Keniscayaan Transformasi Digital di Era New Normal

Keniscayaan Transformasi Digital di Era New Normal

Transformasi Digital
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Perubahan perilaku masyarakat sebelum dan selama masa pandemi terlihat sangat signifikan. Beragam aktivitas yang biasa dilakukan sebelum pandemi seperti bersekolah, bekerja, bersosialisasi hingga berbelanja berubah menjadi kegiatan yang dilakukan secara daring.

Kondisi tersebut memaksa pelaku bisnis melakukan transformasi digital lebih cepat, serta mendorong berbagai sektor industri turut berubah dan beradaptasi. Sehingga diharapkan dapat mengatasi tantangan dalam fase pemulihan pascapandemi.

Digitalisasi sendiri saat ini dinilai sangat menjanjikan, karena dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah yang memberikan peluang untuk berkembang, bahkan melompat.

President & CEO NEC Asia-Pacific, Koichiro Koide mengungkapkan pertumbuhan ekonomi digital di ASEAN sangat signifikan jika dilihat sejak awal munculnya covid 19. Di mana pada 2020 ekonomi digital tercatat tumbuh 18,2%, sementara di 2021 sudah tumbuh 48,7%. Hal tersebut menjadi bukti bahwa ekonomi digital di ASEAN membuat lompatan yang sangat besar karena berubahnya gaya hidup masyarakat.

“Lebih dari yang kami duga, masyarakat ASEAN sudah lebih mengadopsi kehidupan digital. Kita perlu mengejar fase ini tanpa penundaan,” ujar Koichiro Koide dalam acara NEC Visionary Day ASEAN 2022 Kamis, 10 Maret 2022.

NEC Visionary Day ASEAN 2022 menjadi ajang bertemunya para pemimpin perusahaan dari berbagai sektor publik dan swasta di kawasan ASEAN. Forum ini membahas tantangan, tren, dan peluang dalam organisasi yang bertransformasi secara digital, serta strategi yang dapat diadopsi dalam mendukung pemulihan ekonomi di kawasan ASEAN.

Dalam event ini berbagai tokoh sepakat, bahwa pentingnya transformasi digital demi mengatasi tantangan dan mempercepat proses pemulihan ekonomi.

Deputy President Director BCA, Armand Wahyudi Hartono juga mengakui, bahwa transaksi digital telah meningkat secara eksponensial selama pandemi. BCA sendiri, lanjutnya, telah mengalami pertumbuhan cukup cepat selama pandemi, mulai dari pertumbuhan jumlah pelanggan, hingga transaksi nasabah yang meningkat lebih dari tiga kali lipat.

“Tujuan kami selalu membuat segalanya lebih baik, lebih murah, lebih cepat, dan lebih aman di lingkungan apa pun, dalam situasi apa pun,” terang Armand.

Pertumbuhan ini, tidak lepas dari upaya perusahaan yang selalu menerapkan transformasi secara berkelanjutan. Khususnya dalam membentuk sebuah ekosistem di dalam aplikasi.

“Anda melihat bahwa kami telah berevolusi. Dan untuk memastikan bahwa pelanggan kami melakukan transaksi yang nyaman dan aman dalam ekosistem kami, kami membutuhkan teknologi. Kami membutuhkan proses, kami perlu mengubah cara kami bekerja, teknologi apa yang kami gunakan, dan bagaimana kami menggunakan teknologi tersebut,” jelasnya.

Transformasi digital sendiri tidak hanya terjadi pada sektor keuangan saja, melainkan juga ke berbagai sektor. Bahkan group yang berdedikasi untuk melestarikan satwa liar dan melindungi hewan, seperti Mandai Wildlife juga melakukan transformasi digital, untuk bisa bertahan.

Chief Strategy & Innovation Officer, Mandai Wildlife Group, Belina Lee mengatakan, untuk melakukan transformasi tidaklah mudah. Namun, karena adanya dorongan di tengah pandemi covid 19, transformasi digital menjadi nyata. Salah satu bentuk tranformasi digital yang dilakukan pihaknya yakni membuat aplikasi pembuatan konten kebun binatang.

“Kami sebenarnya memiliki prioritas utama yaitu untuk melestarikan pekerjaan, untuk terus memastikan perawatan hewan di suaka margasatwa dan kami memiliki hampir seribu spesies yang 30% terancam punah. Melalui teknologi, kami menggunakannya untuk mendorong triple bottom line dari tujuan planet, tujuan orang, dan tujuan kinerja,” ujar Belina Lee.

Era New Normal

Setelah serangkaian lockdown, pembatasan ketat, hingga vaksinasi dunia memasuki era normal baru. Semua sektor bisnis pun mulai bangkit kembali.

Tanda-tanda perbaikan ekonomi di era new normal telah terlihat. Hal ini tidak lepas dari peran digitalisasi dalam mempercepat proses pemulihan ekonomi.

Berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia tahun 2021 tumbuh sebesar 3,69 persen, lebih tinggi dibanding capaian tahun 2020 yang mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07 persen.

