Jakarta – Kaspersky, perusahaan piranti lunak keamanan global, mengimbau masyarakat Asia Pasifik untuk mewaspadai serangan digital yang lebih canggih akibat maraknya penggunaan artificial intelligence (AI) secara “gelap”, atau dikenal dengan sebutan Dark AI.
Kepala Tim Riset dan Analisis Global (GReAT) Kaspersky untuk META dan APAC, Sergey Lozhkin, menjelaskan bahwa Dark AI merujuk pada penggunaan large language model (LLM) tanpa batasan untuk tujuan berbahaya.
Penggunaan AI ini disebutkan berada di luar kendali keamanan dan tata kelola, memungkinkan pelaku untuk membuat penipuan, manipulasi, serangan siber, hingga penyalahgunaan data tanpa pengawasan.
“Sejak ChatGPT populer pada 2023, kami mengamati adopsi AI yang bermanfaat, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan untuk meningkatkan kemampuan serangan mereka. AI adalah perisai, dan Dark AI adalah pedangnya,” terang Lozhkin, dikutip pada Senin, 11 Agustus 2025.
Baca juga: Kapersky Lab: Pelancong Bergantung Pada Koneksi Internet
Menurutnya, bentuk paling umum Dark AI adalah Black Hat GPT, model AI yang dimodifikasi untuk aktivitas ilegal seperti membuat kode berbahaya, email phishing, dan deepfake. Model ini juga mendukung operasi peretasan.
Selain itu, Kaspersky menemukan tren di mana mulai banyak negara yang memanfaatkan LLM dalam kampanye siber. Bahkan, OpenAI mengeklaim telah menggagalkan lebih dari 20 operasi siber terselubung yang mencoba menyalahgunakan perangkat AI-nya.
Menurut Lozhkin, pelaku ancaman memanfaatkan LLM untuk menciptakan persona palsu, merespons target secara real-time, dan memproduksi konten multibahasa yang sulit dibedakan dari komunikasi asli.
“AI tidak membedakan benar atau salah. Bahkan dengan perlindungan, advanced persistent threat tetap gigih. Organisasi dan individu perlu memperkuat higiene keamanan siber, berinvestasi dalam deteksi berbasis AI, dan memahami cara teknologi ini dapat dieksploitasi,” ujarnya.
Baca juga: BI Catat Uang Primer Adjusted Capai Rp1.939,1 Triliun di Mei 2025
Kaspersky menekankan bahwa kemudahan akses dan meningkatnya kemampuan Dark AI menjadi tantangan besar pada masa depan, terutama di kawasan Asia Pasifik yang kerap menjadi sasaran serangan siber lintas negara. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More
Poin Penting OJK mulai membuka informasi saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) di… Read More
Poin Penting AAUI menyebut industri kesulitan memenuhi modal minimum tahap I 2026. Minat pemegang saham… Read More
Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More
Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More