Perbankan

Jalan Panjang BTN Jaga Asa Jutaan Keluarga Indonesia

Poin Penting

  • BTN memegang peran strategis dalam mengatasi backlog perumahan 15 juta unit, menguasai sekitar 40 persen pasar KPR nasional
  • Transformasi digital dan kinerja berkelanjutan melalui Bale by BTN dan BTN Properti, digitalisasi mendorong pertumbuhan pengguna hingga 3,2 juta (+66% yoy) dan transaksi Rp71 triliun
  • BTN tidak hanya menyalurkan KPR, tetapi menggerakkan 185 subsektor ekonomi.

Jakarta – Transformasi Bank Tabungan Negara (BTN) hari ini bukan sekadar cerita korporasi. Tapi juga kisah tentang komitmen yang panjang dalam melayani negeri.

Di tengah kebutuhan hunian yang masih besar, yang salah satunya ditandai dengan angka backlog atau kesenjangan atau selisih antara jumlah rumah yang dibutuhkan masyarakat dengan jumlah rumah yang tersedia dan layak huni, di Indonesia saat ini yang mencapai 15 juta, dan tantangan ekonomi yang dinamis, BTN menempatkan sektor perumahan sebagai jantung pengabdian. Bank pelat merah satu ini tak hanya bicara angka, tapi juga mimpi jutaan keluarga Indonesia yang ingin memiliki rumah layak.

Dengan perjalanan panjang selama hampir delapan dekade sebagai institusi perbankan, Presiden Prabowo Subianto secara terbuka mengapresiasi peran BTN dalam penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR), termasuk melalui skema KPR Sejahtera Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

“Mereka (rakyat Indonesia) harus punya rumah yang layak. Ini sangat membanggakan, tapi masih jauh dari yang harus kita capai,” ujar Presiden Prabowo, di acara Akad Massal 50.030 KPR Sejahtera & Serah Terima Kunci Rumah Tahun 2025 Bersama Presiden RI di Serang, Banten, Sabtu (20/12).

Pernyataan dari presiden itu menegaskan bahwa perumahan adalah isu strategis nasional, sekaligus panggilan moral bagi perbankan. Jadi, dalam konteks ini, peran dan dukungan BTN terhadap perumahan untuk rakyat jelas bukan kaleng-kaleng.

Seperti diketahui, pemerintah punya program pembangunan 3 juta rumah. Program ini menjadi salah satu momentum penting bagi perjalanan republik ini. Bagi BTN, yang merupakan bank terbesar kelima di Indonesia ini, program 3 juta rumah bukan beban, tapi kesempatan untuk memperluas dampak.

Kepada Infobank, Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menegaskan, bagi BTN, program 3 juta rumah mendorong lonjakan permintaan KPR subsidi, terutama melalui skema FLPP dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera).

Data berbicara lugas. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, pembiayaan KPR Subsidi BTN tumbuh 8,00 persen year on year (yoy), menjadi Rp186,58 triliun pada triwulan III 2025. Angka ini mencerminkan kerja lapangan yang konsisten dan on the track.

Berkat pencapaian itu, amanat untuk BTN bahkan diperbesar. Kuota KPR subsidi ditingkatkan menjadi 220.000 unit dari sebelumnya 158.300 unit, seiring penambahan kuota nasional menjadi 350.000 unit. Artinya, BTN dipercaya menyalurkan sekitar 62,8 persen dari total kuota nasional.

“BTN merasa bangga dan bersyukur dapat melayani 5,7 juta keluarga Indonesia dalam 49 tahun terakhir,” ujar Nixon, Desember lalu.

Tapi, meski telah meraih pencapaian yang besar, Nixon menekankan, BTN tidak boleh cepat puas. Sebab, jutaan masyarakat lain masih menunggu akses hunian dan renovasi rumah layak.

Sejak ditunjuk pemerintah pada 1974 sebagai bank penyelenggara KPR, BTN telah tumbuh menjadi backbone ekosistem perumahan nasional. Kini, lebih dari 78 persen portofolio BTN masih berasal dari KPR, dengan penguasaan pasar atau market share sekitar 40 persen. Ini bukan kebetulan, tapi hasil fokus jangka panjang. Dan posisi strategis itu membuat BTN menjadi penggerak multiplier effect.

“BTN memainkan peran penting dalam memberikan dampak turunan kepada 185 subsektor ekonomi di Indonesia,” kata Nixon.

Di titik ini, kehadiran BTN terasa semakin nyata. Bukan hanya sebagai bank penyalur kredit perumahan, tapi juga sebagai bank yang hadir dalam ekosistem, dari hulu ke hilir. Dari developer, kontraktor, hingga konsumen akhir. Dari semen hingga jasa konstruksi. Semuanya terhubung dalam satu value chain. Roda ekonomi berputar berkat rumah-rumah yang dibangun.

