Ekonomi dan Bisnis

Kisah Mantan Sopir Angkot jadi Orang Terkaya di RI, Lebih Tajir dari Jack MA

Jakarta – Majalah bisnis dan finansial asal Amerika Serikat, Forbes kembali memperbarui daftar orang terkaya di Indonesia pada Forbes Real Billionaires yang dirilis pada Selasa (14/11/2023). Dalam daftar tersebut, konglomerat Prajogo Pangestu nangkring di posisi teratas sebagai orang terkaya di Indonesia menggeser Low Tuck Kwong, hingga Robert Budi Hartono dan Michael Hartono (Duo Hartono).

Berdasarkan laporan Forbes Real Billionaires, kekayaan pemilik Grup Barito Pacific itu ditaksir senilai USD 37,7 miliar atau setara dengan Rp591,89 triliun (kurs Rp15.700/dolar AS).

Dengan kekayaan yang dimilikinya tersebut, pria kelahiran 13 Mei 1944 di Sambas, Kalimantan Barat ini menyalip sejumlah nama konglomerat dunia dalam daftar tersebut. 

Baca juga: Daftar Orang Terkaya di Dunia Terbaru Versi Forbes, Miliarder RI Posisi Berapa?

Misalnya saja, Tadashi Yanai, pemilik retail pakaian Fast Retailing yang menaungi jenama populer Uniqlo yang memiliki kekayaan senilai USD35,4 miliar atau setara dengan Rp555,78 triliun.

Kekayaan Prajogo juga mengungguli Mark Mateschitz, anak pendiri merupakan pendiri perusahaan minuman energi ternama dunia, Red Bull dengan kekayaan sampai USD 34,4 miliar atau setara dengan Rp540,08 triliun.

Semakin ke bawah, kekayaan Prajogo lebih dari konglomerat asal China, Ma Huateng. Dia merupakan pendiri sekaligus CEO raksasa teknologi asal China, Tencent Holdings yang tercatat memiliki kekayaan senilai USD33,9 miliar atau sekitar Rp532,32 triliun. 

Bahkan, harta kekayaan Prajogo jauh lebih tajir dari pendiri Alibaba Jack Ma. Dalam daftar tersebut, harta kekayaan Ma berada di kisaran USD25,4 miliar atau Rp398,78 triliun.

Profil Prajogo Pangestu

Melansir dari berbagai sumber, Prajogo Pangestu berasal dari keluarga sederhana. Sang ayah merupakan pedagang karet. Lantaran kondisi ekonomi keluarga, dirinya hanya bisa menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP.

Atas dasar itulah, ia berpikir untuk mencari pekerjaan. Dirinya pun sempat mengadu nasib ke Jakarta. Sayangnya, usaha tersebut belum berbuah manis dan kembalilah Prajogo ke kampung halaman.

Saat kembali itu, dirinya sempat bekerja sebagai supir angkot. Selepas beberapa lama menjalankan pekerjaan tersebut, ia mengawali karier di dunia bisnis pada 1960-an. Dari situ, awal nasibnya berubah ketika bertemu dengan pengusaha kayu asal Malaysia, Bon Sun On atau Burhan Uray.

Baca juga: Ini Dia Deretan Artis Terkaya di Indonesia, Ada yang Masuk Forbes?

Berkat ketekunan dan etos kerja tinggi yang ditunjukan kepada Burhan Uray, membuat dirinya memiliki karier di PT Djajanti Group pada 1969. Tujuh tahun kemudian, Burhan mengangkat Prajogo menjadi general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur.

Selepas berkarier di PT Djajanti Group, Prajogo lantas memulai bisnis kayu pada akhir 1970-an. Kala itu, ia mengajukan pinjaman dari bank untuk mengakuisisi CV Pacific Lumber Coy yang kala itu tengah mengalami kesulitan keuangan. 

Kemudian perusahaannya pun berganti menjadi PT Barito Pacific Lumber. Hingga pada akhirnya, perusahaannya go public pada 1993 dan berganti nama menjadi Barito Pacific hingga saat ini. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Kondisi Menantang, Begini Stategi Bisnis Bank Mandiri pada 2026

Poin Penting Bank Mandiri mencermati risiko global (geopolitik, kebijakan perdagangan, volatilitas komoditas) serta dampak penurunan… Read More

8 mins ago

IHSG Ditutup Melemah 0,53 Persen ke Posisi 8.103

Poin Penting IHSG ditutup turun 0,53 persen ke level 8.103,87, dengan mayoritas saham terkoreksi (349… Read More

26 mins ago

Tragedi Siswa SD di NTT: Potret Gelap Masalah Keuangan Keluarga

Poin Penting Seorang siswa SD di NTT bunuh diri karena orang tuanya tak mampu membeli… Read More

35 mins ago

Bank Mandiri Bukukan Laba Rp56,3 Triliun pada 2025

Poin Penting Bank Mandiri membukukan laba bersih Rp56,3 triliun pada 2025, ditopang pertumbuhan kredit 13,4… Read More

1 hour ago

Debt Collector Punya Peran Krusial Jaga Stabilitas Industri Keuangan

Poin Penting Keberadaan debt collector berperan sebagai credit collection support yang menjaga likuiditas, menekan risiko… Read More

1 hour ago

DPLK Avrist Catat Aset Kelolaan Rp1,32 Triliun hingga Desember 2025

Poin Penting Aset kelolaan DPLK Avrist tumbuh 9,24% menjadi Rp1,32 triliun hingga Desember 2025, dengan… Read More

2 hours ago