Jepang Kecewa Proyek Kereta Cepat Gagal

Jepang Kecewa Proyek Kereta Cepat Gagal

Jepang Kecewa Proyek Kereta Cepat Gagal
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Tokyo—Jepang mengaku sangat kecewa atas kegagalan Negeri Sakura ini menggarap Proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Demikian disampaikan oleh Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi) yang baru saja mengakhiri lawatannya ke Jepang.

“Ada kekecewaan yang berat dari pihak Jepang, termasuk pemerintahnya. Itu yang kita tangkap. Makanya kita usul agar Bapak Presiden memulihkan kepercayaan Jepang kepada kita dengan merangkul dalam berbagai proyek pembangunan lainnya,” ujar Bahlil.

Bahlil mengatakan kekecewaan tersebut lantaran Jepang yakin sekali bahwa Indonesia akan memilih Jepang menjadi mitra strategis dalam pembangunan transportasi kereta cepat Jakarta Bandung. Pasalnya, Jepang telah menjadi mitra strategis Indonesia dalam membantu pembangunan Indonesia sejak tahun 1970-an.

“Ini bukan soal hanya persaingan kedua negara, atau persaingan bisnis. Tapi Jepang kan sudah terbukti menjadi mitra strategis kita dalam membangun infrastruktur sejak lama. Bukan ujuk-ujuk datang bawah proposal. Dia yakin kita teman sejatinya,” papar Bahlil.

Saking kecewanya, ujar Bahlil, seorang pejabat Jepang sempat menilai Indonesia telah berkhianat terhadap Jepang yang telah menjadi mitra sejatinya selama lebih dari empat dekade.

Sebagaimana diketahui pemerintah kemudian memilih perusahaan asal Tiongkok untuk menggarap proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Padahal, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe telah memasukan proyek tersebut dalam agendanya untuk mengejar proyek-proyek infrastruktur di luar negeri guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi domestiknya. Pemerintah Indonesia beralasan, pemilihan perusahaan Tiongkok karena kesepakatan B to B dan tidak melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hipmi sendiri berpandangan, proyek tersebut dinilai feasible secara ekonomi-politik, selagi tidak menggunakan APBN dan tidak merugikan atau menghilangkan aset negara di perusahaan negara yang menjadi mitra perusahaan Tiongkok tersebut. Proyek kereta super cepat tersebut diperkirakan menelan biaya Rp 78 triliun atau sekitar 635,8 miliar yen (US$ 4,3 miliar).

Bahlil mengatakan, peranan Jepang dalam membangun perekonomian Indonesia selama ini tidak boleh dipadang sebelah mata. “Salah satu ciri khas investasi Jepang di kita itu dia sifatnya jangka panjang, masuk ke sektor riil, dia berani bangun manufatur otomotif, dan dia masuk dalam labor intensive. Dia serap banyak tenaga kerja. Komitmennya jangka panjang dan memberi nilai tambah pada perekonomian,” ujar Bahlil.

Data Hipmi Research Center menunjukkan, Jepang menduduki peringkat ketiga dengan nilai rencana investasi di Indonesia mencapai Rp 100,6 triliun, meski masih di bawah Tiongkok dan Singapura. Investasi Jepang pada 2015 tersebut naik 130% jika dibandingkan dengan capaian pada 2014 di posisi Rp 43,7 triliun.

Tak hanya itu,  Jepang merupakan pangsa pasar ekspor nonmigas utama Indonesia setelah Amerika Serikat. Pada Januari 2016, ekspor nonmigas terbesar Indodinesia yakni ke Amerika Serikat dengan total US$1,23 miliar atau 13,10%, disusul Jepang US$ 1,04 miliar atau 11,11 % dan Tiongkok US$ 886,7 juta atau 9,44%. Sedangkan untuk ekspor ke ASEAN sebesar US$ 1,92 miliar atau 20,48% dan ke Uni Eropa US$1,16 miliar atau 12,40%. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]