Perbankan

Kerap jadi Sasaran Serangan Siber, BCA Perkuat Keamanan Berlapis

Jakarta – Serangan siber kerap mengancam sektor perbankan di Tanah Air. Salah satunya menyasar PT Bank Central Asia Tbk atau BCA . Bank big caps ini kerap menerima serangan dalam bentuk DDoS dan malware yang mencoba masuk ke sistem keamanan perseroan.

“Sebenarnya yang sering menyerang BCA adalah DDoS. Ini merupakan pola terhadap traffic-traffic dari luar yang mencoba memenuhi sistem kita. Kalau sistem kita penuh, otomatis customer asli tidak bisa masuk. Nah itu yang sering,” kata David Formula, EVP Group Strategic IT BCA, di Tangerang, Sabtu, 22 Februari 2025.

Diakuinya, BCA sendiri pernah mengalami satu serangan siber paling besar di Indonesia yang berasal dari traffic tersebut. Beruntung, sistem keamanan BBCA ini tetap stabil.

Baca juga : Penyaluran Kredit UMKM BCA Tembus Rp123,8 T Sepanjang 2024, Naik 14,8 Persen

“Sampai sekarang tidak kejadian. Karena kita sudah melakukan  perhitungan karena customer kita kan 30-32 juta. Dari jumlah tersebut, transaksi per harinya sudah kita hitung rata-rata sekitar 180 juta per hari,” katanya.

Lanjutnya, dari 180 juta transaksi per hari tersebut, BCA melakukan melakukan kalkulasi capacity planing. Sekiranya, apabila ada serangan siber yang masuk akan menyebabkan sistem perseroan overload di angka berapa.

“Begitu kita udah tahu, kita akan menaikkan sistem kita. Jadi sampai sekarang belum ada serangan hacker. Jadi kita aman,” jelasnya.

Meski begitu, ia menyebut tren serangan siber yang menyasar BCA dari tahun ke tahun meningkat. Pada 2023 misalnya, ada 1,9 miliar serangan. Jumlah nya pun kian naik bisa tembus Rp3,9 miliar.

Baca juga : Serangan Siber Berbasis AI Diprediksi Makin Masif, Fortinet Ingatkan Hal Ini

Serangan siber selanjutnya yang menyerang BCA, kata dia, yakni malware. Menurutnya, malware ini berusaha masuk ke sistem BCA. 

“Namun, dengan penjagaan ketat kita, ada tier 1, tier 2, tier 3 dan juga ada firewall, IDS, IPS itu kita semua lakukan. Jadi kita mengikuti beberapa standar dari regulator dan standar internasional seperi ISO dan lain-lain. Dari standar-standar itulah sistem keamanan kita bisa dijaga lebih aman lagi,” tandasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

2 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

3 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

3 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

4 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

5 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

6 hours ago