Poin Penting
Jakarta – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menanggapi wacana pembelajaran dari rumah sebagai bagian dari upaya efisiensi energi di tengah dinamika global.
Ia menilai, kebijakan tersebut perlu dikaji secara hati-hati agar tidak berdampak pada kualitas pendidikan. Menurutnya, pembelajaran tatap muka tetap harus menjadi prioritas utama.
“Pembelajaran tatap muka lebih efektif dan penting untuk menjaga kualitas interaksi, termasuk kegiatan praktikum yang tidak tergantikan,” ujar Hetifah dalam keterangannya, Kamis, 26 Maret 2026.
Baca juga: Kebijakan WFH Segera Diumumkan, Purbaya Hitung Dampaknya ke Ekonomi dan Konsumsi BBM
Diketahui, dalam konteks krisis energi global, sejumlah negara mulai mengeksplorasi berbagai skema penghematan, termasuk pengurangan mobilitas. Opsi pembelajaran dari rumah muncul sebagai salah satu alternatif untuk menekan konsumsi energi, khususnya dari sektor transportasi.
Namun, Hetifah menilai dampak kebijakan tersebut di Indonesia relatif terbatas. Hal ini karena mayoritas siswa bersekolah di dekat tempat tinggal, seiring penerapan sistem zonasi.
Dengan kondisi tersebut, pengurangan mobilitas siswa dinilai tidak memberikan dampak signifikan terhadap konsumsi energi nasional. Sebaliknya, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap kualitas pendidikan.
Baca juga: Krisis Energi Dinilai Jadi Momentum Benahi Subsidi BBM-LPG Agar Tepat Sasaran
Penerapan pembelajaran jarak jauh (PJJ) secara luas juga dinilai dapat memunculkan sejumlah persoalan, mulai dari potensi learning loss, keterbatasan interaksi antara guru dan siswa, hingga meningkatnya kesenjangan akses akibat perbedaan fasilitas belajar di rumah.
“Aspek sosial-emosional anak juga terdampak karena berkurangnya ruang interaksi dan pembentukan karakter,” kata dia.
Meski demikian, dirinya menilai pembelajaran jarak jauh tetap relevan sebagai opsi adaptif dalam situasi tertentu, seperti bencana alam, gangguan akses sementara, atau di wilayah terpencil yang kekurangan tenaga pendidik.
Dalam situasi tersebut, PJJ dapat menjadi alternatif agar proses belajar tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan atau akses pendidikan.
Baca juga: Krisis Energi Global, Presiden Korea Selatan Minta Warganya Persingkat Waktu Mandi
Oleh sebab itu, Hetifah menghimbau pemerintah daerah untuk tetap melanjutkan pembelajaran tatap muka setelah libur Idul Fitri sesuai kebijakan yang telah ditetapkan.
Selain itu, pemerintah diharapkan terus meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat dukungan bagi guru, serta memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting AFTECH berharap formasi baru Dewan Komisioner OJK dapat memperkuat kebijakan dan pengawasan industri… Read More
Poin Penting KPK mencatat 67,98% penyelenggara negara telah melaporkan LHKPN 2025 hingga 11 Maret 2026… Read More
Poin Penting Gubernur Babel mewajibkan ASN menggunakan sepeda atau kendaraan roda dua untuk menekan konsumsi… Read More
Poin Penting PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan KPR subsidi Rp16,79 triliun kepada 122.838… Read More
Poin Penting Pelni mencatat penumpang arus balik mencapai 225.898 orang atau 67,5 persen hingga 26… Read More
Poin Penting Gubernur Jatim meminta kepala daerah menyiapkan strategi menghadapi dampak geopolitik global pada sektor… Read More