Jika Muamalat Prospektif Pasti Investor Masuk

Jakarta – Bank Muamalat seperti “bola panas” yang coba dilempar ke pihak-pihak yang diharapkan bisa menyelamatkan. Kendati dibantah oleh bank-bank BUMN, isu penyelamatan Bank Muamalat oleh bank BUMN direspon negatif oleh pasar yang ditandai anjloknya harga saham.

Baik Erick Thohir sebagai Menteri BUMN dan Kartika Wirjoatmodjo sebagai wakilnya yang mengurusi BUMN di sektor keuangan menyatakan bahwa bukan tugas BUMN untuk menyelamatkan bank yang sakit, apalagi itu milik swasta dan berasal dari pihak asing.

Menurut ekonom Core Indonesia Piter Abdullah, penanganan Bank Muamalat sebaiknya sesuai mekanisme yang ada dan tidak seharusnya memaksa BUMN mengambil pekerjaan yang bukan tugasnya.

“Saya tidak sependapat dengan usulan agar bank BUMN mengambil alih Bank Muamalat. Biarkan mekanisme pasar berjalan. Apabila Bank Muamalat masih memiliki prospek akan ada investor yang masuk. Kalau tidak ada jangan ya dipaksakan,” ujarnya kepada Infobanknews di Jakarta, Jumat, 15 November 2019.

Piter menambahkan, Bank Muamalat tidak hanya membutuhkan tambahan modal tetapi juga perlu perubahan total mulai dari konsep bisnis, strategi hingga sumber daya manusia (SDM).

Lima tahun terakhir, perusahaan-perusahaan BUMN sudah terlalu banyak diberi beban sebagai agen pembangunan, seperti pengentasan kemiskinan, membangun jalan, membangun desa, dan lain sebagainya. Padahal, sebagian besar masalah merupakan tugas pemerintah yang bisa diatasi melalui kebijakan fiskalnya.

Biro Riset Infobank mencatat, kinerja Bank Muamalat tertekan sejak 2014 akibat menurunnya kualitas aset produktifnya dan membutuhkan permodalan untuk menjadi bank yang sehat. Namun, pemegang saham lama enggan menyuntik dana segar dan kondisi investor strategis yang diharapkan memberi modal tak kunjung datang ke Bank Muamalat.

Bank Muamalat dimiliki oleh Islamic Development Bank (32,74%), Bank Boubyan (22%), Atwill Holding Limited (17,91%), National Bank of Kuwait (8,45%), dan sisanya pemegang saham minoritas masing-masing di bawah 5%. Perr Juni 2019 laba bank syariah pertama di Indonesia ini anjlok 95,10% menjadi hanya Rp5,08 triliun dengan NPF kembali membumbung di atas 5%. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Melangkah Menuju KBMI 2, Bank BPD Bali Catatkan Kinerja Positif di Triwulan I 2026

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat modal inti Rp5,7 triliun dan menargetkan naik kelas ke… Read More

23 mins ago

ALTO luncurkan ASKARA Connect dan ASKARA Collab

PT ALTO Network meluncurkan dua layanan digital terbaru, yaitu Askara Connect dan Askara Collab, untuk… Read More

4 hours ago

Ma’ruf Amin: Hijrah Finansial jadi Kunci Akselerasi Ekonomi Syariah Nasional

Poin Penting Hijrah finansial sebagai transformasi menyeluruh, bukan sekadar pindah produk keuangan, tetapi perubahan cara… Read More

4 hours ago

Kinerja 2025 Ciamik, Saham BBCA Diproyeksi Kembali Menguat

Poin Penting Saham BBCA turun sekitar 19 perse ytd, sejalan pelemahan IHSG, namun dinilai sebagai… Read More

4 hours ago

Whoosh Delay akibat Penumpang Tahan Pintu Kereta, KCIC Angkat Bicara

Poin Penting KCIC mengecam penumpang yang menahan pintu Whoosh di Padalarang karena melanggar aturan dan… Read More

4 hours ago

Jelang Akhir Pekan, IHSG Ditutup Menguat ke Posisi 7.458

Poin Penting IHSG menguat signifikan 2,07 persen ke level 7.458,49, didorong dominasi saham naik (485… Read More

4 hours ago