Poin Penting
- Laba Bank Mandiri di kuartal IV 2025 Rp18,6 triliun (+40 persen qtq, +35 persen yoy). Sepanjang 2025 mencapai Rp56,3 triliun (+1 persen yoy), melampaui estimasi analis.
- NIM Bank Mandiri 4,9 persen (turun 26 bps yoy), namun kualitas aset solid dengan NPL 1,1 persen dan LAR 6,5 persen
- Laba Bank Mandiri 2026 diperkirakan tumbuh ~6 persen ditopang monetisasi Livin’ dan efisiensi biaya. Indo Premier Sekuritas dan MNC Sekuritas rekomendasikan buy.
Jakarta – PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencetak laba bersih di kuartal IV 2025 senilai Rp18,6 triliun atau melonjak 40 persen secara kuartalan dan naik 35 persen secara tahunan.
Angka tersebut sejalan dengan estimasi dan bahkan melampaui konsensus dari analis. Sehingga laba bersih di sepanjang tahun 2025 menjadi Rp56,3 triliun atau tumbuh 1 persen yoy.
“Perolehan laba bersih tersebut sejalan dengan estimasi kami dan lebih tinggi dari konsensus masing-masing sebesar 101 persen dan 110 persen,” tulis analis MNC Sekuritas, Victoria Venny dalam risetnya dikutip, 18 Februari 2026.
Baca juga: Soal Rencana Meger AUM BUMN, Bos Bank Mandiri Bilang Begini
Adapun, margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) BMRI pada 2025 mencapai 4,9 persen atau turun 26 bps yoy yang utamanya disebabkan oleh penurunan yield kredit, yang sebagian diimbangi oleh penurunan biaya dana atau cost of fund (CoF).
“Kualitas aset BMRI tetap solid dengan non-performing loan (NPL) sebesar 1,1 persen dan loan at risk (LAR) sebesar 6,5 persen,” imbuhnya.
Sementara analis Indo Premier Sekuritas, Jovent Muliadi dan Axel Azriel dalam risetnya memperkirakan laba BMRI pada 2026 bakal didorong oleh pendapatan non-bunga.
Hal itu terutama berasal dari peningkatan fee berbasis platform digital, seiring rencana monetisasi aplikasi Livin’ secara lebih agresif tahun ini.
Selain itu, opex diperkirakan relatif datar atau bahkan menurun, setelah adanya penyesuaian satu kali (one-off) pada 2025.
Secara konservatif, opex BMRI diprediksi hanya naik 3 persen yoy, sehingga cost to income ratio (CIR) berpotensi turun menjadi 44 persen pada 2026 dibandingkan 2025 yang mencapai 46 persen.
“Secara keseluruhan, kami memproyeksikan pertumbuhan laba BMRI sekitar 6 persen pada 2026 menjadi Rp58,7 triliun atau 6,3 persen di atas konsensus yang sebesar Rp55,2 triliun,” ujar Jovent.
Baca juga: Optimalisasi Struktur Keuangan, Bank Mandiri Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Rekomendasi Buy BMRI
Indo Premier Sekuritas merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga tinggi Rp6.400. Valuasi BMRI dinilai menarik, dengan P/B mencapai 1,4 kali dan P/E sebesar 8,1 kali dibandingkan rata-rata 10 tahun yang masing-masing 1,6 kali dan 11,6 kali.
MNC Sekuritas juga merekomendasikan buy saham BMRI dengan target harga Rp6.050. Target harga tersebut mencerminkan estimasi P/B 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 1,8 kali dan 1,7 kali.
Penguatan profitabilitas BMRI juga berasal dari diversifikasi sumber pendapatan.
Sepanjang 2025, pendapatan non-bunga meningkat 14,5 persen yoy menjadi Rp48,5 triliun, didorong oleh peningkatan aktivitas transaksi nasabah dan pemanfaatan layanan berbasis ekosistem, yang menjaga ketahanan fundamental secara jangka panjang. (*)
Editor: Galih Pratama










