Internasional

Jurus Trump Pikat Pebisnis Global yang Buat Produknya di Amerika

Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengundang para pebisnis global untuk membuat produk mereka di AS dengan iming-iming pajak yang lebih rendah.

Sebaliknya, Trump ‘memperingatkan’ jika mereka tetap memilih untuk memproduksi barang di tempat lain, maka diharuskan untuk membayar tarif untuk mengekspornya ke AS.

“Amerika telah kembali dan terbuka untuk bisnis,” kata Trump dalam tautan video dari Washington kepada para pemimpin perusahaan yang bertemu di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, dikutip VOA Indonesia, Jumat, 24 Januari 2025.

“Pesan saya kepada setiap bisnis di dunia sangat sederhana. Buatlah produk Anda di Amerika, dan kami akan memberi Anda pajak terendah di antara negara mana pun di bumi. Tetapi jika Anda tidak membuat produk Anda di Amerika, yang merupakan hak prerogatif Anda, maka sangat sederhana, Anda harus membayar tarif,” tambahnya.

Baca juga : Donald Trump Disebut Ingin Relokasi 2 Juta Warga Gaza ke Indonesia, Ini Kata Kemlu

Diketahui, tiga hari usai dilantik menjadi Presiden AS, Trump berencana memangkas tarif pajak perusahaan AS dari 21 menjadi 15 persen, meskipun itu membutuhkan persetujuan dari sekutu politiknya di kongres yang dikuasai Partai Republik. 

Para legislator pun telah mulai memperdebatkan cara untuk memperpanjang dan membentuk kembali pemotongan pajak pribadi dan perusahaan yang diberlakukan pada 2017 selama masa jabatan pertama Trump.

Di samping itu, Trump berjanji AS akan memasok gas alam cair yang dibutuhkan Eropa. Namun, di satu sisi, ia berpendapat bahwa Uni Eropa memperlakukan AS sangat tidak adil dengan tingkat regulasi yang diberlakukannya pada bisnis Amerika yang beroperasi di blok beranggotakan 27 negara tersebut.

Trump secara khusus mengeluhkan tentang pernyataan mengenai tarif dan dampak lingkungan untuk proyek konstruksi baru.

Baca juga : Donald Trump kembali Pangku Jabatan Presiden AS, Segini Gaji plus Tunjangannya

Ia berjanji bahwa pemerintahannya akan menjadikan AS, yang sudah menjadi ekonomi terbesar di dunia sebagai negara adikuasa manufaktur dan mengatakan pemerintah selama masa jabatan empat tahunnya akan menghapus 10 regulasi bisnis untuk setiap regulasi baru yang diberlakukan.

Oleh karena itu, dirinya berencana meminta Arab Saudi dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak untuk memangkas harga minyak yang mereka produksi guna meningkatkan ekonomi global.

Ia berpendapat bahwa jika harga minyak global saat ini sekitar USD77 per barel – dipangkas, maka perang di Ukraina akan segera berakhir. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

54 mins ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

2 hours ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

2 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

2 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

3 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

3 hours ago