Ilustrasi: Masyarakat antre membeli BBM jenis Pertalite/istimewa
Poin Penting
Jakarta – Memanasnya dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global, terutama terkait potensi lonjakan harga minyak dunia dan gangguan pasokan.
Namun sejumlah pengamat menilai ketahanan sistem energi Indonesia relatif kuat untuk menghadapi tekanan eksternal tersebut.
Praktisi Energi dan Infrastruktur Tommy Jamail Jr. mengatakan masyarakat tidak perlu merespons situasi global secara berlebihan, termasuk dengan melakukan pembelian bahan bakar minyak (BBM) secara masif atau panic buying.
“Secara sistem, infrastruktur energi Indonesia telah dirancang untuk menghadapi berbagai dinamika eksternal. Distribusi dan pengelolaan pasokan BBM dilakukan dengan perencanaan yang matang sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan energi,” ujar Tommy dalam keterangannya, Jumat, 13 Maret 2026.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah memang berpotensi memengaruhi pasar energi global, terutama melalui mekanisme harga minyak mentah.
Baca juga: Dukung Ketahanan Energi dan Pangan, SKK Migas-Pertamina EP Lakukan Ini
Namun dampaknya terhadap pasokan domestik tidak selalu bersifat langsung, karena sistem distribusi energi nasional telah dirancang dengan mekanisme pengamanan stok.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar sektor energi Indonesia justru terletak pada faktor geografis. Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, sistem logistik energi nasional harus mampu menjangkau wilayah yang sangat luas dengan kondisi infrastruktur yang beragam.
Karena itu, kata Tommy, perencanaan distribusi energi di Indonesia tidak hanya bergantung pada dinamika pasar global, tetapi juga pada kemampuan sistem logistik domestik untuk memastikan pasokan tetap merata di berbagai daerah.
“Sebagai negara kepulauan, tantangan kita sebenarnya lebih pada distribusi. Namun sistem logistik energi nasional sudah dirancang untuk memastikan pasokan tetap terjaga di berbagai wilayah,” ujarnya.
Dalam perspektif historis, Indonesia dinilai memiliki pengalaman panjang menghadapi volatilitas pasar energi global. Tommy mencatat setidaknya empat krisis energi dunia yang pernah memengaruhi pasar minyak internasional.
Krisis pertama terjadi pada 1973 ketika negara-negara Arab melakukan embargo minyak terhadap negara-negara yang mendukung Israel dalam Perang Yom Kippur. Krisis berikutnya muncul saat krisis keuangan global pada 2008 yang mengguncang pasar energi dunia.
Kemudian pada 2022, konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memicu volatilitas harga energi global. Sementara yang terbaru adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
“Sejarah Indonesia sudah sangat panjang menghadapi krisis. Saya yakin kita bisa menghadapi itu dengan baik,” bebernya.
Baca juga: Produksi Migas RI Merosot, Ini Rekomendasi Praktisi untuk Jaga Ketahanan Energi
Meski demikian, Tommy mengingatkan bahwa pelaku industri energi tetap perlu memastikan kesiapan distribusi dan manajemen pasokan, terutama menjelang periode konsumsi tinggi seperti Idul Fitri.
Menurut dia, lonjakan konsumsi BBM saat mudik Lebaran merupakan pola tahunan yang telah lama diantisipasi oleh pengelola sistem energi nasional.
“Lonjakan konsumsi saat Idul Fitri sebenarnya sudah menjadi pola tahunan. Sistem energi nasional sudah terbiasa melakukan penyesuaian untuk memastikan pasokan tetap aman,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi terkait potensi kelangkaan energi.
Menurut dia, kepanikan publik justru berpotensi menciptakan gangguan distribusi di tingkat lokal jika masyarakat melakukan pembelian BBM secara berlebihan. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Danantara Indonesia merayakan satu tahun berdiri melalui refleksi kelembagaan yang dihadiri Presiden Prabowo… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya menilai investigasi perdagangan AS terhadap Indonesia merupakan hal biasa dalam dinamika… Read More
Poin Penting Minat masyarakat terhadap investasi emas meningkat dan turut mendorong pertumbuhan bisnis Unit Usaha… Read More
Poin Penting Purbaya menyatakan pemerintah masih mengkaji kemungkinan pelebaran defisit APBN di atas 3 persen… Read More
Poin Penting Utang baru Rp185,3 triliun telah ditarik pemerintah hingga Februari 2026, setara 22,3 persen… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menilai pelemahan rupiah minim dampak ke neraca bank, PDN hanya… Read More