Moneter dan Fiskal

Jaga Rupiah, BI Tambah Jurus Baru Gunakan SVBI dan SUVBI untuk Repo Valas

Poin Penting

  • BI meluncurkan instrumen baru berupa SVBI dan SUVBI sebagai underlying transaksi repo valas untuk memperkuat operasi moneter.
  • Kebijakan ini bertujuan meningkatkan likuiditas dan efektivitas transmisi moneter, sekaligus memperdalam pasar uang dan valas.
  • Instrumen baru ini mendukung stabilitas rupiah, dengan memperkuat peran SVBI dan SUVBI sebagai aset likuid berkualitas tinggi (HQLA).

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mengumumkan penggunaan instrumen baru dalam operasi moneter yaitu sekuritas valuta asing Bank Indonesia (SVBI) dan sukuk valuta asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai underlying dalam transaksi valas mulai hari ini, Senin (30/3).

“Bank Indonesia pada hari ini, 30 Maret 2026, mengimplementasikan instrumen baru dalam operasi moneter berupa transaksi repo dalam valuta asing dengan underlying SVBI dan SUVBI,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, Senin, 30 Maret 2026.

Baca juga: Bukalapak (BUKA) Resmi Ajukan PKPU Terhadap Harmas Jalasveva, Ini Duduk Perkaranya

Erwin menjelaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar (pro-market), guna meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).

“Dalam pelaksanaannya, transaksi repo valas ini dapat diikuti oleh dealer utama (primary dealer) PUVA,” jelas Erwin.

Alternatif Likuiditas bagi Perbankan

Erwin menambahkan, kehadiran instrumen ini memberikan alternatif tambahan bagi perbankan dalam pengelolaan likuiditas, khususnya likuiditas valas.

Baca juga: BI Gas Pendalaman Pasar Uang dan Valas, Ini Target Transaksi 2030

Selain itu, penambahan fitur repo kepada BI semakin memperkuat karakteristik SVBI dan SUVBI sebagai high quality liquid assets (HQLA).

“Melalui penguatan tersebut, aktivitas pasar sekunder SVBI dan SUVBI diharapkan akan semakin meningkat, sehingga turut mendukung pendalaman pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika global yang masih berlanjut,” ujar Erwin. (*)

Editor: Yulian Saputra

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Asuransi Bintang Bukukan Laba Rp16,40 Miliar di 2025, Tumbuh 18,83 Persen

Poin Penting PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) mencatat laba bersih Rp16,40 miliar pada 2025, tumbuh… Read More

34 mins ago

Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, DPR Minta Prabowo Turun Langsung

Poin Penting DPR minta Presiden Prabowo turun langsung menangani kapal Pertamina yang tertahan di Selat… Read More

46 mins ago

Pertamax Naik Lagi? Simak Daftar Terbaru Harga BBM Pertamina, Shell, BP dan Vivo Pekan Ini

Poin Penting Harga BBM minggu ini tidak berubah dan masih mengacu pada penyesuaian per 1… Read More

1 hour ago

Bank Mandiri Salurkan KUR Rp7,35 Triliun hingga Februari 2026

Poin Penting Hingga Februari 2026, Bank Mandiri telah menyalurkan KUR Rp7,35 triliun kepada 59.327 UMKM,… Read More

1 hour ago

Uang Beredar Tumbuh 8,7 Persen Jadi Rp10.089 Triliun di Februari 2026

Poin Penting Uang beredar dalam arti luas (M2) Februari 2026 mencapai Rp10.089,9 triliun, tumbuh 8,7… Read More

2 hours ago

Bale by BTN jadi Motor Transformasi Digital, Pengguna Tumbuh 2 Kali Lipat

Poin Penting Pengguna Bale by BTN melonjak 102% YoY menjadi 3,6 juta pada 2025, menegaskan… Read More

2 hours ago