Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara dalam Avrist Group Financial Forum di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026. (Foto: Khoirifa)
Poin Penting
Jakarta – Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI) Yulius Bhayangkara menilai industri asuransi perlu melakukan penyesuaian produk agar tidak sekadar menawarkan perlindungan, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan permasalahan masyarakat.
“Kita harus relevan dan kita provide solution, jadi kita solution based transaction it’s not just product based transaction bukan cuma produk yang kita siapkan tetapi kita tahu apa yang dibutuhkan dan kita provide solution,” kata Yulius dalam Avrist Group Financial Forum di Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026.
Menurut Yulius, pendekatan berbasis solusi menjadi kunci agar industri asuransi tetap relevan di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah.
Baca juga: Outlook 2026: Akankah Belanja Konsumen Tetap Kuat? Perspektif Industri Asuransi Indonesia
Yulius menyebut industri asuransi memiliki peluang untuk terlibat dalam berbagai proyek strategis nasional yang diinisiasi pemerintah, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), proyek tiga juta rumah, hingga penerapan asuransi wajib third party liability (TPL).
Ia menilai keterlibatan tersebut tidak hanya memperluas peran industri asuransi, tetapi juga memperkuat kontribusinya terhadap pembangunan nasional.
Selain penyesuaian produk, Yulius menegaskan pentingnya peran industri asuransi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Ia meyakini peningkatan pemahaman risiko akan mendorong penggunaan produk asuransi dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Inklusi dan literasi asuransi luar biasa gitu ya di tahun 2024 ini tercatat literasi perasuransian itu jadi 36,9 persen inklusinya jadi 12,21 persen itu 2024 di 2025 baru kita tutup di tahun lalu literasinya 45,45 persen hampir 50 persen sekarang terus inklusinya menjadi 28,5 persen ini loncatannya luar biasa,” imbuhnya.
Baca juga: POJK 28/2025: Ujian Nyata Tata Kelola Risiko Industri Asuransi Indonesia
Yulius menegaskan industri asuransi perlu terus melakukan pendekatan langsung kepada masyarakat untuk memetakan kebutuhan perlindungan yang relevan dan dapat diterjemahkan ke dalam produk asuransi.
Sebagai informasi, aset industri asuransi pada Desember 2025 mencapai Rp1.201,33 triliun atau tumbuh 5,95 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan posisi Desember 2024 sebesar Rp1.133,87 triliun.
Baca juga: Modal Kuat dan Spin Off, OJK Optimistis Premi Asuransi Tumbuh
Dari sisi asuransi komersial, total aset tercatat Rp981,05 triliun atau naik 7,42 persen yoy. Sementara itu, akumulasi pendapatan premi asuransi komersial hingga Desember 2025 mencapai Rp331,72 triliun atau terkontraksi 1,46 persen yoy.
Kontraksi tersebut berasal dari premi asuransi jiwa yang turun 3,81 persen yoy menjadi Rp180,98 triliun. Adapun premi asuransi umum dan reasuransi tumbuh 1,51 persen yoy dengan nilai Rp150,74 triliun. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) akan menerbitkan obligasi Rp8–Rp10 triliun sepanjang 2026… Read More
Generali Indonesia resmi luncurkan GEN Syariah Perlindungan Aman, yang merupakan produk perlindungan jiwa berbasis syariah… Read More
Poin Penting GEN Syariah Perlindungan Aman menawarkan santunan jiwa yang bertumbuh hingga 250 persen serta… Read More
Poin Penting Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi tetap meski konflik Amerika Serikat–Israel dan Iran… Read More
Poin Penting Momentum libur panjang mendorong lonjakan transaksi digital, terutama pembelian tiket, hotel, dan ritel,… Read More
Poin Penting OJK memetakan tiga risiko konflik AS-Israel vs Iran: lonjakan harga minyak, kenaikan inflasi… Read More