Poin Penting
Jakarta — PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) semakin mengandalkan segmen corporate banking dan wholesale sebagai motor pertumbuhan bisnis, dengan tetap menjaga kualitas aset di tengah tantangan ekonomi.
Direktur Wholesale KB Bank, Widodo Suryadi, mengungkapkan bahwa kontribusi segmen wholesale, yang mencakup corporate, commercial (middle market), dan SME ikut mendominasi portofolio kredit perseroan.
“Dari total portofolio kami di 2025, segmen wholesale banking berkontribusi sekitar 64 persen,” ujarnya dalam wawancara khusus bersama tim Infobanknews, Muhammad Ibrahim dan Reggy Prawoso di kantornya di Jakarta, kemarin.
Baca juga: KB Bank Andalkan Corporate Banking jadi Motor Pertumbuhan Bisnis
Menurutnya, kontribusi segmen ini diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 65 persen hingga 70 persen pada 2026, seiring penguatan strategi di bisnis non-ritel.
Pada akhir 2025, total portofolio kredit wholesale KB Bank tercatat sekitar Rp22–23 triliun, dengan pertumbuhan tahunan (year on year/yoy) di kisaran 7 persen hingga 8 persen.
Meski pertumbuhan tersebut belum agresif, manajemen menilai ekspansi yang dilakukan tetap terjaga dari sisi kualitas.
Ia bilang, di dalam segmen wholesale, corporate banking menjadi tulang punggung utama, terutama melalui pembiayaan kepada perusahaan besar dengan profil risiko yang lebih terukur.
Baca juga: Fitch Tegaskan KB Bank di Level Tertinggi, Rating AAA(idn) Outlook Stabil Tetap Terjaga
Strategi ini dinilai memberikan stabilitas terhadap portofolio, sekaligus membuka peluang peningkatan fee-based income melalui transaksi sindikasi dan layanan perbankan korporasi lainnya.
Widodo menegaskan, keseimbangan antara ekspansi dan kualitas aset dijaga melalui penguatan proses underwriting serta monitoring kredit secara berkelanjutan. Namun, faktor sumber daya manusia menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas portofolio.
“Jadi, service industry itu yang menjadi peran utama adalah manusianya, dan yang menjadi salah satu landasan penting itu adalah disiplin,” tegasnya.
Ia menilai, dengan disiplin yang kuat, potensi risiko kredit dapat diantisipasi lebih dini sehingga meminimalkan pembentukan kredit bermasalah. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Pemerintah membatasi pembelian BBM subsidi (Pertalite dan solar) maksimal 50 liter per kendaraan… Read More
Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28% menjadi Rp3,36… Read More
Poin Penting Pemerintah melakukan efisiensi dan refocusing anggaran K/L untuk merespons dampak konflik Timur Tengah… Read More
Poin Penting Pemerintah mengurangi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 6 hari menjadi 5… Read More
Poin Penting Kebijakan WFH berpotensi menghemat APBN sebesar Rp6,2 triliun dari kompensasi BBM, serta menekan… Read More
Poin Penting Pemerintah menetapkan kebijakan WFH bagi ASN satu hari per minggu (setiap Jumat) mulai… Read More