Konflik Geopolitik jadi Sumber Ketidakpastian Ekonomi di 2022

Konflik Geopolitik jadi Sumber Ketidakpastian Ekonomi di 2022

Isu Global Masih Jadi Patokan BI Turunkan Suku Bunga
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Bank Indonesia (BI) dari sisi makroprudensial berkonsentrasi pada upaya mendorong peran strategis untuk mengakselerasikan intermediasi khususnya perbankan sebagai pemulihan ekonomi nasional.

Sumber risiko utama dari sistem keuangan 2022 mengalami perubahan. Sebelumnya pada 2021, penyebab timbulnya kerentanan sistem keuangan adalah Covid-19, pertumbuhan ekonomi yang anjlok, dan kenaikan suku bunga The Fed. Sedangkan, hasil survei Maret-April 2022 yang menjadi sumber risiko utama adalah ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina, diikuti oleh tekanan inflasi.

“Dari identifikasi kami sumber risiko utama yang dapat menimbulkan dampak tekanan pada sektor keuangan itu bergeser. Kalau, semester lalu itu yang paling atas adalah covid, yang kedua baru pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, dan kenaikan the fed. Sekarang hasil survei di Maret-April itu mengidentifikasikan itu resiko utamanya geopolitik dan kedua tekanan inflasi,” jelas Yati Kurniati, Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI dalam Peluncuran Buku Kajian Stabilitas Keuangan, Jumat, 13 Mei 2022.

Walaupun ketahanan sektor keuangan kini sudah terjaga yang tercermin pada pertumbuhan ekonomi triwulan I/2022 sebesar 5,01% secara yoy. Namun, sumber risiko utama pada sistem keuangan juga harus diwaspadai.

Beberapa hal yang harus diwaspadai adalah jalur perdagangan yang mempengaruhi eksternal demand karena adanya tekanan-tekanan yang menurunkan permintaan global dan berdampak pada permintaan ekspor. Sedangkan harga komoditi dan energi berdampak pada inflasi sehingga memengaruhi daya beli. Ketidakpastian keuangan internasional juga dapat memengaruhi harga aset dan suku bunga.

Pada tahun 2022, Bank Indonesia berperan sebagai pendorong intermediasi, beberapa hal diantaranya adalah pembiayaan sektor prioritas penurunan nilai GWM sehingga bisa menambahkan kredit lebih banyak, kemudian mendorong pembiayaan inklusif sejalan dengan tujuan pemerintah porsi pembiayaan UMKM sebesar 30% di akhir 2024, serta mempertahankan kebijakan makroprudensial yang longgar.

Konsumsi rumah tangga juga turut mendukung sistem keuangan yang ditunjukkan dengan menurunnya angka positif Covid-19 dan meningkatkan konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penggerak financing.

Dari sisi supply, kondisi perbankan menunjukan daya tahan yang kuat, kinerja yang baik, serta likuiditas tinggi. Penyaluran kredit juga mendukung ke arah tren perbaikan dibuktikan dengan tumbuhnya kredit modal kerja sebesar 7,68% pada perhitungan di bulan Maret 2022 jika dibandingkan dengan kredit lainnya kredit modal kerja mengalami pertumbuhan yang tertinggi.

Untuk menjaga makroprudensial tetap akomodatif, Bank Indonesia menetapkan kebijakan angka Countercyclical Capital Buffer sebesar 0%, kemudian untuk rasio intermediasi makroprudensial menetapkan batas bawah sebesar 84% dan batas atas sebesar 94%, serta penyangga likuiditas yang diatur melalui surat-surat berharga tetap dijaga sebesar 6%.

Yati juga menekankan, untuk semua otoritas di sektor keuangan juga turut bersinergi terkait dengan kebijakan-kebijakan, serta di sisi dunia usaha serta pelaku ekonomi juga mendorong akselerasi pemulihan ekonomi.

“Kerja sama dukungan, support dari sesama otoritas di sektor keuangan itu sangat diperlukan untuk sama-sama bergandengan tangan kolaborasi sinergi tidak hanya sinergi kebijakan tapi juga saling mendukung akan menjadi lebih baik lagi jika disupport oleh dunia usaha, pelaku ekonomi bersama-sama kita satu visi untuk membangun dan mendorong pemulihan ekonomi,” tutupnya. (*) Khoirifa

 

Editor: Rezkiana Nisaputra

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]