Moneter dan Fiskal

Jerman Alami Resesi, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Jakarta – Dunia tengah dihadapkan pada persoalan inflasi dan kenaikan suku bunga acuan yang agresif oleh bank sentral dunia. Alhasil, risiko perlambatan ekonomi hingga resesi menjadi kian nyata.

Bahkan, negara maju seperti Jerman menjadi contohnya. Bahkan, Singapura diprediksi akan mengalami hal yang serupa. Perekonomian dua negara tersebut terhantam pandemi Covid-19 dan geopolitik invasi Rusia-Ukraina sehingga pertumbuhannya terkontraksi.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Apakah akan mengalami nasib yang serupa? Atau justru Indonesia sudah ‘kebal’ resesi ekonomi dunia? 

Direktur Eksekutis Segara Institute Piter Abdullah mengatakan, resesi ekonomi yang menimpa Jerman dan Singapura tidak akan merembet ke Indonesia. Meskipun, Indonesia memiliki hubungan perdagangan dengan keduanya. 

“Indonesia memiliki struktur ekonomi yang lebih bergantung kepada permintaan domestik bukan ke ekspor atau perdagangan luar negeri,” kata Piter kepada Infobanknews, Senin, 29 Mei 2023.

Ia menilai, dampak resesi yang terjadi di negara-negara maju tersebut tentu akan berdampak ke perekonomian Indonesia tetapi tidak terlalu signifikan. Di mana, permintaan terhadap produk-produk Indonesia di Jerman dan Singapura berpotensi menurun. 

“Ekspor indonesia akan melemah. Tetapi, kontribusi ekspor terhadap ekonomi indonesia tidak besar hanya di kisaran 10-15%. Jadi, kalaupun turun dampaknya terhadap perekonomian secara keseluruhan tidak akan besar,” jelasnya.

Menurutnya, Indonesia lebih bergantung kepada permintaan domestik misalnya konsumsi Rumah Tangga dan investasi baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

Dipastikan, kata dia, Indonesia tidak akan mengalami resesi sepanjang tidak terjadi gejolak atau gangguan terhadap perekonomian domestik seperti pandemi Covid-19 lalu.

“Jadi yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga tidak terjadi gangguan tersebut khususnya terkait keamanan dan ketertiban,” bebernya. 

Senada, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal  mengatakan, dampak resesi global terhadap Indonesia tidak akan seburuk dampaknya seperti pada Jerman dan Singapura.

“Potensinya lebih ke perlambatan ekonomi, tidak sampai kepada resesi,” jelasnya, saat dihubungi Infobanknews.

Sebelumnya, World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 akan berada di level 4,9%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga diproyeksi DBS Bank, yang memperkirakan tumbuh 5% di tahun ini.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi yang cenderung melambat pada 2023 terjadi lantaran pertumbuhan ekonomi global yang juga berdampak langsung kepada ekonomi Indonesia.

Meski begitu, jatuhnya negara-negara dalam jurang resesi menjadi alarm dini bagi pemerintah. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan, pihaknya akan terus waspada dan berhati-hati dalam membuat kebijakan, mengingat masih ada risiko ketidakpastian global. 

Hal ini seiring risiko global terkait inflasi dan resesi, atau stagflasi akan berlangsung sampai tahun depan. 

“Instrumen kebijakan antara fiskal dan moneter juga akan dikoordinasikan dengan baik dan penuh kehati-hatian,” terangnya, dikutip Infobanknews, Senin, 29 Mei 2023.

Pihaknya menegaskan, kebijakan di Otoritas Jasa keuangan (OJK) juga dilakukan untuk memonitor utamanya regulasi eksposure dari korporasi Indonesia.  

Resesi Ekonomi Indonesia 

Meski banyak pihak optimis Indonesia akan terbebas dari “jurang” resesi dunia, namun sejarah mencatat, Indonesia sendiri pernah mengalami resesi ekonomi terdalam pada 1998 silam. 

Di mana, pertumbuhan ekonomi minus selama 6 bulan di tahun 1997, dan berikutnya masih minus di sembilan bulan pertama tahun 1998. 

Bahkan di tahun yang sama, pemerintah sampai harus meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF), meski bantuan lembaga keuangan global itu tak banyak membantu Indonesia. 

Parahnya, kejatuhan ekonomi tersebut terus terjadi pada tahun 1998. Kala itui, krisis ekonomi Indonesia tercatat sebagai yang terparah di Kawasan Asia Tenggara. 

Dampak resesi ekonomi pun merembet menjadi krisis sosial kemudian ke krisis politik yang memaksa Presiden Soeharto turun kekuasaan yang sudah didudukinya sejak 1965.(*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Porsi Pembiayaan Meningkat, Maybank Indonesia Perkuat Pembiayaan SME Syariah

Poin Penting PT Bank Maybank Indonesia Tbk memperkuat pembiayaan SME syariah sebagai pilar utama pengembangan… Read More

1 hour ago

Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri, Tarif LRT Jabodebek Dipatok Maksimal Rp10.000

Poin Penting PT Kereta Api Indonesia (Persero) menetapkan tarif maksimal LRT Jabodebek sebesar Rp10.000 selama… Read More

1 hour ago

Wacana Pemotongan Gaji Pejabat Diminta jadi Gerakan Disiplin Fiskal Nasional

Poin Penting Anggota Komisi II DPR RI Ali Ahmad menilai wacana pemotongan gaji pejabat yang… Read More

1 hour ago

Bank Maspion Kantongi ‘Dana Segar’ USD285 Juta dari KBank, Perkuat Likuiditas Kredit

Poin Penting PT Bank Maspion Indonesia Tbk memperoleh fasilitas pinjaman USD285 juta dari KASIKORNBANK Public… Read More

2 hours ago

IHSG Jelang Libur Panjang Nyepi dan Idul Fitri Ditutup Naik 1,60 Persen ke Level 7.106

Poin Penting IHSG ditutup menguat 1,20 persen ke level 7.106,83 pada perdagangan Selasa (17/3), menjelang… Read More

2 hours ago

Survei Amar Bank Sebut 87 Persen Responden Alami Kenaikan Pengeluaran di Periode Lebaran

Poin Penting Survei Amar Bank terhadap 1.600 responden menunjukkan 87 persen masyarakat mengalami kenaikan pengeluaran… Read More

2 hours ago