Analisis

Jeli Melihat Tantangan 2019

Jakarta – Perekonomian Indonesia pada tahun depan diprediksi masih akan dihadapkan banyak tantangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 diproyeksi hanya akan menyentuh level 4,9 persen atau sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan rerata 2018 yang berada di 5 persen.

Di sisi lain, volatilitas di pasar finansial, sebagai konsekuensi kurangnya likuiditas akibat naiknya suku bunga, akan terus berlanjut. Kondisi tersebut muncul akibat tekanan dari faktor eksternal dan kondisi pasar domestik yang kemudian berimbas pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk Adrian Panggabean mengatakan, tantangan yang akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari prospek berlanjutnya normalisasi suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) yang sebanyak dua sampai tiga kali pada tahun depan.

“Perlambatan ekonomi di China, prospek normalisasi moneter di Zona Eropa, gesekan geopolitk yang berimbas pada harga minyak, serta prospek berlanjutnya perang dagang antara AS dan China juga akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Adrian dalam risetnya di Jakarta, yang dikutip, Kamis, 29 November 2018.

Dinamika yang terjadi di tingkat global, akan menyebabkan rotasi antar kelas aset yang kemudian berdampak dengan berlanjutnya pergeseran ekuilibrium kurs global. Kondisi ini perlu direspon pemerintah lewat penyesuaian kebijakan fiskal, moneter dan perdagangan. Harapannya agar daya tarik pasar keuangan domestik tetap terjaga.

Faktor lain yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 adalah kebijakan fiskal pemerintah yang tidak ekspansif. Hal ini merupakan konsekuensi dari rendahnya nisbah pajak atau tax-ratio yang kemudian diaksentuasi oleh efek kebijakan suku bunga dalam menjaga nilai rupiah, namun berdampak pada pelemahan dinamika sektor riil.

Di sisi lain, tingkat inflasi sepanjang 2019 diperkirakan akan tetap rendah. “Saya melihat baik headline inflation maupun core inflation tahun depan akan berada di bawah median target BI,” ucap Adrian.

Dirinya memperkirakan, jika tahun depan suku bunga acuan FFR naik dua sampai tiga kali dan posisi defisit transaksi berjalan belum membaik secara signifikan, maka Bank Indonesia (BI) diprediksi akan ikut menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) kearah 6,50-6,75 persen.

Kenaikan suku bunga acuan tersebut akan menyebabkan berkurangnya likuiditas di sistem keuangan domestik, naiknya long-term rates, sehingga volatilitas pasar finansial tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini. Prospek bergerak naiknya long term rates berpotensi mengurangi aktivitas pembiayaan termasuk pembiayaan lewat pasar modal.

“Bila suku bunga acuan BI terus bergerak naik kearah 6,50-6,75 persen, saya memperkirakan rerata yield obligasi tenor 10 tahun akan berada di kisaran 8,5 perssn di 2019, atau naik sekitar 100 bps dari rerata di 2018,” paparnya.

Sejalan dengan telah naiknya suku bunga acuan sebanyak 175 bps sejak Mei 2018, ditambah dengan harapan bahwa pemerintah akan melakukan rescheduling temporer terhadap sejumlah proyek-proyek infrastruktur untuk menjaga defisit transaksi berjalan yang telah sangat lebar, maka tekanan impor diperkirakan akan mulai berkurang di 2019.

“Saya melihat defisit transaksi berjalan di 2019 kemungkinan besar akan lebih rendah dibanding 2018. Diperkirakan akan berada di kisaran 2,5 persen dari PDB,” tambahnya.

Dengan mengacu pada prospek defisit transaksi berjalan yang diperkirakan lebih rendah tersebut, dan sejalan faktor global termasuk didalamnya stabilitas dalam indeks dolar Amerika (DXY) serta prospek depresiasi mata uang Yuan (CNY), ia memperkirakan perdagangan rupiah di 2019 akan berada di level 14.400-15.200 per dolar AS.

“Bila dilihat secara fundamental, dari perspektif pandang purchasing power dan perbedaan long-term rates, nilai rupiah yang wajar untuk 2019 sebetulnya berada di kisaran 14.300-14.800. Namun secara teknikal, dengan memasukkan faktor sentimen dan faktor cross-currency movement, maka rentang perdagangan rupiah bisa mencapai 14.400-15.200 per dolar AS,” tegasnya.

Adrian mengingatkan, dinamika perekonomian yang menantang pada 2019 bukanlah hal yang harus ditakuti. Di balik volatilitas tersebut selalu ada opportunity, karena itu perlu kehati-hatian dan kejelian dari seluruh pelaku ekonomi, serta formulasi kebijakan yang tepat dan antisipatif oleh pemangku kebijakan ekonomi, dalam menghadapi tantangan perekonomian di 2019. (*)

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

2 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

10 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

11 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

12 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

13 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

13 hours ago