HRTA bakal ekspansi buka toko di luar Pulau Jawa. (Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) membukukan pendapatan sebesar Rp44,55 triliun sepanjang 2025, tumbuh 144,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp18,23 triliun pada 2024.
Seiring kinerja tersebut, laba bersih Perseroan meningkat signifikan menjadi Rp978,49 miliar pada akhir 2025, atau tumbuh 121,29 persen yoy dari Rp442,18 miliar pada tahun sebelumnya.
Selain itu, profitabilitas HRTA turut menguat. Return on Assets (ROA) tercatat sebesar 7,76 persen dan Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 30,29 persen. Sementara itu, rasio utang berbunga terhadap ekuitas tetap stabil di level 1,39x.
Baca juga: HRTA Sebut Permintaan Emas Tetap Tinggi Meski Harga Bergejolak, Ini Alasannya
Dari sisi kontribusi segmen usaha, penjualan didominasi oleh segmen grosir sebesar 87,57 persen, termasuk kontribusi dari bullion bank sebesar 71,22 persen, diikuti oleh segmen ritel sebesar 11,68 persen, dan gadai sebesar 0,32 persen.
Direktur Utama HRTA, Sandra Sunanto, mengungkapkan bahwa kinerja Perseroan hingga akhir 2025 menunjukkan hasil yang sangat positif, didukung oleh peningkatan volume penjualan, penguatan harga emas, serta kontribusi yang semakin solid dari segmen institusi seperti Bullion Bank dan jaringan ritel Perseroan.
Selain itu, HRTA saat ini juga sedang dalam tahap finalisasi proses sertifikasi LBMA (London Bullion Market Association), sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk memenuhi standar kualitas dan tata kelola yang diakui secara global.
“Kami akan terus fokus pada penguatan ekosistem emas terintegrasi, penguatan ekuitas merek, optimalisasi jaringan distribusi, serta inovasi produk untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan sebagai salah satu pelaku utama di industri emas nasional dan bullion bank,” ucap Sandra dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, 27 Maret 2026.
Baca juga: Airlangga Ungkap Nasabah Bullion Bank Tembus 5,7 Juta
Adapun secara fundamental prospek jangka panjang emas tetap positif di tengah ketegangan geopolitik, di mana konsensus analis global masih memperkirakan kenaikan harga emas pada 2026.
Kenaikan itu didukung oleh tren pembelian emas oleh bank sentral, ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, serta potensi penurunan suku bunga ke depan.
Estimasi rata-rata harga emas berada di kisaran USD4.700 per troy ons menurut survei Reuters, dengan skenario yang lebih bullish mencapai USD5.000 oleh JP Morgan, hingga di atas USD6.000 oleh UBS AG, yang semakin menekankan peran emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting OJK menghormati putusan KPPU yang menjatuhkan sanksi kepada 97 pindar atas pelanggaran persaingan… Read More
Poin Penting SAL dinilai penting sebagai bantalan APBN untuk mengantisipasi pelebaran defisit akibat lonjakan subsidi… Read More
Poin Penting Pelaporan lapor SPT Tahun Pajak 2025 baru mencapai 9,13 juta hingga 26 Maret… Read More
Poin Penting Prabowo menginstruksikan pembangunan hunian layak bagi warga yang tinggal di pinggir rel usai… Read More
Poin Penting AFPI ajukan banding atas putusan KPPU yang menjatuhkan denda total Rp755 miliar kepada… Read More
Poin Penting: Bahlil mengimbau masyarakat menggunakan LPG secara bijak dan tidak boros saat memasak. Bahlil… Read More