News Update

Kedatangan 11 Pemain Baru, Bagaimana Peta Persaingan Industri Asuransi Syariah 2026?

Poin Penting

  • Pergeseran peta persaingan asuransi syariah 2026 ditandai masuknya 11 pemain baru dan keluarnya 7 perusahaan lama, yang memicu kekosongan pasokan (supply void) di industri
  • Supply void akibat hengkangnya tujuh perusahaan akan diperebutkan oleh pemain lama dan pendatang baru, menciptakan persaingan baru atau supply fight di pasar asuransi syariah nasional
  • Komposisi empat besar berubah, dengan Zurich tetap teratas, disusul Askrida Syariah, Astra Buana, dan Sinar Mas Syariah.

Jakarta – Peta persaingan di industri syariah nasional diproyeksikan mengalami pergeseran besar di 2026. Hal ini ditandai dengan masuknya sejumlah pemain anyar, sekaligus keluarnya beberapa perusahaan lama yang eksis di industri asuransi.

Pakar Ekonomi dan Keuangan Islam, Adiwarman Azwar Karim mengatakan sebelum 2026, industri asuransi syariah diisi oleh pemain-pemain lama yang telah beroperasi penuh (full-fledged).

Mereka adalah PT Zurich General Takaful Indonesia, PT Asuransi Askrida Syariah, PT Asuransi Jasindo, PT Asuransi Takaful Umum, dan PT Asuransi Chubb Syariah Indonesia.

Namun memasuki 2026, terdapat 11 pendatang baru yang ikut meramaikan pasar asuransi syariah di Tanah Air.

“Di tahun 2026 ini, ada para pendatang baru, ada 11 pemain,” ujar Islam Adiwarman Azwar, di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.

Baca juga: Asuransi Sinar Mas Syariah Targetkan Pengalihan Portofolio Rampung dalam 3 Bulan

Ia merinci, perusahaan tersebut, yaitu Unit Syariah (US) PT Asuransi Astra Buana, US PT Asuransi Sinar Mas, US PT Sompo Insurance Indonesia, US PT Asuransi Tri Pakarta, US PT BRI Asuransi Indonesia, US PT Asuransi Umum Mega, US PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia, US PT Asuransi Reliance Indonesia, US PT Asuransi Sonwelis, US PT Asuransi Ramayana dan US PT Asuransi Central Asia.

Di sisi lain, kata dia, sebanyak tujuh perusahaan tercatat meninggalkan industri asuransi syariah. Perusahaan tersebut antara lain US PT Asuransi Umum Bumiputeramuda 1967, US PT Asuransi Staco Mandiri, US PT Asuransi ASEI Indonesia, US PT Jasaraharja Putera, US PT Asuransi Allianz Utama Indonesia, US PT Asuransi Wahana Tata dan US Asuransi Maximus Graha Persada.

Kondisi ini menciptakan kekosongan pasokan (supply void) yang memicu persaingan baru atau yang disebut sebagai supply fight.

“Kekosongan supply yang ditinggalkan oleh tujuh perusahaan ini akan diperebutkan oleh pemain lama dan pendatang baru,” jelasnya.

Baca juga: Resmi Berdiri, Ini Fokus Bisnis Sinar Mas Asuransi Syariah di Tahun Pertama

Seiring dengan pergeseran tersebut, kata Adiwarman, komposisi empat besar perusahaan asuransi syariah juga mengalami perubahan. 

“Zurich masih paling besar, kemudian ada Askrida Syariah. Posisi ketiga adalah Astra Buana dan nomor empat adalah Sinar Mas,” bebernya.

Menariknya, lanjutnya, dari empat besar tersebut, asuransi Sinar Mas Syariah tercatat memiliki loss ratio paling rendah. 

Bahkan, loss ratio-nya hanya sekitar 14 persen, jauh di bawah beberapa pesaing yang mencapai hingga 94 persen. Kondisi ini menunjukkan tingkat efisiensi dan kesehatan portofolio yang lebih baik.

“Yang paling kecil loss ratio-nya ya Sinar Mas Syariah cuma 14 persen. Itu menyebabkan Sinar Mas Syariah memiliki keunggulan untuk bisa tumbuh dengan cepat dan mengambil supply void (kekosongan suplai yang ditinggalkan pemain lama),” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

KB Bank Andalkan Corporate Banking jadi Motor Pertumbuhan Bisnis

Poin Penting KB Bank fokus pada corporate banking dengan ekspansi kredit yang lebih selektif. Perseroan… Read More

5 hours ago

Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) Raih Pendapatan Jasa Rp2,79 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan AMAG naik 8,48% menjadi Rp2,79 triliun pada 2025. Laba bersih turun 41%… Read More

10 hours ago

Pembiayaan Baru WOM Finance Tembus Rp5,94 Triliun di 2025, Tumbuh 9,35 Persen

Poin Penting Pembiayaan baru WOM Finance tumbuh 9,35 persen (yoy) menjadi Rp5,94 triliun, mendorong kenaikan… Read More

11 hours ago

Kasus Amsal Disorot: Dari Dugaan Mark-Up hingga Implikasi Keuangan Negara

Poin Penting Kasus Amsal mengungkap dugaan mark-up anggaran proyek desa dengan kerugian negara sekitar Rp202… Read More

11 hours ago

RUPS WOM Finance Rombak Pengurus, Kursi Dirut Segera Diisi

Poin Penting WOM Finance merombak jajaran komisaris dan direksi melalui RUPS terbaru. Posisi direktur utama… Read More

11 hours ago

Pendapatan DCI Indonesia Tumbuh 40,1 Persen Jadi Rp2,5 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan DCII 2025 tumbuh 40,1 persen yoy menjadi Rp2,5 triliun, didorong operasional data… Read More

11 hours ago