Ketua KPK Setyo Budiyanto dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/1/2026). (Tangkapan layar YouTube TVR Parlemen: Julian)
Poin Penting
Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Setyo Budiyanto menilai tantangan utama lembaga antirasuah saat ini bukan terletak pada proses penanganan perkara, melainkan pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
Dalam rapat kerja bersama Komisi III DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (28/1), Setyo menyampaikan bahwa jumlah personel KPK belum ideal untuk menjangkau kebutuhan penindakan dan pencegahan secara optimal.
“Urusan penanganan perkara, dari sisi kendala, kami pastikan bahwa secara umum tidak ada. Namun, dari sisi sumber daya manusia, keterbatasannya pasti ada, jumlahnya tidak maksimal,” katanya, dikutip ANTARA, Rabu, 28 Januari 2026.
Baca juga: Modus Korupsi Makin Canggih, Ketua KPK Ungkap Perubahan Pola OTT
Setyo juga mengusulkan penguatan kehadiran KPK di daerah, khususnya di Indonesia bagian timur. Menurutnya, keberadaan kantor di wilayah atau provinsi tertentu akan mempercepat koordinasi dengan pemerintah daerah dan meningkatkan efektivitas pengawasan.
“Rentang kendalinya, jarak dan waktunya juga semakin bisa efisien dan efektivitas,” imbuhnya.
Selain jumlah SDM, Setyo mengungkapkan adanya ketimpangan sistem penggajian antara pegawai lama dan pegawai baru di lingkungan KPK. Ia menyebut persoalan tersebut telah dikomunikasikan dengan Kementerian Keuangan.
“Mudah-mudahan untuk 2026 ini tidak ada lagi disparitas antara pegawai lama dengan pegawai baru sehingga bisa memotivasi,” ujarnya.
Baca juga: Bupati Pati Sudewo Terjaring OTT KPK, Uang Miliaran Rupiah Ikut Disita
Dalam forum yang sama, Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menyoroti keterbatasan alat penunjang penindakan, khususnya dalam operasi tangkap tangan (OTT). Menurutnya, teknologi yang digunakan KPK saat ini belum memadai.
“(Alat) kurang canggih. Jadi, ini sudah tidak up to date lagi. Jadi, kalau anggota Komisi III kasih anggaran besar untuk beli alat, barangkali OTT lebih masif gitu,” ujarnya.
Page: 1 2
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More
Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More
Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More
Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More
Poin Penting Kontribusi segmen wholesale mencapai sekitar 64 persen dari total portofolio kredit 2025 dan… Read More
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More