Lalu apakah hanya sampai di situ? Bagaimana dengan ekonomi digital pasca berakhirnya pandemi, dan apa yang perlu dilakukan industri dalam mempercepat proses pemulihan?

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pernah mengungkapkan, bahwa ekonomi digital adalah kekuatan ekonomi baru.

Transaksi ekonomi digital Indonesia diproyeksikannya mencapai USD124 Milliar pada tahun 2025. Dari besarnya potensi tersebut, pelaku usaha, ilmuwan, peneliti, pelajar dan seluruh stakeholder pengembangan ekonomi digital diharapkan mampu memanfaatkan peluang untuk mengembangkan digitalisasi lebih luas.

Kerja sama atau sinergi antar-perusahaan jadi keniscayaan mendorong potensi pertumbuhan ekonomi ke depan. Contoh sinergi digitalisasi yang telah dilakukan belum lama ini yakni sinergi antara PT AEON Mall Indonesia dengan NEC Indonesia.

AEON Mall Indonesia berencana membentuk kembali masa depan pusat perbelanjaan yang sempat meredup di kala hadirnya pandemi covid 19.

President Director AEON Mall Indonesia, Daisuke Isobe, bercerita wabah global covid 19 memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap pendapatan operasional perusahaan. Pandemi telah menyebabkan pihaknya menutup mal dan mempersingkat jam kerja untuk sementara.

Kondisi tersebut, membuat pihaknya kehilangan banyak peluang bisnis, seiring menurunnya lalu lintas pelanggan yang menahan diri untuk tidak bepergian ke luar rumah.

“Karena penyewa kami tutup dan kami harus mengurangi atau membebaskan sewa selama periode penutupan, kami mencatat pendapatan yang lebih rendah. Pada tanggal 15 Juni 2020, kami membuka kembali operasi toko khusus dari mal-mal kami yang ada yang telah ditutup sementara sejak 31 Maret, karena pembatasan sosial pemerintah skala besar terkait dengan penyebaran COVID-19. Namun, dengan peningkatan pasien yang terinfeksi yang terus bertambah di Indonesia, kondisinya menantang, dan lalu lintas pelanggan menurun 50%,” terang Daisuke Isobe.

Kini di era new normal, AEON Mall Indonesia mulai bangkit dengan memperkenalkan konsep baru belanja nir-sentuh bagi pengguna aplikasi AEON MALL Mobile. Melalui aplikasi tersebut, pengunjung dapat memesan makanan, menggunakan e-voucher dan mengakses layanan Beacon berbasis lokasi di seluruh AEON Mall di Indonesia.

“Di era normal baru ini, kami melihat peluang bagus untuk menemukan kembali model bisnis kami dengan menawarkan konsep mal baru dan fungsi layanan. Kami akan bekerja untuk membuat mal yang merespon perubahan sosial. Selain itu, kami memaksimalkan protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran Covid-19 dengan memanfaatkan teknologi terkini untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang nyaman dan lancar,” papar Daisuke.

Untuk AEON Mall Tanjung Barat, NEC Indonesia menyediakan sistem pemesanan daring cerdas yang terintegrasi penuh, yang didukung oleh Integrated E-Money Solution (IEMS) dan teknologi POS (Point of Sales) untuk food court. Sistem ini telah meningkatkan tingkat kenyamanan, efisiensi, dan keamanan transaksi daring sekaligus memungkinkan operator mal mengatur transaksi keuangan dengan lebih baik.

Presiden Direktur NEC Indonesia, Joji Yamamoto menambahkan, seiring dengan makin maraknya pusat-pusat perbelanjaan yang mulai dibuka kembali, diperlukan adanya penyesuaian pada sistem dan proses berbelanja agar selaras dengan pedoman yang ditetapkan oleh pemerintah untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Fokus pada aspek-aspek keselamatan, kebersihan, dan lingkungan belanja yang menjaga jarak fisik akan menjadi masa depan ritel.

“NEC siap mendukung AEON Mall dengan solusi ritel cerdas terintegrasi yang mencakup pemberdayaan digitalisasi, inisiatif online, jarak jauh, dan tanpa sentuhan. NEC menghargai visi AEON Mall Indonesia untuk memberikan pengalaman berbelanja yang lancar bagi pelanggan mereka. Misalnya, solusi mutakhir kami melengkapi dengan sempurna sistem pemesanan food court online di aplikasi seluler berbasis AI AEON,” terang Joji.

NEC sendiri menyediakan sistem pemesanan daring di food court yang serba guna dan canggih. Sistem POS yang digunakan berkinerja tinggi, hemat energi serta mudah dirawat dengan desain penggantian komponen tanpa alat yang ringkas dan elegan.

Selain itu, IEMS adalah sistem uang elektronik prabayar, sehingga mengurangi biaya implementasi dan waktu penerapan. Sistem ini akan mengurangi antrean di kasir yang dapat meningkatkan penjualan per pelanggan dan diharapkan dapat meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan untuk mau datang kembali dan berbelanja di sana. Sistem tersebut juga akan membantu mendorong promosi yang efektif melalui aplikasi seluler. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]