Perbankan

KB Bank Andalkan Corporate Banking jadi Motor Pertumbuhan Bisnis

Poin Penting

  • KB Bank fokus pada corporate banking dengan ekspansi kredit yang lebih selektif.
  • Perseroan mulai memperkuat peran sebagai lead arranger dalam kredit sindikasi.
  • Segmen UMKM dan middle market tetap digarap, namun dengan manajemen risiko lebih ketat.

Jakarta – PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bank) menempatkan segmen corporate banking sebagai salah satu motor utama pertumbuhan bisnis ke depan. Namun, ekspansi dilakukan secara selektif untuk menjaga kualitas aset di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Direktur Wholesale KB Bank, Widodo Suryadi, mengatakan perseroan kini lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan, terutama dengan mempertimbangkan faktor risiko yang masih membayangi.

“Kalau kita lihat itu semuanya, kita akan lebih selektif. Jadi, tidak bisa dipungkiri juga kita masih ada legacy issue. Jadi, legacy issue ini kredit-kredit yang berkualitas kurang baik, itu kan kita perlu melakukan penyegaran,” ujar Widodo, kepada Infobanknews, Senin, 30 Maret 2026. 

Ia menjelaskan, KB Bank tengah melakukan penyegaran portofolio guna memperbaiki kualitas kredit yang sebelumnya kurang optimal. Langkah ini dilakukan bersamaan dengan upaya memperketat proses akuisisi nasabah baru.

Menurutnya, kondisi geopolitik global yang tidak menentu serta tantangan makroekonomi domestik menjadi alasan utama bank untuk lebih disiplin dalam ekspansi kredit.

Baca juga: KB Bank Salurkan Pembiayaan Rp500 Miliar ke PNM, Perluas Akses Modal Usaha Mikro

Meski demikian, KB Bank tetap melihat adanya peluang di sejumlah sektor yang masih tumbuh positif.

“Tapi di manapun kalau ada krisis, perlambatan ekonomi tetap ada sektor-sektor yang masih tumbuh dengan baik. Dan itu sektor-sektor yang kita biasanya kita panggil sebagai sektor pemenang ini yang kita juga akan sasar juga lebih banyak,” bebernya.

Bidik Korporasi Besar

Widodo melanjutkan, di segmen korporasi, KB Bank fokus pada perusahaan besar dengan reputasi kuat dan rekam jejak yang baik di pasar. Sejumlah debitur yang telah dibiayai antara lain kelompok usaha besar seperti Trans Corp milik Chairul Tanjung, serta grup-grup besar lainnya seperti Djarum, Salim, Astra, hingga entitas terkait Pertamina.

Salah satu transaksi yang menjadi sorotan adalah pembiayaan kepada PT Petro Oxo Nusantara (PON), di mana KB Bank juga berperan sebagai escrow agent—peran yang sebelumnya belum pernah dijalankan perseroan.

“Ke depan, kami ingin lebih aktif, tidak hanya sebagai partisipan dalam sindikasi, tetapi juga bisa menjadi lead arranger,” jelas Widodo.

Diketahui, KB Bank menyalurkan pembiayaan melalui kredit sindikasi kepada PT Petro Oxo Nusantara (PON) dengan total fasilitas sebesar USD95,92 juta untuk mendukung pengembangan kapasitas produksi, penguatan struktur pembiayaan, dan kebutuhan modal kerja.

Baca juga: Gelar RUPSLB, KB Bank (BBKP) Tunjuk Wakil Komisaris dan 2 Direksi Baru

Dalam kredit sindikasi tersebut, KB Bank berperan sebagai Joint Original Mandated Lead Arranger, Underwriter, and Bookrunner (JOMLAUB) serta Escrow Agent.

PT Petro Oxo Nusantara merupakan produsen terbesar produk 2-Ethyl Hexanol (2-EH), Normal-Butyl Alcohol (NBA), Iso-Butyl Alcohol (IBA), dan CO₂ Liquid (LCO₂) di Indonesia dan Asia Tenggara.

Produk ini digunakan sebagai bahan baku industri plastik, cat, perekat, dan lain-lain. Pasar ekspor utama meliputi China, Singapura, Malaysia, Uni Emirat Arab, Australia, dan India.

Widodo mengakui, strategi kerja sama ini menunjukkan pergeseran peran KB Bank dalam pembiayaan korporasi. Jika sebelumnya lebih banyak menjadi peserta dalam kredit sindikasi, kini perseroan mulai membangun kapasitas untuk menjadi pemimpin transaksi.

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan fee-based income sekaligus memperkuat posisi bank di segmen wholesale banking.

Middle Market dan UMKM Tetap Disasar

Selain korporasi besar, KB Bank, kata dia juga juga tetap menggarap segmen middle market (komersial) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), namun dengan pendekatan yang lebih selektif.

Widodo mengakui bahwa segmen komersial memiliki risiko lebih tinggi dibanding korporasi besar, terutama dari sisi tata kelola dan kekuatan finansial.

Sementara itu, di segmen UMKM, tantangan utama terletak pada luasnya spektrum usaha serta tingginya risiko kredit.

“UMKM sendiri kan kontribusinya besar ke ekonomi, tapi juga paling menantang. Tidak semua orang (bank) bisa main di sektor UMKM,” bebernya.

Untuk itu, KB Bank saat ini tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio bisnis dan kapabilitas internal. Perseroan juga berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya relationship manager, guna memperbaiki proses seleksi nasabah.

Widodo menambahkan, sebagian besar kredit bermasalah di masa lalu disebabkan oleh kesalahan dalam memilih debitur.

“Kalau mau diagnose lebih dalam, 90-95 persen masalah kredit itu karena salah pilih nasabah sejak awal,” jelasnya

Sebagai langkah perbaikan, KB Bank meningkatkan kompetensi internal sekaligus merekrut talenta dari perbankan lain untuk memperkaya pengalaman dan mempercepat transfer pengetahuan. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) Raih Pendapatan Jasa Rp2,79 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan AMAG naik 8,48% menjadi Rp2,79 triliun pada 2025. Laba bersih turun 41%… Read More

6 hours ago

Pembiayaan Baru WOM Finance Tembus Rp5,94 Triliun di 2025, Tumbuh 9,35 Persen

Poin Penting Pembiayaan baru WOM Finance tumbuh 9,35 persen (yoy) menjadi Rp5,94 triliun, mendorong kenaikan… Read More

7 hours ago

Kasus Amsal Disorot: Dari Dugaan Mark-Up hingga Implikasi Keuangan Negara

Poin Penting Kasus Amsal mengungkap dugaan mark-up anggaran proyek desa dengan kerugian negara sekitar Rp202… Read More

7 hours ago

RUPS WOM Finance Rombak Pengurus, Kursi Dirut Segera Diisi

Poin Penting WOM Finance merombak jajaran komisaris dan direksi melalui RUPS terbaru. Posisi direktur utama… Read More

7 hours ago

Pendapatan DCI Indonesia Tumbuh 40,1 Persen Jadi Rp2,5 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan DCII 2025 tumbuh 40,1 persen yoy menjadi Rp2,5 triliun, didorong operasional data… Read More

7 hours ago

403 Saham Merah, IHSG Ditutup Melemah ke Level 7.091

Poin Penting IHSG melemah tipis, ditutup di level 7.091,67 atau turun 0,08 persen; tekanan terlihat… Read More

7 hours ago