Baca juga: RUPSLB BTN Tetapkan Nixon Kembali Jadi Dirut, Didyk Choiroel Masuk Jajaran Komisaris

Digitalisasi dan Masa Depan BTN

Transformasi BTN, yang pada 9 Februari 2026 genap berusia 76 tahun, di masa kini juga terlihat dari digitalisasi produk dan layanan yang disediakannya. Platform BTN Properti dan super app Bale by BTN, di antaranya, adalah bukti nyata dan menjadi game changer.

Nasabah bisa berselancar secara online untuk memilih rumah, melakukan simulasi KPR, hingga mengajukan pembiayaan. Anytime, anywhere. Ini adalah bentuk customer-centric banking yang dibangun BTN, yang relevan dengan gaya hidup masa kini.

Aplikasi Bale by BTN sendiri telah memiliki lebih dari 3,2 juta pengguna, naik 66 persen yoy, dengan nilai transaksi lebih dari Rp71 triliun hingga akhir September 2025.

“Peningkatan jumlah user dan transaksi melalui balé superapp menunjukkan bahwa inisiatif digital yang kami lakukan terus meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk memilih bertransaksi di BTN,” tutur Nixon.

Digitalisasi BTN tidak berhenti di KPR. Bank ini menyiapkan Bale Pinjam, BNPL, hingga Bale Community yang mengintegrasikan layanan pembayaran iuran lingkungan perumahan. Langkah-langkah ini memperkuat posisi BTN sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari nasabah, bukan sekadar penyedia kredit.

Di kesempatan terpisah, Direktur Konsumer BTN Hirwandi Gafar, menyebut strategi ke depan BTN adalah create demand. BTN tak lagi hanya menunggu developer, tapi juga aktif mendekati calon nasabah.

“Pendekatan direct to customers ini membuat proses lebih cepat, lebih valid, dan lebih humanis,” tukas Hirwandi, kepada Ayu Utami, dari Infobank, beberapa waktu lalu.

Dari sisi kinerja, transformasi BTN berbuah manis. Biro Riset Infobank (birI) mencatat, pada kuartal III-2025, BTN berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp2,3 triliun, tumbuh double digit sebesar 10,6 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,08 triliun. Ini bukti bahwa transformasi BTN berjalan sustainable.

Di sisi lain, BTN juga menunjukkan komitmen pada keuangan syariah nasional. Spin off unit usaha syariah (UUS)-nya menjadi Bank Syariah Nasional (BSN) akhir tahun lalu menegaskan dukungan BTN terhadap penguatan ekonomi syariah. Sinergi BTN dan BSN diharapkan menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, termasuk perluasan akses pembiayaan perumahan dan layanan keuangan berbasis syariah.

Baca juga: BTN Bidik Pertumbuhan Kredit 2026 hingga 11 Persen, Ini Pendorongnya

Dengan aset BSN yang menembus lebih dari Rp70 triliun, BTN memperluas kontribusinya tanpa meninggalkan akar. Ini sejalan dengan roadmap perbankan syariah nasional dan memperkuat citra BTN sebagai grup perbankan yang adaptif dan future ready.

Pada akhirnya, keberadaan dan masa depan BTN adalah tentang keberpihakan. Keberpihakan pada rakyat, pada kolaborasi, dan pada mimpi memiliki rumah. Dari program 3 juta rumah hingga inovasi digital, BTN membuktikan diri bukan hanya bank jagoan KPR, tapi mitra bangsa, mitra jutaan rakyat Indonesia. Inilah transformasi BTN yang bukan sekadar strategi, tapi juga panggilan untuk terus melayani negeri, dengan hati dan aksi nyata. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Recent Posts

Awal 2026 Saham DADA Melonjak 35 Persen, Ini Pemicunya

Poin Penting Saham DADA melonjak 35% di awal 2026, bergerak cepat dari level Rp50 seiring… Read More

4 hours ago

Pemprov DKI Tunda Kenaikan Tarif Transjakarta, Ini Alasannya

Poin Penting Pemprov DKI menunda kenaikan tarif tahun ini atas arahan pemerintah pusat untuk menjaga… Read More

4 hours ago

Prabowo Sentil Pajak dan Bea Cukai, Ini Respons Menkeu Purbaya

Poin Penting Menkeu Purbaya mengaku tersindir pernyataan Presiden Prabowo soal kinerja pajak dan bea cukai… Read More

6 hours ago

Belanja Pemerintah Pusat Tembus Rp2.602,3 Triliun di Akhir 2025

Poin Penting Realisasi belanja pemerintah pusat hingga akhir 2025 mencapai Rp2.602,3 triliun atau 96,3 persen… Read More

8 hours ago

Maybank Indonesia Buka Rencana 2026, Targetkan Kredit Tumbuh hingga 10 Persen

Poin Penting Maybank Indonesia membidik pertumbuhan kredit di kisaran 9-10 persen, di atas pertumbuhan ekonomi.… Read More

8 hours ago

Defisit APBN Melebar, Purbaya: Saya Bisa Bikin 0 Persen, tapi Ekonomi Morat-Marit!

Poin Penting Defisit APBN 2025 melebar mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen dari PDB, lebih… Read More

8 hours ago