Moneter dan Fiskal

Jika The Fed Tak Pangkas Suku Bunga, Bagaimana Dampaknya ke Likuiditas Domestik?

Jakarta – Federal Open Market Committee (FOMC) telah menggelar pertemuan pada 9 Januari 2025. Secara gamblang Fed Chairman, Jerome Powell menyatakan bahwa, The Fed masih belum akan terburu-buru dalam menurunkan suku bunga.

Berdasarkan hal itu, Chief Investment Officer, Equity Manulife Asset Management Indonesi (MAMI), Samuel Kusuma, CFA, mengatakan bahwa alasan The Fed saat mengerem pemangkasan suku bunga adalah untuk mengkaji ulang dampaknya pada perekonomian dan pertumbuhan, sambil terus memantau kondisi ketenagakerjaan dan inflasi.

Menurutnya, dengan keadaan ini The Fed sangat mengerti, bahwa penurunan yang terlalu cepat dapat meningkatkan kembali inflasi, namun penurunan yang terlalu lambat juga dapat berdampak buruk pada ekonomi.

Baca juga: Proyeksi Penurunan Suku Bunga The Fed Batal Terwujud, OJK Ungkap Alasannya

“Secara keseluruhan, kami tetap percaya bahwa inflasi Amerika Serikat masih menurun, namun laju penurunannya yang belum stabil, mengakibatkan bank sentral juga harus peka menyeimbangkan kebijakannya,” ucap Samuel dalam risetnya di Jakarta, 17 Februari 2025.

Sehingga, dari sisi situasi likuiditas global saat ini akan sangat tergantung pada kebijakan The Fed ke depannya, di mana para pelaku pasar saat ini terus memantau arah kebijakan Trump yang akan sangat berpengaruh pada outlook inflasi dan kebijakan suku bunga ke depan.

Lalu, dari kondisi likuiditas internal, Samuel memperkirakan masih akan relatif ketat. Ini dikarenakan pemulihan ekonomi yang belum sesuai harapan. Tercermin dari rasio LDR (Loan to Deposit Ratio) perbankan yang masih cukup tinggi.

Namun ke depannya, kata Samuel, terdapat peluang perbaikan situasi likuiditas secara bertahap melalui perbaikan daya beli konsumen yang didorong kebijakan pemerintah yang suportif dan penerapan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang baru. 

“Penerbitan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) yang terus dikurangi secara bertahap juga akan berdampak positif pada kondisi likuiditas domestik,” imbuhnya.

Baca juga: Lampaui Target, Penghimpunan Dana di Pasar Modal 2024 Tembus Rp259,24 Triliun

Samuel menyoroti, sektor perbankan saat ini diperdagangkan di valuasi yang lebih menarik setelah koreksi harga saham yang dipicu aksi jual dari investor asing dan situasi likuiditas yang relatif ketat saat ini akan diperkirakan akan berangsur membaik ke depannya. 

Adapun tekanan jual dari pemegang saham asing kemungkinan besar akan berkurang atau bahkan berbalik arah jika The Fed mengambil kebijakan suku bunga yang lebih dovish di semester kedua nanti. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

OJK Tunjuk Bank Kalsel Jadi Bank Devisa, Potensi Transaksi Rp400 Triliun

Poin Penting OJK menunjuk Bank Kalsel sebagai Bank Devisa sejak 31 Desember 2025 dengan masa… Read More

1 hour ago

Riset Kampus Didorong Jadi Mesin Industri, Prabowo Siapkan Dana Rp4 Triliun

Poin Penting Presiden Prabowo mendorong riset kampus berorientasi hilirisasi dan industri nasional untuk meningkatkan pendapatan… Read More

2 hours ago

Peluncuran Produk Asuransi Heritage+

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) berkolaborasi dengan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menghadirkan… Read More

2 hours ago

DPR Desak OJK Bertindak Cepat Cegah Korban Baru di Kasus DSI

Poin Penting Pengawasan OJK disorot DPR karena platform Dana Syariah Indonesia (DSI) masih dapat diakses… Read More

2 hours ago

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

6 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

9 hours ago