Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar (kiri) dan Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono (kanan). (Foto: Steven Widjaja)
Jakarta – Industri dana pensiun adalah salah satu industri keuangan yang memainkan peran vital bagi khalayak ramai. Bagaimana tidak, melalui industri dana pensiun, para pekerja yang telah memasuki masa pensiun bisa menerima manfaat dari iuran yang dibayarkan setiap bulannya saat masih aktif bekerja.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Ogi Prastomiyono, menyampaikan bahwa total aset industri dana pensiun di Indonesia telah mencapai nilai Rp1.400 triliun.
Namun begitu, kontribusinya bagi PDB Indonesia baru mencapai kisaran 5 persen.
“Ini kita harus tingkatkan. Perbaikan-perbaikan perlu dilakukan, baik menyangkut masalah peningkatan daripada pendalaman pasar, risk management, dan governance,” ujar Ogi saat ditemui di sela-sela acara International Organization of Pension Supervisors (IOPS) Annual Meetings 2024 di Legian, Bali, Selasa, 19 November 2024.
Baca juga: Jadi Anggota Komite Eksekutif IOPS, OJK Siap Tingkatkan Kualitas Pengawasan Dapen
Selain itu, ia juga mengatakan, perlunya perbaikan pada ekosistem industri dana pensiun melalui penerapan standar internasional.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bila pihaknya saat ini memang sedang fokus pada produk-produk sekuritas yang menawarkan fixed income.
Namun, ke depannya, ia berharap dana pensiun dapat berkontribusi bagi capital market.
“Saat ini memang masih fokus kepada produk-produk sekuritas yang masih relative fixed income, seperti surat berharga negara (SBN) dan sebagainya. Ke depannya, kita berharap bahwa dana pensiun juga bisa berkontribusi di capital market,” tegasnya.
Baca juga: OJK Terbitkan POJK Tentang Kegiatan Usaha Bulion, Ini Isinya
Ogi menambahkan bahwa pihaknya juga terus mendorong jumlah kepesertaan dana pensiun, baik untuk yang individual ataupun pekerja informal.
Ia membeberkan, porsi pekerja informal di Indonesia mencapai sekitar 58 persen, dan dari porsi tersebut, semuanya belum ter-cover program dana pensiun.
Ia pun berharap, lembaga yang menyelenggarakan program pensiun, baik itu Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK), maupun Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), dapat memperluas cakupan kepesertaannya. Mengingat pula, masih rendahnya manfaat pensiun yang diterima oleh para pensiunan yakni sekitar 10-15 persen, jauh di bawah standar International Labour Organization (ILO) sebesar 40 persen.
Hal yang sama ia harapkan pula bagi jenis dana pensiun wajib, seperti yang dilakukan oleh BPJS TK, serta untuk Aparatur Sipil Negara (ASN), seperti yang difasilitasi oleh TASPEN dan ASABRI.
“Jadi, kita perluas keanggotaan maupun juga pendalaman pasarnya. Bagaimana upaya-upaya untuk harmonisasi program pensiun, antara lain kemungkinan adanya program iuran tambahan ke depan. Itu juga menjadi upaya untuk bisa mendorong agar pensiunan itu bisa menerima manfaat pensiun yang lebih besar dari penghasilan terakhirnya,” tukasnya. (*) Steven Widjaja
UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More
Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More
Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More
Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More
Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More
Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More