Moneter dan Fiskal

Kelas Menengah Perlu Didorong Tingkatkan Ekonomi RI

Jakarta – Berdasarkan laporan baru dari Bank Dunia (World Bank) mengenai kelas menengah di Asia Timur dan Indonesia menyebutkan, bahwa memperluas kelas menengah di Indonesia diyakini dapat membantu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperluas kesejahteraan.

Dalam laporannya itu menunjukkan, setelah menurunnya tingkat kemiskinan secara signifikan di Indonesia dalam dua dekade terakhir, saat ini satu dari lima orang Indonesia masuk dalam kelompok kelas menengah. Sementara itu, 45 persen penduduk lainnya merupakan kelompok yang ingin menjadi kelas menengah.

“Mereka tidak lagi miskin atau rentan jatuh miskin. Anggota dari kelas beraspirasi ini belum mencapai tingkat kemapanan ekonomi dan belum memiliki gaya hidup kelas menengah,” ujar Country Director Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo A. Chaves, dalam keterangannya, di Jakarta, Senin, 4 Desember 2017.

Dengan adanya 35 persen penduduk yang masih miskin atau rentan jatuh miskin, maka kata dia, perhatian yang berkelanjutan diperlukan untuk memberi mereka kesempatan lebih besar agar keluar dari lubang kemiskinan. Selain itu, perluasan kelas menengah merupakan hal yang sejalan dengan agenda pengentasan kemiskinan.

Saat ini, setidaknya 52 juta orang masuk dalam kelas menengah yang berkontribusi pada 43 persen dari total konsumsi rumah tangga. Kelas menengah yang lebih besar akan membantu mempercepat pertumbuhan konsumsi. Kelas menengah juga dapat menjadi pendukung kuat tata kelola yang lebih baik, memberi pendapatan lewat pajak yang diperlukan untuk menyediakan layanan umum seperti infrastruktur, kesehatan dan pendidikan, serta memulai usaha yang menciptakan lapangan kerja. Sebaliknya, jika kelompok yang ingin menjadi kelas menengah gagal naik tingkat ekonominya, hal ini mungkin akan berdampak pada masyarakat yang lebih terpolarisasi dan terpecah.

“Kelas menengah memegang kunci untuk membuka potensi Indonesia. Penting bagi pemerintah untuk mendukung pertumbuhan kelompok ini di semua lini. Ini termasuk dukungan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan penduduk dan mendorong pertumbuhan penciptaan lapangan kerja juga akses perlindungan sosial yang memadai. Dengan dukungan tersebut, kelompok kelas menengah akan tumbuh dengan cepat dan mendorong negara dan wilayah ini menuju masa depan yang lebih cerah,” tukasnya.

Selain itu, juga untuk membantu jutaan orang Indonesia masuk ke dalam kelas menengah, diperlukan adanya pekerjaan yang memberikan pendapatan kelas menengah. Yang juga diperlukan adalah melengkapi pekerja dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut. Hal ini berarti pentingnya peningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Kebijakan peningkatan pertumbuhan yang terkait dengan peningkatan lingkungan usaha, termasuk reformasi undang-undang ketenagakerjaan dan pengurangan pembatasan investasi, juga merupakan unsur penting. Akhirnya, juga diperlukan akses jaminan sosial yang memadai untuk melindungi kelas beraspirasi ini dari guncangan kesehatan dan pekerjaan yang mengancam mobilitas ke atas mereka.

Menyediakan pendidikan dan infrastruktur berkualitas tinggi untuk terlaksananya pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja membutuhkan sumberdaya. Oleh karena itu, laporan ini mengusulkan kontrak sosial baru untuk penyediaan layanan yang lebih baik dengan imbalan partisipasi lebih besar dari kelas menengah untuk saat sekarang dan di masa depan, dengan berkontribusi melalui pajak sebagai sumberdaya negara.

“Kontrak sosial baru yang memenuhi kebutuhan semua penduduk Indonesia sangat dibutuhkan yang memfasilitasi kelas menengah membayar pajak sebagai sumberdaya pemerintah untuk memberi layanan umum berkualitas tinggi dan mendorong pertumbuhan inklusif. Pada gilirannya, ini akan membantu kelas menengah tumbuh dan berkembang,” tambah Ekonom Senior Bank Dunia Matthew Wai-Poi. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

3 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

9 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

9 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

10 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

11 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

14 hours ago