News Update

Kantongi Dana IPO Rp2,79 T, Superbank Siap Genjot Kredit dan Perkuat Teknologi Digital

Poin Penting

  • Superbank (SUPA) resmi melantai di BEI pada 17 Desember 2025 dengan harga IPO Rp635 per saham, melepas 4,4 miliar saham (13 persen), dan menghimpun dana Rp2,79 triliun.
  • Sekitar 70 persen dana IPO untuk modal kerja penyaluran kredit segmen underbanked ritel dan UMKM, serta 30 persen untuk belanja modal teknologi
  • Hingga Oktober 2025, Superbank mencatatka laba sebelum pajak Rp102 miliar dengan pendapatan bunga tumbuh 173 peresen yoy dan DPK naik 168 persen.

Jakarta – PT Super Bank Indonesia Tbk atau Superbank (IDX: SUPA) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (IDX), Rabu, 17 Desember 2025.

Bank dengan layanan digital yang didukung oleh Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank dan GXS, ini menetapkan harga penawaran umum perdana sebesar Rp635 per saham, dan melepas 4,4 miliar saham baru, setara dengan 13 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Melalui aksi korporasi ini, Superbank berhasil menghimpun dana sebesar Rp2,79 triliun, yang akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis dan penguatan kapabilitas perbankan digital perseroan.

“Pencatatan saham ini membuka babak baru bagi kami dan menjadi momentum penting bagi Superbank untuk memperkuat permodalan sekaligus memperluas jangkauan layanan finansial digital bagi masyarakat Indonesia. Modal yang diperoleh dari IPO ini akan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang kami,” ujar Tigor M. Siahaan, Presiden Direktur Superbank, Rabu, 17 Desember 2025.

Baca juga: Jaga Stabilitas Rupiah, BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 4,75 Persen

Alokasi Dana IPO

Tigor menambahkan sekitar 70 persen dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja untuk memperkuat penyaluran kredit kepada segmen underbanked baik ritel dan UMKM, area yang menjadi fokus pertumbuhan utama Superbank.

“Khususnya untuk memperkuat penyaluran kredit di segmen ritel dan sektor-sektor yang masih memiliki potensi besar di Indonesia,” tambahnya.

Sementara 30 persen dana lainnya akan dialokasikan untuk belanja modal, termasuk pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan, digital payment systems, infrastruktur teknologi informasi, penguatan sistem operasional, serta investasi jangka panjang di AI, data analytics, dan cybersecurity.

“Sebagai bank digital, kami ingin tetap berada di garis terdepan dalam pemanfaatan teknologi,” ungkapnya.

“Kami sangat bersyukur atas tingginya antusiasme publik terhadap IPO Superbank. Bahkan di penghujung tahun, ketika banyak pihak mulai memasuki masa liburan, respons investor tetap sangat kuat. Ini menjadi bukti besarnya kepercayaan pasar kepada Superbank,” lanjutnya.

Integrasi Grab dan OVO Jadi Kunci Ekspansi Superbank

Sejak bertransformasi menjadi bank dengan layanan digital, Superbank mengusung model bisnis digital-first dengan memanfaatkan ekosistem Grab dan OVO untuk menjangkau jutaan masyarakat Indonesia langsung melalui platform yang sudah akrab digunakan.

Strategi ini dimulai pada 2024 dengan integrasi layanan perbankan langsung di aplikasi Grab, memungkinkan pengguna membuka rekening, menabung, dan bertransaksi tanpa aplikasi tambahan.

Pada 2025, Superbank melanjutkan inovasi melalui produk tabungan berbasis ekosistem, OVO Nabung by Superbank, produk rek-wallet (rekening e-wallet) yang memungkinkan jutaan pengguna OVO menabung secara instan dan aman langsung dari aplikasi OVO, serta Kartu Untung hasil kolaborasi dengan KakaoBank.

Strategi berbasis ekosistem ini mendorong adopsi yang cepat, dengan lebih dari 5 juta nasabah sejak peluncuran aplikasi pada Juni 2024 dan pertumbuhan transaksi harian lebih dari 40 persen pada kuartal III 2025.

Baca juga: Melantai di Bursa, Saham Superbank (SUPA) Sentuh ARA

Ke depan, Superbank akan memperkuat sinergi dengan ekosistem Grab–OVO, Emtek, serta pemegang saham strategis lainnya untuk menghadirkan layanan keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.

“Fokus kerja sama strategis kami tetap pada pendalaman ekosistem yang sudah ada. Kami ingin layanan Superbank terintegrasi secara seamless di dalam ekosistem tersebut, sehingga pengguna tidak perlu keluar dari platform untuk menjadi nasabah Superbank,” kata Tigor.

Sebagai informasi, dari sisi kinerja keuangan, perseroan mengungkapkan hingga Oktober 2025, Superbank mencatat laba sebelum pajak sebesar Rp102 miliar.

Laba tersebut salah satunya ditopang oleh pendapatan bunga yang tumbuh sebesar 173 persen secara tahunan/year on year (yoy) menjadi Rp1,3 triliun. Di sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 168 persen menjadi Rp10,6 triliun. (*) Ayu Utami

Galih Pratama

Recent Posts

Petinggi OJK Mundur Beruntun, Ekonom Desak Konsolidasi Cepat Demi Jaga Stabilitas

Poin Penting Ekonom desak konsolidasi cepat OJK menyusul pengunduran diri beruntun petinggi agar roda organisasi… Read More

3 hours ago

Timing Mundur Petinggi OJK Dinilai Tepat untuk Redam Gejolak Pasar

Poin Penting Mahendra Siregar (Ketua), Mirza Adityaswara (Wakil Ketua), dan dua pejabat OJK lainnya mengundurkan… Read More

3 hours ago

Jejak Karier Mirza Adityaswara, Wakil Ketua DK OJK yang Mundur di Tengah Gejolak IHSG

Poin Penting Mirza Adityaswara mengundurkan diri dari jabatan Wakil Ketua DK OJK tak lama setelah… Read More

4 hours ago

Empat Petinggi OJK Mundur, CELIOS Waspadai Guncangan Ekonomi RI

Poin Penting Empat petinggi OJK mengundurkan diri dalam waktu berdekatan, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas dan… Read More

4 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Jiwa Unit Link

Generali Indonesia luncurkan GEN Prime Link, produk asuransi jiwa unit link atau PAYDI yang memiliki… Read More

5 hours ago

Ketua, Wakil Ketua, dan Satu Komisioner OJK Mundur, Siapa Menyusul?

Poin Penting Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara resmi mengundurkan diri pada Jumat, 30 Januari… Read More

6 hours ago