News Update

Kinerja Himbara Turun, OJK Sebut Faktor Siklikal dan Berpotensi Rebound

Poin Penting

  • OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan permintaan kredit, bukan masalah fundamental.
  • OJK optimistis kinerja bank BUMN akan rebound saat kondisi ekonomi dan pasar membaik, didukung pengawasan ketat dan target tinggi.
  • Kesepakatan dagang Indonesia-AS (ART) berpotensi mendorong ekspor dan memberi sentimen positif bagi kinerja perbankan.

Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi fenomena turunnya kinerja bank-bank milik negara atau Himbara yang terjadi belakangan ini.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK, Dian Ediana Rae, menegaskan penurunan kinerja bank-bank Himbara murni disebabkan faktor siklikal.

“Sebetulnya kalau dilihat di situ itu cyclical saja. Bila kita lihat situasi-situasi, situasi global, situasi makro, mikro, itu semua juga tentu berpengaruh kepada kita di sini,” kata Dian saat ditemui setelah acara The 2nd Indonesia Climate Banking Forum di Hotel Mandarin Oriental Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Baca juga: OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim, Ini Targetnya

Dinamika ekonomi global yang berkaitan dengan ekonomi domestik turut menekan stabilitas ekosistem industri dalam negeri. Kondisi ini berdampak pada kinerja perbankan, terutama dari sisi permintaan kredit.

“Kita lihat ke depannya seperti apa. Jadi, jika kita lihat situasi, ya normal-normal saja. Menurut saya, jika ada performa tahun atau bulan ini turun sedikit, kemudian naik lagi, that’s banking business,” jelasnya.

OJK Optimistis Kinerja Himbara Pulih

Lebih lanjut Dian meyakini kinerja bank BUMN akan kembali membaik saat peluang muncul dan kondisi pasar membaik. Menurutnya, bank-bank BUMN memiliki pengawasan ketat dan ekspektasi tinggi dari pemilik, sehingga target kinerja lebih terjaga.

Baca juga: Respons BRI soal Perpanjangan Dana SAL Pemerintah di Himbara

Selain itu, kesepakatan dagang antara Indonesia-Amerika Serikat melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) diharapkan memberi stimulus bagi perdagangan nasional dan berdampak positif pada sektor perbankan.

“Misalnya nanti apakah hasil perjanjian dengan AS soal tarif dan lainnya lalu bisa berdampak signifikan atau tidak, dalam memicu ekspor ke AS. Kita lihat perkembangannya,” pungkas Dian. (*) Steven Widjaja

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

3 hours ago

Penyelundupan BBM Subsidi Marak, DPR Desak Pengawasan Diperketat

Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More

9 hours ago

Grab Luncurkan 13 Fitur Baru Berbasis AI, Apa Saja?

Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More

9 hours ago

Indonesia SIPF Siapkan Consultation Paper, Ini Tujuannya

Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More

9 hours ago

BI Sinyalkan Ruang Penurunan BI Rate Kian Sempit, Dampak Konflik Timur Tengah

Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More

9 hours ago

Lo Kheng Hong Borong Saham Intiland dan Gajah Tunggal, Ini Profilnya

Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More

9 hours ago