Moneter dan Fiskal

Jaga Inflasi Pangan, Pasutri Ini Berdayakan Petani Cabai Aceh Lewat Produk Capli

Aceh – Berawal dari keluh kesah petani cabai rawit di Aceh yang merasakan anjloknya harga ketika panen, Yuliana, yang sebelumnya bekerja di salah satu lembaga survei yang bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI) untuk peninjauan harga pangan nasional, mengambil langkah untuk memberdayakan hasil panen cabai menjadi sebuah produk sambal.

Yuliana pun berhasil memperkenalkan Capli, sebuah produk sambal hijau kemasan khas Aceh bersama sang suami Murtala Hendra Syahputra. Pasangan suami-istri (pasutri) ini memasok lewat petani-petani cabai rawit yang menjadi bahan baku Capli kepada para petani di Aceh. Tujuannya agar harga di pasar bisa dikendalikan yang pada akhirnya akan menjaga inflasi pangan.

“Jadi kita yang support ke pedagang besar jadi harga itu bisa kita kontrol, namun bisa kita kasih barang tapi dengan jaminan harga tidak boleh di atas range yang kita sudah tentukan. Sehingga, harga bisa stabil. Kalau selama ini kan yang kasihan itu produsen, lalu permintaan dari Horeka ingin membeli harga murah tapi kualitas bahan baku mahal, tapi minimal di satu komoditi bisa kita tekan itu sudah bisa sangat membantu teman-teman,” ujar Yuliana.

Baca juga: 4 Jurus Pemerintah Jaga Inflasi di Kisaran 2,5 Persen Plus Minus 1 Persen

Namun, tak semudah yang dibayangkan. Awalnya, pasutri ini merintis usahanya dengan kondisi harga cabai sedang melonjak tinggi, yakni mencapai Rp100 ribu per kilogram (kg). Padahal, modal awal usaha mereka hanya dengan modal nekat sebesar Rp500 ribu.

“Awal-awal Capli kita rintis harga cabai harga Rp100 ribu, bawang putih Rp80 ribu, sebenarnya kita mau nangis, kita produksi rugi, kita nggak produksi gak bisa jual, tapi kita hitung-hitung saja ini sebagai promosi brand,” paparnya.

Lebih lanjut, kata Yuliana, saat ini harga cabai sudah mulai bisa dikontrol dengan melakukan kontrak bersama petani untuk harga cabainya di sekitar Rp20 ribu per kilo. Pasutri ini pun sudah banyak memberdayakan petani cabai di Aceh, yakni sekitar 100 petani.

Baca juga: Airlangga: Inflasi Terkendali dan PMI Manufaktur Kembali Ekspansif di Akhir 2024

Sebagai informasi, Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 1,61 persen secara tahunan (yoy) dan mengalami deflasi 0,13 persen secara bulanan (mtm) pada Januari 2025.

Sejumlah komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi di Provinsi Aceh di Januari 2025, yakni cabai merah dengan andil inflasi 0,48 persen, ikan tongkol 0,17 persen, ikan dencis 0,14 persen, bawang merah 0,09 persen, dan cabai rawit 0,09 persen.

Sementara, komoditas yang memberikan andil terhdap deflasi, yakni tarif listrik dengan andil deflasi 1,59 persen dan tomat 0,21 persen. Kemudian, angkatan udara 0,01 persen dan jeruk nipis/limau 0,01 persen. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Bergabung dengan Infobanknews.com sejak April 2022. Lulusan Universitas Budi Luhur ini bertugas meliput isu ekonomi makro, moneter & fiskal, perbankan, hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Jerat Defisit APBN: Menkeu Purbaya, Bunga Utang Menggunung dan Tax Ratio yang Rendah

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group JANGAN besar pasak daripada tiang. Mari… Read More

1 hour ago

GoPay Kini Bisa Tarik Tunai Tanpa Kartu di ATM BRI dan Bank BJB, Ini Caranya

Poin Penting GoPay kini bisa tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BRI dan Bank… Read More

14 hours ago

Animo Tinggi, BRI Kanwil Jakarta II Tambah Kuota Mudik Gratis jadi 2.750 Pemudik

Poin Penting BRI Kanwil Jakarta II menambah kuota mudik gratis menjadi 2.750 pemudik dengan 55… Read More

14 hours ago

Proteksi Pemudik 2026, BRI Life Andalkan Produk Asuransi Digital MODI

Poin Penting BRI Life menghadirkan asuransi digital MODI-MOtraveling untuk melindungi pemudik Lebaran 2026 dari risiko… Read More

14 hours ago

Adira Finance Lepas 300 Pemudik ke Solo dan Yogyakarta, Dapat Cek Kesehatan dan Asuransi

Poin Penting Adira Finance memberangkatkan 300 pemudik dari Jabodetabek menuju Solo dan Yogyakarta melalui program… Read More

15 hours ago

BI Borong SBN Rp86,16 Triliun hingga Maret 2026, Buat Apa?

Poin Penting Bank Indonesia membeli Surat Berharga Negara (SBN) Rp86,16 triliun hingga 16 Maret 2026,… Read More

16 hours ago