Teknologi

Konflik Timteng Berisiko Ganggu Internet Global? Ini yang Harus Dilakukan Pelaku Bisnis

Poin Penting

  • Konflik Timteng memicu risiko gangguan infrastruktur digital global, termasuk data center dan jaringan internet, selain dampak inflasi
  • Serangan siber dalam konflik modern berpotensi melumpuhkan operasional bisnis, meski dampaknya kerap tidak langsung
  • Pelaku usaha perlu membangun resiliensi sejak dini melalui backup data, diversifikasi teknologi, dan skenario mitigasi (plan A, B, C).

Jakarta – Konflik di Timur Tengah (Timteng) yang memanas antara koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perekonomian global. Salah satunya tercermin dari kenaikan harga minyak dan sejumlah komoditas strategis.

Tak hanya memicu tekanan inflasi, konflik tersebut juga memunculkan kekhawatiran baru terkait potensi serangan terhadap infrastruktur digital publik, seperti data center dan jaringan internet.

Jika terjadi, kondisi tersebut bisa berisiko melumpuhkan operasional digital yang menjadi tulang punggung aktivitas bisnis dan masyarakat.

Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Nofitra mengingatkan bahwa konflik bersenjata pada akhirnya akan berdampak pada pihak-pihak yang tidak terlibat langsung, termasuk pelaku usaha.

Baca juga: Ancaman Siber Naik Level, Kaspersky Dorong Perusahaan Terapkan SOC Berbasis AI

Dalam setiap konflik modern, kata Defi, serangan tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga di ranah siber yang dilakukan oleh “prajurit siber”. Ini semakin meningkatkan risiko gangguan terhadap jaringan digital global.

“Jika saya punya perusahaan di Indonesia, saya tak peduli yang menang siapa. Bagi saya, apa untungnya menang A atau B. Tapi, yang penting bisnis saya tak terdampak. Jadi, dampak pasti ada, namun biasanya tak langsung dulu,” ujar Defi di Jakarta, Rabu, 8 April 2026.

Lebih lanjut, ia mengibaratkan dampak tidak langsung dari konflik terhadap sektor siber seperti potensi gangguan di Selat Hormuz yang dapat menghambat distribusi minyak dunia dan memicu inflasi di berbagai negara.

“Misalnya, satu pihak menyerang satu center cloud. Saat diserang, pemakainya jadi teriak semua, karena kan hancur tuh. Artinya, dia mau tak mau kena impact. Apakah kita siap? Company harus siap,” cetus Defi.

Untuk mengantisipasi skenario terburuk, Defi menekankan pentingnya membangun resiliensi sejak dini. Salah satunya dengan tidak menempatkan seluruh data penting dalam satu sistem atau server cloud.

“Karena dia punya data kritikal yang dia amankan. Jadi, mau di atas hancur, dia masih punya data yang penting yang dia amankan,” ucapnya.

Selain itu, pelaku bisnis juga perlu memperkuat resiliensi dari sisi produk dengan tidak bergantung pada satu sumber teknologi. Diversifikasi, baik dari sisi vendor maupun blok teknologi, dinilai menjadi langkah penting dalam menjaga keberlangsungan operasional.

“Tak ada yang lebih bagus. Semuanya sama, karena technology is a technology. Someday, lagi sial, bisa juga dia kebobolan. Tapi, resiliensi, artinya, ada serangan dari sini yang protect ini. Ada serangan dari sana yang protect itu,” papar Defi.

Baca juga: Rawan Kejahatan Siber, CIMB Niaga Perkuat Keamanan OCTO Biz dengan Sistem Berlapis

Ia menambahkan, sebagai perusahaan yang berasal dari Rusia, Kaspersky memiliki perspektif berbeda dalam membantu klien menghadapi ancaman siber lintas kawasan.

“Karena dengan ini, kita bisa bantu user untuk mengamankan. ‘Pak, kita bantu dari sini mengamankan. Karena, kalau semua dari sana (blok lain), itu bahaya. Nanti ketika ini diserang, semua hancur’. Jadi, harus punya resiliensi demikian,” sambungnya.

Menurutnya, penggunaan perangkat dan strategi keamanan dari berbagai negara atau blok politik justru menjadi keunggulan dalam membangun sistem pertahanan siber yang lebih tangguh.

“Jangan sampai dia tak tahu apa-apa, yang perang di sana, dia kena impact. Makanya, secara teknologi, dia harus mulai resiliensi, harus punya backup, harus punya plan A, plan B, plan C,” tandas Defi. Steven Widjaja

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

3 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

8 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

9 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

9 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

9 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

9 hours ago