Poin Penting
Jakarta – PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk (JMAS) menargetkan pendapatan kontribusi tumbuh sekitar 20 persen pada 2026 dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai Rp295,71 miliar.
Dengan target pertumbuhan tersebut, perseroan membidik pendapatan kontribusi sekitar Rp360 miliar pada 2026.
“Kalau produksi di tahun 2026, kita targetnya naik 20 persen dari realisasi tahun 2025. Jadi kalau 2025 Rp295 miliar dikalikan ke 120 persen lah, kira-kira sekitar Rp360 miliar,” kata Direktur Utama JMAS Basuki Agus dalam Paparan Publik Insidentil di Jakarta, Selasa, 20 Januari 2026.
Baca juga: JMA Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp1,4 miliar per kuartal I/2025
Basuki menjelaskan, untuk mencapai target tersebut, Perseroan masih akan mengandalkan lini bisnis yang telah berjalan, khususnya produk degan hasil underwriting positif, terutama pada asuransi kesehatan.
“Kita tetap maintain hanya untuk produk-produk yang sudah existing dengan kita. Belum membuka untuk produk-produk yang bisnis. Kemudian kalau yang lain, kita memang sedang memaksimalkan kanal industri, individu produk-produk yang retail, itu yang kita sedang kembangkan,” imbuhnya.
Sepanjang 2025, JMAS mencatatkan pendapatan kontribusi Rp295,71 miliar, meningkat dari Rp253,70 miliar pada 2024 atau bertambah Rp42,00 miliar.
Tidak hanya pendapatan, kinerja laba perseroan juga meningkat signifikan. Laba bersih JMAS pada akhir 2025 tercatat Rp4,03 triliun, naik dari Rp2,82 triliun pada 2024 atau tumbuh Rp1,20 triliun.
Di sisi lain, perseroan berhasil menekan beban klaim menjadi Rp164,45 miliar pada 2025, turun Rp54,52 miliar dibandingkan 2024 yang mencapai Rp218,97 miliar.
Penurunan beban klaim tersebut turut memperbaiki rasio klaim JMAS menjadi 55,61 persen pada 2025, dari sebelumnya 86,31 persen pada 2024.
Baca juga: Pendapatan Bersih Asuransi JMA Syariah Terbang 220,90 Persen di Q3 2024
Basuki menambahkan, penurunan beban dan rasio klaim terjadi seiring perubahan komposisi produksi, dari dominasi asuransi kesehatan ke produk asuransi jiwa murni.
Menurutnya, perseroan kini lebih selektif dalam memilih produk asuransi kesehatan agar klaim dapat dikelola secara optimal dan terhindar dari potensi kecurangan.
“Kita memang melakukan kontrol terhadap bagaimana mengelola klaim yang benar-benar klaimnya itu memang benar-benar acceptable, bukan fraud, bukan klaim yang moral hazard dan sebagainya. Itu yang paling utama artinya, secara sistem kita melakukan tanpa harus mengurangi hak-haknya nasabah, hak-haknya pemegang polis, itu kita lakukan,” pungkas Basuki. (*)
Editor: Yulian Saputra
Oleh: Tim Redaksi Infobank Semarang – Ada yang sangat kacau di negeri ini. Bukan soal… Read More
Tugu Insurance/TUGU telah mencatatkan kinerja solid sepanjang tahun buku 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar… Read More
Poin Penting Kemenkeu mempertimbangkan skema pertukaran PNM dengan Geo Dipa untuk memperkuat penyaluran KUR. Fokus… Read More
Poin Penting BRI membagikan dividen tunai Rp52,1 triliun atau Rp346 per saham untuk Tahun Buku… Read More
Dengan tren pencapaian kinerja perusahaan yang gemilang hingga Tahun 2025, Bank Banten berhasil dipercaya dan… Read More
Poin Penting Dua ahli hukum menilai kasus kredit macet Sritex merupakan ranah perdata dan risiko… Read More