Jakarta–Kondisi ekonomi Indonesia tahun depan masih diprediksi beberapa kalangan penuh ketidakpastian. Hal ini seiring kondisi ekonomi global yang belum membaik dalam beberapa tahun terakhir.
Bahkan Menteri PPN/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, sejauh ini dirinya masih melihat ada berbagai risiko yang bisa menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan, salah satunya dari Tiongkok dan AS.
”Risiko eksternal itu Tiongkok dan AS, dimana Tiongkok menjadi concern kita, partner dagang, besarnya utang Tiongkok menjadi risiko,” tutur Bambang di Jakarta, Kamis, 15 Desember 2016.
Sementara risiko dari negeri Paman Sam, kata Bambang, bukan semata-mata terpilihnya Donald Trump menjadi Presiden AS, tetapi Partai pengusungnya yakni Republik menjadi pemimpin lagi dan menimbulkan ketidakpastian. (Bersambung ke halaman berikutnya)
Kemudian dari dalam negeri, terjadi perlambatan investasi swasta yang terlihat dari rendahnya pertumbuhan kredit perbankan 2016 dan diperkirakan masih akan berlanjut pada tahun depan.
“Kalau swasta belum mampu dorong pertumbuhan ekonomi, maka pemerintah harus menjadi pendorong, penerapan anggaran yang optimal bisa mendorong ekonomi kita,” ujar Bambang.
Bank Indonesia sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi 2017 akan berada pada kisaran 5% hingga 5,4%, dimana penopangnya dari permintaan domestik. (*)
(Baca juga: Prospek Perekonomian Indonesia Masih Menjanjikan)
Editor: Paulus Yoga


