Jakarta – Likuiditas perbankan tengah ketat. Demi menghimpun dana pihak ketiga (DPK), mulai banyak bank yang meningkatkan suku bunga tabungan atau deposito untuk menarik perhatian nasabah. Namun, PT Bank Jago Tbk (IDX: ARTO) justru memilih menghindari “perang suku bunga” ini.
“Kami percaya bahwa Bank Jago tidak akan melakukan perang suku bunga. Kami melihat bahwa perang suku bunga ini tidak sehat,” ungkap Supranoto Prajogo, Direktur Keuangan, Teknologi & Operasional Bank Jago dalam Public Expose pada Kamis, 11 September 2025.
Alih-alih untuk menaikkan suku bunga produk tabungan atau produk deposito, Supranoto mengatakan pihaknya akan berinovasi untuk mengajak nasabah menaruh dana di Bank Jago.
Baca juga: Bank Jago Catat Laba Naik Tajam, Didukung 17 Juta Nasabah
Misalnya, Bank Jago bisa berpartner dengan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) untuk menjadi bank yang bisa bertransaksi di pasar modal. Ini bisa berdampak terhadap nasabah-nasabah baru yang membuka rekening di bank digital ini.
Supranoto juga bilang, Bank Jago tengah menimbang membuka produk tabungan emas. Produk ini memang memengaruhi tingkat deposito Bank Jago, tapi juga membuka peluang agar konsumen tertarik menabung di sana.
“Investasi di emas memengaruhi terkait dengan deposito di kami. Tapi. Kami juga melihat investasi emas ini merupakan salah satu produk yang sedang kami cermati untuk ditawarkan kepada nasabah di kemudian hari,” ungkapnya.
Bank Jago akan memastikan agar simpanan nasabah selalu aman. Supranoto menyebut suku bunga yang diterapkan saat ini sesuai dengan ketentuan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Karena, suku bunga tabungan atau deposito di atas ketentuan LPS tidak akan dijamin.
“Terkait dengan penempatan dana, kami tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Dan tentunya, kami dijamin oleh LPS, dan juga akan transparan yang terkait dengan penempatan jaminan LPS ini,” tegasnya.
Baca juga: Fee Based Income BSI Tumbuh 34 Persen Didukung Bisnis Emas
Untuk diketahui, per Juni 2025, Bank Jago mencatatkan DPK sebesar Rp22,19 triliun. Angka tersebut melonjak sekitar 51,95 persen secara year on year (yoy) dari posisi di Juni 2024, yakni sebesar Rp14,61 triliun.
Deposito mencatatkan porsi pertumbuhan terbesar, hampir mencapai triple digit, yaitu 93,83 persen (yoy), berada di posisi Rp10,75 triliun. Pertumbuhan tabungan juga melonjak 44,64 persen (yoy) dari Rp4,24 triliun menjadi Rp6,14 triliun.
Posisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) di periode tersebut menyentuh Rp11,44 triliun, tumbuh 26,31 persen (yoy). Persentasenya mencapai 51,56 persen dari total DPK. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengusulkan pengambilalihan PNM dari BPI Danantara untuk dijadikan… Read More
Poin Penting Keamanan OCTO Biz diperkuat dengan sistem berlapis termasuk enkripsi data, autentikasi pengguna, dan… Read More
Poin Penting KB Bank Syariah menghadirkan layanan deposito digital melalui aplikasi BISA Mobile untuk memperluas… Read More
Poin Penting Defisit APBN kuartal I 2026 mencapai Rp240,1 triliun (0,93 persen PDB), lebih tinggi… Read More
Poin Penting: Ketua Banggar DPR menolak pengurangan subsidi BBM karena dinilai membebani masyarakat kecil. Penyesuaian… Read More
Poin Penting Kenaikan tiket pesawat domestik dibatasi 9-13% untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah… Read More