu tekanan jual, terutama dari pelaku pasar yang sensitif terhadap perubahan kebijakan indeks global.
Dalam pengumumannya, MSCI mengambil tiga langkah sementara. Pertama, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) serta jumlah saham Indonesia yang dihitung di indeks. Artinya, bobot saham Indonesia di indeks global tidak bisa bertambah dalam periode ini.
Baca juga: MSCI Bikin IHSG Rontok Hampir 8 Persen, Begini Respons BEI
Kedua, MSCI memutuskan tidak menambahkan saham Indonesia baru ke dalam indeks MSCI, termasuk saham hasil IPO maupun saham lain yang sebenarnya sudah memenuhi syarat.
Ketiga, saham Indonesia tidak dapat naik kelas indeks, misalnya dari Small Cap ke Standard Index. Langkah-langkah ini berlaku sementara hingga Mei 2026 sambil menunggu perbaikan transparansi pasar domestik.
MSCI juga memberi sinyal risiko lanjutan jika hingga batas waktu tersebut tidak ada perbaikan signifikan. Potensi dampaknya antara lain penurunan bobot Indonesia di indeks MSCI Emerging Markets yang bisa memicu foreign outflow dari investor pasif, hingga kemungkinan penurunan status pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, yang secara reputasi dinilai turun kelas.
Menanggapi kondisi itu, Syailendra Capital menilai dampak terbesar pengumuman MSCI terutama terasa pada saham-saham berkarakter momentum yang sudah naik tinggi dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Baca juga: Keputusan MSCI Tekan IHSG, Analis Wanti-wanti Risiko Dana Asing Tertahan
“Penurunan paling terasa ada di saham-saham momentum, dengan koreksi bisa mencapai sekitar 15 persen, menandakan narasi indexing mulai melemah dan berpotensi sudah mencapai puncaknya,” tulis Syailendra Capital dalam riset mikronya, yang diterima Infobanknews Rabu (28/1).
Ke depan, Syailendra Capital melihat investor akan kembali lebih selektif dan fokus pada saham dengan fundamental solid, pertumbuhan laba yang terjaga, serta kemampuan membayar dividen dengan yield menarik.
Selain itu, saham berbasis komoditas tertentu dan emiten dengan aksi korporasi berprofil risk to reward menarik diperkirakan akan kembali dilirik di tengah dinamika baru pasar saham Indonesia. (*) Ari Nugroho
Poin Penting Jobstreet meluncurkan fitur Basic Talent Search yang memberi akses hingga 50 juta profil… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR RI menetapkan lima anggota Dewan Komisioner OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Bank Aladin Syariah menargetkan pertumbuhan 9-11 persen pada 2026 dengan memperkuat layanan digital… Read More
Poin Penting BNI membuka layanan terbatas di 23 outlet pada 20 Maret 2026 dan 32… Read More
Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menyelenggarakan acara buka bersama yang dihadiri oleh anggota sekaligus… Read More