Analisis

Kenaikan Harga Jual INTP Dinilai Salah Momentum

Jakarta – Rencana PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) untuk meningkatkan harga jual pasca Lebaran tahun ini dinilai salah momentum.

Pasalnya, selain karena pasokan industri semen saat ini sesang berlebih, persaingan di industri ini semakin ketat, seiring banyaknya pemain masuk.

“Mereka timingnya tidak pas untuk menaikkan harga jual. Karena dengan pasokan yang berlimpah, harga justru akan tertekan. Mana mau konsumen beli dengan harga lebih mahal, meski hanya satu sampai dua persen, sedangkan produk di pasar berlimpah,” ujar pengamat pasar modal dari Binaartha Sekuritas, Reza Priyambada, saat dihubungi wartawan, Selasa, 27 Juni 2018.

Sebagaimana diketahui, seiring dengan kelebihan pasokan yang terjadi, INTP justru berencana untuk menaikkan harga jualnya demi dapat mendongkrak marjin yang didapat.

Rencananya, kenaikan harga yang bakal diterapkan berkisar antara satu sampai dua persen dan bakal mulai diujicoba setelah momen Lebaran 2018.

“Di sepanjang triwulan I/2018 biaya produksi kami telah mengalami kenaikan 11 persen dibanding periode sama tahun lalu, sementara harga jual justru melemah lebih dari tujuh persen. Karena itu setelah Lebaran ini kami akan coba tes pasar untuk kenaikan harga untuk memperbaiki marjin,” ujar Direktur Utama INTP, Christian Kartawijaya, dalam kesempatan terpisah.

Terkait alasan yang dikemukakan Christian, Reza pun menyampaikan bantahannya. Dalam kondisi pasar yang tertekan akibat kelebihan pasokan seperti saat ini, menurut Reza yang perlu dilakukan bukanlah menaikkan harga jual melainkan mendongkrak penjualan dengan cara memperbanyak jaringan penjualan di level pengecer.

Jika hal itu bisa dilakukan, maka dengan sendirinya marjin perusahaan bakal bisa terdongkrak dengan sendirinya.

“Kalau memang penjualan secara bulk sedang jelek karena proyek-proyek infrastruktur atau properti juga sedang lesu, ya penjualan ecerannya dong yang digalakkan. Di level eceran kan ketika orang mau bangun atau renovasi rumah, nggak ada istilah hold dulu. Mereka akan tetap belanja. Makanya di level pengecernya ini yang perlu diperbanyak, bukannya dengan menaikkan harga jual,” tegas Reza.

Kinerja Saham

Kinerja saham INTP sendiri tahun ini sangat menghawatirkan. Bagaimana tidak, sampai dengan Kamis, 27 Juni 2018 saham INTP sudah anjlok hingga 40,97% ke Rp13.575 dari awal tahun. Sebelumnya di awal tahun saham perusahaan berada di Rp23.000.

Hari ini saja saham INTP sudah anjlok Rp725 atau 5,07% ke Rp13.575. Saham INTP ditransaksikan sebanyak 3.953 kali dengan volume 46.305 lot senilai Rp63,26 miliar.

Jika strategi menaikan nilai jual produk salah atau tidak tepat, sehingga ditinggalkan konsumen. Bukan tidak mungkin kinerja perusahaan justru tertekan. Ujung-ujungnya kinerja sahampun bisa semakin buruk. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

3 hours ago

Asuransi Kesehatan Kian Menguat, OJK Catat 21 Juta Polis

Poin Penting OJK mencatat jumlah polis asuransi kesehatan mencapai sekitar 21 juta, sebagai bagian dari… Read More

3 hours ago

OJK Soroti Indikasi Proyek Fiktif di Fintech Lending, Minta Penguatan Tata Kelola

Poin Penting OJK menyoroti indikasi proyek fiktif di fintech lending dan menegaskan praktik fraud akan… Read More

4 hours ago

Risiko Banjir Meningkat, MPMInsurance Perkuat Proteksi Aset

Poin Penting Risiko banjir dan bencana meningkat, mendorong pentingnya proteksi aset sejak dini melalui asuransi… Read More

4 hours ago

OJK Targetkan Aset Asuransi Tumbuh hingga 7 Persen di 2026

Poin Penting OJK menargetkan aset asuransi tumbuh 5-7 persen pada 2026, seiring optimisme kinerja sektor… Read More

4 hours ago

OJK Targetkan Kredit Perbankan Tumbuh hingga 12 Persen di 2026

Poin Penting OJK memproyeksikan kredit perbankan 2026 tumbuh 10–12 persen, lebih tinggi dibanding target 2025… Read More

5 hours ago