News Update

Jawaban BEI Soal Batas Maksimal Penurunan Saham

Jakarta – PT Bursa Indonesia (BEI) membantah akan melakukan pencabutan aturan “auto rejection” batas bawah sebesar 10% menjadi simetris dengan batas atas per hari ini. Pencabutan tersebut rencana dilakukan Bursa karena melihat kondisi pasar telah stabil.

“Pencabutan “auto rejection” secara asimetris per tanggal 1 September saya gak pernah bilang. Saat ini kita masih kaji,” tegas Direktur Pengawasan Transaksi dan Perdagangan BEI, Hamdi Hassyarbaini, ketika menyambangi wartawan, di Jakarta, tadi malam.

Lebih lanjut Hamdi mengungkapkan, pihaknya memang akan melakukan pencabutan aturan “auto rejection” batas bawah sebesar 10% menjadi simetris pada September tahun ini. Namun, untuk tanggal pastinya BEI masih belum bisa memastikan.

Pasalnya, BEI masih akan melihat data lagi. Sehingga, pengkajiannya pun masih terus dilakukan dan belum ada keputusan hingga hari ini.

“Kami masih tunggu data perdagangan per hari ini, kita akan kaji data hostoris seperti apa dari saat itu diberlakukan (25 Agustus 2015) hingga saat ini, peningkatan seperti ini. Nah dari data itu kita akan putuskan, termasuk isu global baru, jika ada yang dianggap mengakibatkan indeks turun tajam kita bisa pertimbangkan asimetris atau tidak,” terangnya.

Hamdi menambahkan, setelah pengkajian selesai, BEI juga masih harus melakukan diskusi dengan pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sekedar informasi, “auto rejection” merupakan penolakan secara otomatis oleh sistem perdagangan saham yang dimiliki oleh BEI terhadap penawaran jual dan atau permintaan beli efek bersifat ekuitas akibat dilampauinya batasan harga atau jumlah efek bersifat ekuitas yang ditetapkan oleh BEI.

Sejak Agustus 2015 lalu hingga saat ini, BEI menerapkan batas “auto rejection” yang dimasukkan dalam sistem perdagangan Bursa yakni rentang harga harga Rp50 hingga Rp200 memiliki “auto reject” batas atas sebesar 35% dan batas bawah sebesar 10%. Kemudian, saham dengan rentang harga Rp200 hingga Rp5.000 memiliki “auto rejection” batas atas sebesar 25% dan batas bawah sebesar 10%. Dan harga saham di atas Rp5.000 memiliki “auto reject” batas atas sebesar 20% dan batas bawah sebesar 10%. (*) Dwitya Putrra

Apriyani

Recent Posts

Kinerja Himbara Turun, OJK Sebut Faktor Siklikal dan Berpotensi Rebound

Poin Penting OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan… Read More

2 hours ago

Tugu Insurance Wujudkan Kepedulian terhadap Alam melalui Program Tugu Green Journey

Poin Penting Tugu Insurance menjalankan program Tugu Green Journey dengan mendaur ulang 1,7 ton limbah… Read More

2 hours ago

Kasus Dugaan PHK Mie Sedaap Didalami Menaker, Ini Perkembangannya

Poin Penting Kemnaker masih menyelidiki dugaan PHK sekitar 400 pekerja PT Karunia Alam Segar, produsen… Read More

3 hours ago

Laba CIMB Niaga (BNGA) 2025 Tumbuh Tipis jadi Rp6,93 Triliun

Poin Penting CIMB Niaga mencatat laba bersih Rp6,93 triliun pada 2025, tumbuh tipis 0,53% secara… Read More

4 hours ago

OJK dan Inggris Luncurkan Kelompok Kerja Pembiayaan Iklim, Ini Targetnya

Poin Penting OJK dan Pemerintah Inggris Raya membentuk Kelompok Kerja Pembiayaan Iklimuntuk mempercepat pembiayaan iklim… Read More

4 hours ago

IHSG Ditutup Lanjut Merosot 1,04 Persen, Ini Penyebabnya

Poin Penting IHSG ditutup turun 1,04 persen ke level 8.235,26 akibat sentimen negatif dari kebijakan… Read More

5 hours ago