Keuangan

Ketua Umum DAI Imbau Industri Asuransi Sesuaikan Produk dengan Kebutuhan Masyarakat

Poin Penting

  • DAI menilai produk asuransi perlu bertransformasi dari sekadar produk menjadi solusi berbasis kebutuhan masyarakat.
  • Industri asuransi didorong terlibat dalam proyek strategis nasional dan peningkatan literasi keuangan.
  • Aset industri asuransi per Desember 2025 tumbuh 5,95% secara tahunan.

Jakarta – Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menilai industri asuransi perlu melakukan penyesuaian produk agar tidak sekadar menawarkan perlindungan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan masyarakat.

“Kita harus relevan dan kita provide solution, jadi kita solution based transaction it’s not just product based transaction bukan cuma produk yang kita siapkan tetapi kita tahu apa yang dibutuhkan dan kita provide solution,” kata Yulius dalam Avrist Group Financial Forum di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.

Menurut Yulius, pendekatan berbasis solusi menjadi kunci agar industri asuransi tetap relevan di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah.

Baca juga: Outlook 2026: Akankah Belanja Konsumen Tetap Kuat? Perspektif Industri Asuransi Indonesia

Yulius menyebut industri asuransi memiliki peluang untuk terlibat dalam berbagai proyek strategis nasional yang diinisiasi pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), proyek tiga juta rumah, hingga penerapan asuransi wajib third party liability (TPL).

Ia menilai keterlibatan tersebut tidak hanya memperluas peran industri asuransi, tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional.

Literasi dan Inklusi Asuransi Meningkat Tajam

Selain penyesuaian produk, Yulius menegaskan pentingnya peran industri asuransi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Ia meyakini peningkatan pemahaman risiko akan mendorong penggunaan produk asuransi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

“Inklusi dan literasi asuransi luar biasa gitu ya di tahun 2024 ini tercatat literasi perasuransian itu jadi 36,9 persen inklusinya jadi 12,21 persen itu 2024 di 2025 baru kita tutup di tahun lalu literasinya 45,45 persen hampir 50 persen sekarang terus inklusinya menjadi 28,5 persen ini loncatannya luar biasa,” imbuhnya.

Baca juga: POJK 28/2025: Ujian Nyata Tata Kelola Risiko Industri Asuransi Indonesia

Aset Asuransi Tumbuh, Premi Masih Tertekan

Yulius menegaskan industri asuransi perlu terus melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat untuk memetakan kebutuhan perlindungan yang relevan dan dapat diterjemahkan ke dalam produk asuransi.

Sebagai informasi, aset industri asuransi pada Desember 2025 mencapai Rp1.201,33 triliun atau tumbuh 5,95 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan posisi Desember 2024 sebesar Rp1.133,87 triliun.

Baca juga: Modal Kuat dan Spin Off, OJK Optimistis Premi Asuransi Tumbuh

Dari sisi asuransi komersial, total aset tercatat Rp981,05 triliun atau naik 7,42 persen yoy. Sementara itu, akumulasi pendapatan premi asuransi komersial hingga Desember 2025 mencapai Rp331,72 triliun atau terkontraksi 1,46 persen yoy.

Kontraksi tersebut berasal dari premi asuransi jiwa yang turun 3,81 persen yoy menjadi Rp180,98 triliun. Adapun premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 1,51 persen yoy dengan nilai Rp150,74 triliun. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

ASLC Kantongi Pendapatan Rp1 Triliun di 2025, Tumbuh 14,5 Persen

Jakarta - PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) mengantongi pendapatan Rp1 triliun di sepanjang 2025… Read More

9 hours ago

Emiten Prajogo Pangestu (BREN) Bukukan Pendapatan USD605 Juta Sepanjang 2025

Poin Penting BREN mencatat pendapatan USD605 juta pada 2025, naik 1,4 persen yoy, ditopang kinerja… Read More

15 hours ago

Begini Jurus Maybank Indonesia Pacu Bisnis SME

Poin Penting Maybank Indonesia memperkuat pembiayaan SME dengan strategi Shariah First, menjadikan segmen syariah sebagai… Read More

15 hours ago

Waspada! OJK Ingat Risiko Pertukaran Data RI-AS

Poin Penting OJK menegaskan kebijakan pemrosesan data lintas batas dalam perjanjian dagang RI–AS harus tetap… Read More

2 days ago

Menhub Dudy Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik Lebaran 2026

Poin Penting Puncak arus balik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 24, 28, dan 29 Maret,… Read More

2 days ago

PLN Siapkan SPKLU Center di Sepanjang Trans Jawa dan Titik Strategis

Poin Penting PLN siagakan SPKLU untuk mudik Lebaran 2026: Infrastruktur pengisian kendaraan listrik diperkuat, termasuk… Read More

2 days ago