Keuangan

Kenaikan PPN 12 Persen Bikin Pendapatan Industri Asuransi Umum Tergerus

Jakarta – Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen pada 2025 diperkirakan akan memberikan tekanan besar terhadap industri asuransi umum di Indonesia.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak signifikan kebijakan ini, terutama pada penurunan revenue dan peningkatan beban operasional perusahaan asuransi.

Menurut Budi, kenaikan tarif PPN dari 11 persen ke 12 persen terlihat kecil secara nominal, namun dalam implementasinya akan berdampak besar terhadap neraca keuangan perusahaan.

“Hitungannya kurang lebih di angka 8 persen jika kita lihat dampaknya secara keseluruhan. Ini tentu akan menggerus tingkat profit perusahaan asuransi,” ujarnya dalam acara Konferensi Pers Kinerja AAUI Kuartal III 2024 di Jakarta, Selasa (3/12).

Baca juga: Dua Lini Usaha Ini jadi Penopang Kinerja Asuransi Umum di Kuartal III 2024

Selain itu, beban panjang dari kenaikan ini akan semakin berat tanpa adanya relaksasi kebijakan. Kenaikan PPN otomatis meningkatkan biaya bagi konsumen, sehingga berpotensi menurunkan minat masyarakat untuk membeli atau memperpanjang polis asuransi.

Dalam kondisi saat ini, di mana daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Hal ini menjadi ancaman serius bagi industri asuransi umum yang bergantung pada stabilitas dan pertumbuhan premi.

“Banyak sektor dalam asuransi umum yang terkena dampak langsung dari kenaikan ini,” ungkap Budi.

Ia menambahkan bahwa situasi ini akan memperparah tantangan yang dihadapi perusahaan asuransi umum, terutama jika tidak ada perpanjangan waktu implementasi kebijakan. Industri asuransi umum saat ini tengah berupaya bangkit dari tantangan pandemi dan melewati fluktuasi ekonomi global. Dengan beban tambahan berupa kenaikan PPN, Budi meyakini tahun 2025 akan menjadi tahun yang berat bagi pelaku industri asuransi jika tidak ada langkah antisipasi yang memadai.

Baca juga: Tumbuh 14,5 Persen, Premi Industri Asuransi Umum Tembus Rp79,6 T di Kuartal III 2024

“Kalau sampai nanti tidak ada relaksasi perpanjangan waktu, saya yakin industri kita juga akan berat menghadapi tahun 2025,” imbuh Budi.

AAUI pun berharap pemerintah dapat memberikan relaksasi atau mempertimbangkan kebijakan transisi yang lebih fleksibel. Langkah ini diharapkan mampu memberikan waktu bagi industri asuransi untuk beradaptasi dengan kenaikan PPN, sembari tetap menjaga daya beli masyarakat terhadap produk asuransi.(*) Alfi Salima Puteri

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Sambut Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri, Bank Raya Imbau Masyarakat Cermat Bertransaksi

Poin Penting Bank Raya memastikan layanan digital tetap optimal selama libur Hari Raya Nyepi 2026… Read More

16 mins ago

Askrindo Berangkatkan 500 Peserta Mudik Gratis BUMN 2026 dengan Perlindungan Asuransi

Poin Penting PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) memberangkatkan 500 peserta dalam Program Mudik Gratis BUMN… Read More

42 mins ago

Setahun Danantara Indonesia, Bank Mandiri Tegaskan Dukungan bagi Pemerataan Pendidikan

Poin Penting Danantara Indonesia genap satu tahun, fokus memperkuat tata kelola dan fondasi pengelolaan aset… Read More

1 hour ago

Resmi! Turis Jepang Kini Bisa Bayar Pakai QRIS di Indonesia, Tak Perlu Tukar Uang

Poin Penting Warga Jepang kini bisa menggunakan QRIS untuk bertransaksi di Indonesia setelah izin QRIS… Read More

2 hours ago

Nasib Rupiah setelah Libur Lebaran di Tengah Perang dan Fiskal yang Bak di Tepi Jurang

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group LIBUR Lebaran tahun ini mungkin terasa… Read More

8 hours ago

Biar Nggak Tekor, Ini Cara Atur THR dan Jaga Kesehatan saat Lebaran

Poin Penting THR menjadi momentum menata keuangan, mulai dari kewajiban, utang, tabungan, hingga perlindungan finansial.… Read More

16 hours ago