Moneter dan Fiskal

Konsumsi Diproyeksi Pulih 2026, Bank Mandiri Ungkap Faktor Pendorongnya

Poin Penting

  • Bank Mandiri memprediksi konsumsi masyarakat mulai pulih pada 2026, didorong stimulus pemerintah serta momentum Ramadan dan Idulfitri.
  • Inflasi Desember 2025 tetap terkendali di 2,92 persen yoy, mencerminkan stabilitas harga di tengah menguatnya konsumsi.
  • Penguatan daya beli tecermin dari inflasi inti dan kenaikan Mandiri Spending Index sebesar 17 persen secara bulanan.

Jakarta – Tim Ekonom atau Office of Chief Economist (OCE) Group Bank Mandiri memprediksi konsumsi masyarakat akan mulai pulih pada 2026. Sinyal pemulihan terlihat dari membaiknya aktivitas konsumsi pada akhir 2025, seiring meningkatnya belanja masyarakat pada momentum Natal dan Tahun Baru (Nataru). 

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan, perbaikan konsumsi di pengujung 2025 diperkirakan berlanjut pada awal 2026. Faktor pendorongnya antara lain stimulus pemerintah dan momentum musiman Ramadan dan Idulfitri pada kuartal I 2026 yang secara historis memperkuat permintaan domestik.

Baca juga: Defisit Fiskal dan Pertumbuhan Kredit: Penyangga Rapuh PDB dari Sisi Konsumsi Masayarakat

Terjaganya konsumsi masyarakat tecermin dari data inflasi nasional yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Desember 2025, inflasi tercatat sebesar 2,92 persen secara tahunan (YoY), masih berada dalam target pemerintah sebesar 1,5-3,5 persen.

Secara bulanan, inflasi Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen (MoM). Kenaikan ini sejalan dengan pola historis akhir tahun, ketika permintaan masyarakat meningkat akibat momentum Nataru.

“Kenaikan ini mencerminkan menguatnya konsumsi masyarakat pada akhir tahun,” ujar Andry dalam keterangannya, Kamis, 15 Januari 2026.

Daya Beli Menguat, Inflasi Inti Naik

Penguatan daya beli juga tecermin dari inflasi inti yang meningkat 0,20 persen MoM pada Desember 2025, lebih tinggi dibandingkan 0,17 persen MoM pada bulan sebelumnya. Inflasi inti umumnya mencerminkan dinamika permintaan domestik yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Andry menjelaskan, kenaikan inflasi inti didukung oleh menguatnya konsumsi domestik di akhir 2025. Selain itu, kenaikan harga emas turut memberikan kontribusi terhadap pergerakan inflasi inti.

“Aktivitas konsumsi tetap solid pada Desember, tecermin dari kenaikan Mandiri Spending Index (MSI) sebesar 17 persen secara bulanan,” kata Andry.

Baca juga: Nataru 2025/2026, Konsumsi Listrik EV di SPKLU Melonjak 479 Persen

Sementara itu, komponen inflasi harga yang diatur pemerintah (administered prices) pada Desember 2025 tercatat sebesar 0,37 persen MoM, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,24 persen MoM. Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh penyesuaian tarif tiket pesawat dan bahan bakar minyak (BBM) selama periode libur Nataru.

Konsumsi Tetap Jadi Penopang Ekonomi Nasional

Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan konsumsi masyarakat masih berada dalam tren positif dengan stabilitas harga yang terjaga di tengah dinamika permintaan musiman. Kondisi ini menegaskan peran konsumsi domestik sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

“Memasuki tahun 2026, tekanan inflasi diperkirakan tetap berada dalam kisaran yang terkendali pada awal tahun, didukung oleh kondisi sisi pasokan pangan yang relatif kondusif. Stabilitas tersebut turut memberikan ruang bagi konsumsi masyarakat untuk tetap tumbuh secara lebih terukur dan berkelanjutan,” ungkap Andry.

Baca juga: Bank Mandiri Bersinergi dengan Kemenhan Bangun 5 Jembatan Bailey di Sumatra

Terjaganya inflasi dan penguatan konsumsi domestik juga selaras dengan kinerja intermediasi Bank Mandiri yang tetap solid. Hingga akhir November 2025, penyaluran kredit Bank Mandiri (bank only) tumbuh 13,1 persen secara tahunan menjadi Rp1.452 triliun.

Kinerja tersebut ditopang oleh likuiditas yang terkelola baik serta kualitas aset yang terjaga, sekaligus menegaskan peran Bank Mandiri sebagai mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang produktif dan berkelanjutan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Recent Posts

OJK Ungkap Alasan Banyak Cabut Izin Usaha BPR dan BPRS

Poin Penting OJK mencabut izin BPR/BPRS terutama karena kasus fraud serta lemahnya tata kelola dan… Read More

28 mins ago

IHSG Sesi I Hijau di 9.046, Sempat Cetak ATH Baru

Poin Penting IHSG menguat tipis 0,16% pada sesi I perdagangan Kamis (15/1) ke level 9.046,83… Read More

1 hour ago

OJK Ungkap Perkembangan Spin Off UUS Perusahaan Multifinance

Poin Penting OJK memantau hasil audit laporan keuangan 2025 UUS multifinance yang telah memenuhi kriteria… Read More

2 hours ago

Cek Rekening! BRI Cairkan Dividen Interim Rp20,6 Triliun Hari Ini

Poin Penting BRI membagikan dividen interim Rp20,6 triliun atau setara Rp137 per saham untuk Tahun… Read More

2 hours ago

Kasus “Sritex” Yuddy Renaldi dan Direksi BPD, Ketika Prosedur Dikriminalisasi, Bankir “Diberangus”

Oleh Tim Infobank KASUS yang menjerat Yuddy Renaldi, Direktur Utama (Dirut) Bank BJB di Pengadilan… Read More

3 hours ago

OJK Terbitkan Aturan Penilaian Tingkat Kesehatan Sektor PPDP, Ini Poin-poinnya

Poin Penting OJK terbitkan POJK 33/2025 untuk menyempurnakan kerangka penilaian tingkat kesehatan sektor perasuransian, penjaminan,… Read More

3 hours ago