Moneter dan Fiskal

Jangan Salahkan Global, Purbaya: Kita Nggak Becus Urus Ekonomi

Poin Penting

  • Purbaya menegaskan ekonomi Indonesia tidak bisa terus menyalahkan kondisi global, karena sekitar 90 persen pertumbuhan ditopang oleh permintaan domestik
  • Dampak ekonomi global kerap dibesar-besarkan dan dijadikan alasan ketika pengelolaan ekonomi dalam negeri tidak optimal
  • Pemerintah akan lebih percaya diri dan ofensif dalam kebijakan fiskal dengan menjaga kekuatan domestic demand sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi.

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tak ingin lagi menjadikan kondisi ekonomi global sebagai kambing hitam atas melemahnya kinerja ekonomi nasional.

Di tengah dinamika global yang cepat dan penuh ketidakpastian, Purbaya justru melihat ruang peluang yang besar selama kekuatan domestik dikelola dengan tepat.

Purbaya mengakui volatilitas ekonomi global masih membayangi, meski tren ketidakpastian mulai mereda. Namun, ia menilai dampak eksternal terhadap perekonomian Indonesia kerap dibesar-besarkan.

“Kalau sebelumnya selalu kita bilang ekonomi global gelap, maka ekonomi Indonesia ikut morat-marit. Padahal 90 persen ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh domestic demand,” tegasnya dalam seminar di Jakarta, 27 Januari 2026.

Baca juga: Mulai Besok, Menkeu Purbaya Rombak Pejabat Bea Cukai dan Pajak

Ia menilai narasi ketergantungan berlebihan pada faktor global kerap dijadikan dalih ketika pengelolaan ekonomi domestik tidak berjalan optimal.

“Itu sering jadi excuse ketika kita enggak becus ngurus ekonomi dalam negeri,” katanya.

Dengan struktur ekonomi yang ditopang kuat oleh permintaan domestik, Purbaya menilai pemerintah seharusnya lebih percaya diri menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.

“Saya enggak peduli dengan global economy. Selama saya bisa jaga domestic demand, ekonomi kita masih bisa tumbuh,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui kondisi global yang membaik tetap memberi tambahan dorongan positif, terutama dari stabilitas pertumbuhan dunia dan arah kebijakan suku bunga global. Namun, faktor tersebut bukan penentu utama kinerja ekonomi Indonesia.

“Kalau global demand-nya bagus, ya itu bagus juga buat kita,” tuturnya.

Melalui penegasan ini, Purbaya mengirim pesan kuat bahwa arah kebijakan fiskal ke depan akan lebih berani, bertumpu pada kekuatan domestik, dan tidak lagi defensif terhadap dinamika global.

Baca juga: Kebijakan Fiskal-Moneter Disebut Tidak Sinkron, Begini Tanggapan Purbaya

Pemerintah memilih fokus memastikan permintaan dalam negeri tetap solid sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Diketahui, pada kurtal III 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dan tumbuh 1,43 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq).

Adapun realisasi pertumbuhan ekonomi secara tahunan tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal III 2024 sebesar 4,95 persen (yoy). (*)

Galih Pratama

Recent Posts

Transaksi Bank Emas 33,7 Ton, Laba Pegadaian Naik 42,6 Persen di 2025

Poin Penting Laba Pegadaian 2025 melonjak 42,6% menjadi Rp8,34 triliun, ditopang pertumbuhan aset 47,8% dan… Read More

8 hours ago

IMF Usul RI Naikkan Pajak Karyawan, Begini Kata Menkeu Purbaya

Poin Penting IMF mensimulasikan kenaikan bertahap PPh 21 karyawan untuk mendukung peningkatan investasi publik dan… Read More

8 hours ago

Bursa Calon ADK OJK, Purbaya: Belum Ada Figur yang Kompeten

Poin Penting Sudah ada sejumlah pendaftar calon Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), namun… Read More

8 hours ago

Jurus Bank Jambi Perkuat Sistem Keamanan Siber

Poin Penting Bank Jambi meningkatkan sistem TI dan pengawasan transaksi sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan… Read More

9 hours ago

Purbaya Pastikan THR ASN, TNI dan Polri Cair di Pekan Pertama Ramadan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya memastikan THR ASN, TNI, dan Polri cair awal Ramadan 2026… Read More

9 hours ago

IHSG Masih Mampu Ditutup Menguat 1 Persen Lebih ke Level 8.310

Poin Penting IHSG ditutup naik 1,19% ke level 8.310,22 pada perdagangan 18 Februari 2026, dengan… Read More

11 hours ago