Ilustrasi: Menara SMBC. (Foto: istimewa)
Jakarta – PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester I-2025. Bank ini berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan operasional dan penyaluran kredit, didorong oleh kontribusi dari berbagai lini bisnis termasuk segmen retail dan korporat.
Pendapatan operasional SMBC Indonesia tercatat sebesar Rp9,13 triliun atau meningkat 11 persen secara tahunan (year on year/yoy), hingga Juni 2025. Pendapatan bunga bersih tumbuh 15 persen yoy menjadi Rp8,02 triliun, yang didorong oleh kontribusi dari kredit, penempatan aset likuid, serta pendapatan bunga bersih dari Grup OTO, yaitu PT Oto Multiartha dan PT Summit Oto Finance yang telah dikonsolidasikan penuh pada 2025.
Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 7,1 persen per Juni 2025, naik dari 6,4 persen pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini turut mencerminkan kontribusi Grup OTO setelah proses akuisisi.
“SMBC Indonesia terus menjaga ketahanan bisnisnya di tengah tantangan pasar yang dinamis dalam beberapa waktu terakhir, baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia, dikutip Rabu, 30 Juli 2025.
Baca juga: KB Bank Catat Laba Bersih Rp373 Miliar, Fokus Menuju Profitabilitas Berkelanjutan
Penyaluran kredit meningkat 5 persen yoy menjadi Rp185,04 triliun. Kredit retail menjadi penyumbang terbesar dengan kenaikan 25 persen yoy, yang terdiri atas pertumbuhan joint finance sebesar 156 persen, Jenius (di luar digital micro) 15 persen, segmen mikro 21 persen, dan Grup OTO 7 persen.
Kredit korporasi dan komersial juga naik 4 persen yoy, meskipun kredit usaha kecil dan menengah (UKM) mengalami penurunan 2 persen.
Namun, biaya kredit mengalami kenaikan 52 persen yoy menjadi Rp2,58 triliun, terutama akibat peningkatan pencadangan di segmen korporasi dan joint finance.
“Kami senantiasa menjalankan manajemen risiko kredit yang prudent dan proaktif, termasuk dalam penyediaan cadangan yang memadai,” tambah Henoch.
Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) menurun 8 persen yoy menjadi Rp109,82 triliun, disebabkan penurunan giro dan tabungan (CASA) sebesar 9 persen menjadi Rp43,7 triliun, serta penurunan deposito sebesar 7 persen menjadi Rp66,1 triliun.
Pun demikian, bank ini tetap menjalankan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kemampuan dan produk layanan, guna mendukung pertumbuhan CASA dan efisiensi biaya dana.
Adapun laba bersih konsolidasi setelah pajak tercatat sebesar Rp1 triliun, turun 19 persen yoy, utamanya akibat kenaikan biaya kredit. Kenaikan biaya operasional sebesar 9 persen yoy masih tertutupi oleh pertumbuhan pendapatan operasional sebesar 11 persen.
Anak usaha SMBC Indonesia, Bank BTPN Syariah, juga memberikan kontribusi positif terhadap kinerja konglomerasi dengan mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,6 persen yoy menjadi Rp644 miliar selama semester I-2025.
Baca juga: Semester I 2025, Kredit Bank Mestika Tumbuh di Atas Industri dan Kualitas Tetap Terjaga
Solusi digital perbankan Jenius juga mencatatkan perkembangan signifikan. Per Juni 2025, jumlah pengguna Jenius mencapai 6,1 juta atau meningkat 7 persen yoy. DPK yang dihimpun Jenius naik 15 persen menjadi Rp31,3 triliun, sementara penyaluran kredit mencapai Rp3,5 triliun atau naik 13 persen yoy, meliputi produk seperti Flexi Cash, Digital Micro, Kartu Kredit Jenius, dan Jenius Paylater.
Berbagai inovasi juga diluncurkan Jenius selama semester pertama 2025, termasuk Obligasi Pasar Sekunder, s-Card, Cash Cow, serta fitur Bayar & Nabung. Hal ini memperkuat posisi Jenius sebagai pemimpin di sektor perbankan digital nasional.
Di luar aspek finansial, SMBC Indonesia juga memperkuat komitmen sosial melalui Program Daya yang telah menjangkau hampir 4,8 juta partisipan lewat 4.782 aktivitas pemberdayaan sepanjang Januari hingga Juni 2025.
Keterlibatan aktif dalam program Entrepreneur Hub Financial 2025 bersama Kementerian UMKM dan Universitas Agung Podomoro juga menjadi bagian dari strategi berkelanjutan perseroan, yang menggabungkan pembiayaan, literasi keuangan, dan pendampingan usaha. (*) Ari Nugroho
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More
Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More
Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More
Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More
Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More