Jakarta – Riset Nielsen mencatat belanja iklan secara garis besar masih menunjukkan tren peningkatan untuk periode January – Juli. Dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2016, pertumbuhan belanja iklan bergerak positif sebesar 6 persen yang lebih dipengaruhi oleh kenaikan tarif.
Dengan kenaikan tersebut, belanja iklan di TV dan media cetak di sepanjang Januari – Juli 2017 mencapai Rp82,1 Triliun. Informasi belanja iklan tersebut diambil dari data Advertising Information Services yang memonitor aktivitas periklanan Indonesia. Monitoring iklan mencakup 15 stasiun TV nasional, 99 surat kabar dan 120 majalah dan tabloid. Angka belanja iklan didasarkan pada gross rate card, tanpa menghitung diskon, bonus, promo, dll.
Yang cukup unik yakni untuk sepanjang bulan Agustus-September 2017 belanja iklan Meikarta sangat spektakular. Mengutip Advertising Indonesia.id, dalam kurun waktu 2 bulan tersebut, Meikarta membelanjakan lebih dari 1,2 Triliun per 30 September 2017, dimana angka tersebut hampir 2 kali lipat dari bulan Agustus yang lalu yang mencapai Rp696.7 Miliar.
Angka ini cukup fantastis, mengingat nilai dua Tower Meikarta sendiri hanya senilai Rp1 triliun. Lippo mengumumkan akan melakukan topping off sebanyak dua tower pada 29 Oktober 2017.
Ada apa dengan Meikarta? Sehingga terlalu ambisius dalam membangun megaproyek tersebut. Pasalnya jika terlalu besar mengeluarkan biaya dan produk tidak laku keras, bukan tidak mungkin proyek Meikarta akan gagal total karena biaya iklan saja sudah membengkak. (Bersamnbung ke halaman berikutnya)
Infobank mencoba menkonfirmasi kebenaran hal itu. Presiden Meikarta, Ketut Budi Wijaya mengatakan, itung-itungan angka itu kemungkinan harga normal, yakni belum termasuk diskon dll. Karena ia merasa biaya iklan yang dikeluarkan masih sesuai dengan yang di harapkan.
“Itu kan harga normal. Apapun harganya semua masih sesuai dengan harga yang kita harapkan,” kata Ketut Budi Wijaya di Jakarta, Kamis, 26 Oktober 2017.
Saat ditanya kepastian berapa nilai biaya iklan yang telah dikeluarkan Meikarta di periode tersebut, ia pun memprediksi tidak sampai angka Rp1 triliun. “Saya rasa enggak sebesar itu. Mestinya kurang dari 1 triliun,” jelasnya.
Baca juga: Dua Bank Besar Bantah Biayai Proyek Meikarta
Seperti diketahui, sampai sejauh ini biaya proyek yang dikeluarkan oleh Meikarta sejauh ini menggunakan uang kas perusahaan dan pre-selling. Hal ini pun diakui oleh Ketut. Menurutnya, sejauh ini Lippo masih sanggup melakukan pendanaan lewat duit kas. Namun bukan berarti ke depan tidak melakukan pendekatan ke perbankan. “Selama kita bisa lakukan sendiri, maka akan kita lakukan sendiri dulu. Tapi ke depan pasti ada,” jelasnya.
Melihat fakta ini tentunya pihak Meikarta perlu hati-hati dan mulai kecangkan ikat pinggang. Jika tidak, dengan beban pengeluaran yang besar, bukan untung yang didapat, malah kerugian yang bisa datang. (*)
Editor: Paulus Yoga


