News Update

Kadin Nilai Ekonomi RI Tetap Tangguh, Dorong Reindustrialisasi dan Industri Padat Karya

Poin Penting

  • Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah dinamika global dan momentum pertumbuhan di G20 harus dimanfaatkan.
  • Kadin mendorong reindustrialisasi dan penguatan industri padat karya (tekstil, garmen, alas kaki, furnitur, elektronik) untuk meningkatkan ekspor dan penyerapan tenaga kerja.
  • Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menekankan pentingnya pengembangan industri hulu guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku yang masih sekitar 70 persen.

Jakarta – Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah dinamika global. Hal itu seiring berbagai program prioritas pemerintah yang mulai menunjukkan hasil.

Anin, sapaan akrabnya, menilai sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, serta Koperasi Desa Merah Putih telah memberikan dampak positif, termasuk efek turunan terhadap perekonomian.

“Fundamental ekonomi Indonesia ini kokoh. Itu semua (program pemerintah) sudah memperlihatkan hasil terutama buat MBG sampai kepada turunannya. Dan juga disampaikan begitu banyak penghematan-penghematan yang dilakukan,” ujar Anin, dikutip Sabtu, 14 Februari 2026.

Menurutnya, efisiensi birokrasi membuka ruang fiskal yang lebih luas untuk mendukung program pembangunan prioritas.

“Buat kami di dunia usaha tentunya senang kalau birokrasi itu hemat karena dananya bisa dipakai buat hal-hal yang lain,” kata Anin.

Baca juga: Kadin Dorong Galangan Kapal Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Lebih lanjut, ia juga menekankan pentingnya kepastian penegakan hukum dan ruang gerak bagi dunia usaha guna menjaga momentum pertumbuhan, terutama saat Indonesia mencatat pertumbuhan tercepat kedua di G20.

“Ketika Indonesia memang ada momentum, nomor dua tercepat pertumbuhannya di G20 harus kita manfaatkan,” ujar Anin.

Reindustrialisasi dan Industri Padat Karya Jadi Kunci

Anin menilai sektor pertanian dan industri padat karya memiliki peran strategis karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Sektor alas kaki, garmen, tekstil, furnitur, dan elektronik dinilai berpotensi besar mendorong ekspor sekaligus penciptaan lapangan kerja.

Karena itu, transformasi menuju reindustrialisasi dinilai penting untuk meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB).

Anin juga menyebut pembukaan akses pasar internasional ke Uni Eropa, Kanada, kawasan Eurasia, hingga Amerika Serikat akan memperluas peluang ekspor nasional.

“Perekonomian kita ini tumbuh tapi mengambil jalan-jalan yang tidak mudah tapi jalan yang benar. Nah itu tentu membutuhkan waktu, dan membutuhkan waktu juga untuk menjelaskan kepada publik,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep Indonesia Incorporated penting untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku ekonomi nasional.

Baca juga: Kadin Bidik Peningkatan Investasi Lewat Integrasi Asia Pasifik di ABAC Meeting I 2026

“Itu sangat penting (Indonesia Incorporated). Nuansanya gotong-royong, sama-sama, bukan maju sendiri-sendiri dan juga yang mampu membantu yang kurang mampu. Yang besar membantu yang menengah dan lain-lain,” pungkas Anin.

Pentingnya Industri Hulu dan Perlindungan Domestik

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang juga Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta W. Kamdani, menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan terhadap industri padat karya sebagai sumber utama penciptaan lapangan kerja formal.

“Memang industri padat karya ini kan menjadi satu bagian dimana penciptaan lapangan pekerjaan formal terjadi. Nah ini mungkin kita harus bagaimana terus mendukung industri padat karya ini bisa terus berkembang,” ujar Shinta.

Baca juga: Kadin: Program Perumahan Massal Bisa Dongkrak PDB hingga 1,5 Persen

Shinta mencatat kontribusi manufaktur terhadap PDB saat ini sekitar 19 persen, turun dari sebelumnya yang sempat mencapai 23 persen. 

Karena itu, Shinta menekankan perlunya penguatan sektor hulu untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku yang masih mencapai sekitar 70 persen.

“Karena kan 70 persen daripada bahan baku dan bahan penolong kita masih impor. Nah ini yang pemerintah juga diharapkan bisa membantu fasilitasi untuk pengembangan dari segi industri hulu. Sehingga nantinya kita tidak tergantung juga impor dari negara lain,” kata Shinta.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya perlindungan industri dalam negeri, khususnya tekstil dan garmen, serta peningkatan kualitas UMKM dan pekerja gig economy (pekerja lepas).

“Nah ini juga harus kita bantu supaya mereka (pekerja gig economy) bisa bertumbuh, berkualitas dan menciptakan lapangan pekerjaan juga,” pungkasnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

KB Bank Andalkan Corporate Banking jadi Motor Pertumbuhan Bisnis

Poin Penting KB Bank fokus pada corporate banking dengan ekspansi kredit yang lebih selektif. Perseroan… Read More

6 hours ago

Asuransi Multi Artha Guna (AMAG) Raih Pendapatan Jasa Rp2,79 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan AMAG naik 8,48% menjadi Rp2,79 triliun pada 2025. Laba bersih turun 41%… Read More

11 hours ago

Pembiayaan Baru WOM Finance Tembus Rp5,94 Triliun di 2025, Tumbuh 9,35 Persen

Poin Penting Pembiayaan baru WOM Finance tumbuh 9,35 persen (yoy) menjadi Rp5,94 triliun, mendorong kenaikan… Read More

11 hours ago

Kasus Amsal Disorot: Dari Dugaan Mark-Up hingga Implikasi Keuangan Negara

Poin Penting Kasus Amsal mengungkap dugaan mark-up anggaran proyek desa dengan kerugian negara sekitar Rp202… Read More

11 hours ago

RUPS WOM Finance Rombak Pengurus, Kursi Dirut Segera Diisi

Poin Penting WOM Finance merombak jajaran komisaris dan direksi melalui RUPS terbaru. Posisi direktur utama… Read More

11 hours ago

Pendapatan DCI Indonesia Tumbuh 40,1 Persen Jadi Rp2,5 Triliun di 2025

Poin Penting Pendapatan DCII 2025 tumbuh 40,1 persen yoy menjadi Rp2,5 triliun, didorong operasional data… Read More

12 hours ago