News Update

Izin Lengkap! BSI Kini Punya Layanan Simpanan dan Perdagangan Emas dari OJK

Poin Penting

  • BSI resmi memperoleh izin Simpanan Emas dari OJK pada 10 November 2025, menambah lini bisnis bullion yang mencakup simpanan, perdagangan, dan penitipan emas.
  • Layanan bullion BSI tumbuh pesat, dengan 200.238 rekening emas (naik 94,98% YTD) dan total saldo kelolaan mencapai Rp2,55 triliun per September 2025.
  • Bisnis emas mendorong kinerja keuangan BSI, menghasilkan laba bersih Rp5,57 triliun atau tumbuh 9,04% (YoY), didukung peningkatan fee-based income dari layanan bullion.

Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi mengantongi izin Simpanan Emas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 10 November 2025. Dengan izin ini, bank pelat merah syariah tersebut kini memiliki tiga kegiatan usaha bullion, yaitu Simpanan Emas, Perdagangan Emas dan Penitipan Emas.

Wakil Direktur Utama BSI, Bob Tyasika Ananta mengatakan, pihaknya menyambut baik izin tersebut sebagai bagian dari penguatan bisnis emas perseroan.

“Hal ini tak terlepas dari catatan pertumbuhan bisnis emas yang solid, didukung oleh peningkatan jumlah nasabah dan volume transaksi perdagangan emas,” ujarnya, di Jakarta, Rabu, 12 November 2025.

Baca juga: Di Luar Ekspektasi, Bisnis Emas BSI Makin Mengilap

BSI menjelaskan bahwa Jasa Simpanan Emas merupakan fasilitas penyimpanan emas oleh nasabah di bank, di mana emas tersebut dapat disalurkan dalam skema pembiayaan emas (gold-to-gold) maupun perdagangan emas.

Sementara itu, Jasa Penitipan Emas memungkinkan nasabah menitipkan emas di bank dengan imbalan berbasis jasa, sedangkan Jasa Perdagangan Emas mencakup transaksi jual-beli emas batangan terstandarisasi.

Investasi Emas Semakin Mudah Lewat Aplikasi BYOND by BSI

Selain memperoleh izin simpanan emas, BSI juga terus mendorong layanan bullion agar semakin diminati masyarakat. Salah satu upayanya adalah memberikan kemudahan investasi emas melalui aplikasi mobile BYOND by BSI.

‘’Aktivitas bulion ini membuat investasi emas menjadi lebih terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Melalui aplikasi mobile BYOND by BSI, nasabah dapat memiliki emas mulai dari Rp50 ribu atau setara dengan 0,02 gram,” jelas Bob.

Baca juga: Punya Layanan Bank Emas, BSI Bisa Perkuat Ekosistem Bisnis Logam Mulia

Bob menambahkan, investasi emas bisa dilakukan 24 jam dan dapat dicetak mulai dari kepemilikan 2 gram emas.

“Emas aman karena secara fisik emas disimpan di vault yang aman sehingga nasabah tidak perlu khawatir emasnya hilang. Nasabah juga dapat menjual emasnya kapan saja, dan dana hasil penjualan emas langsung masuk ke rekening nasabah secara real time,” bebernya.

Rekening Emas Tumbuh Hampir 95 Persen

Sejak diluncurkan hingga 30 September 2025, layanan bullion BSI mencatat pertumbuhan signifikan. Jumlah nasabah rekening emas mencapai 200.238 nasabah, tumbuh 94,98 persen sepanjang tahun (YtD).

Selain itu, penjualan emas melalui aplikasi BYOND by BSI mencapai 1,06 ton, menghasilkan fee-based income sekitar Rp70 miliar (YtD). Total saldo kelolaan emas juga melonjak 159,78 persen (YtD) menjadi 1,15 ton atau setara Rp2,55 triliun.

Baca juga: Jurus OJK Lindungi Anak Muda dari Risiko Investasi Bodong

Kegiatan usaha bullion turut memperkuat kinerja keuangan BSI di tengah tekanan industri perbankan. Hingga 30 September 2025, BSI membukukan laba bersih Rp5,57 triliun, tumbuh 9,04 persen (YoY). Pertumbuhan ini ditopang oleh margin bagi hasil yang naik 13,90 persen dan fee-based income yang meningkat 20,81 persen, sebagian besar berasal dari bisnis bullion.

Dari sisi aset, BSI mencatat pertumbuhan 12,37persen (YoY) menjadi salah satu bank syariah dengan performa terbaik di Tanah Air. Pertumbuhan DPK mencapai 15,66 persen (YoY) dan pembiayaan naik 12,65 persen (YoY), didorong oleh lonjakan bisnis emas.

Baca juga: Ini Kata BSI soal Komitmen Dukung Indonesia Berhaji dan Layanan Digital Haji

Pertumbuhan permintaan emas batangan nasional juga ikut menopang kinerja BSI. Total permintaan emas di Indonesia naik 3,64 persen pada 2024 dibanding tahun sebelumnya.

“Banyak peluang untuk mengembangkan pasar emas Indonesia, karena permintaan emas per kapita konsumen merupakan yang terendah di Asia Tenggara, yaitu hanya 0,17 gram per orang,” pungkas Bob. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Aplikasi PINTU Listing 10 Tokenisasi Aset Global, Apa Saja?

Poin Penting PINTU tambah 10 token baru, termasuk saham global, ETF, dan obligasi, sehingga investor… Read More

1 hour ago

Dorong Pemberdayaan UMKM, Bank Aladin Syariah Dukung Program Warteg Gratis 2026

Poin Penting Bank Aladin Syariah bersama Alfamart menyalurkan 60.000 paket makanan di 34 kota dan… Read More

2 hours ago

Separuh Driver Grab Ternyata Eks Korban PHK, Ini Fakta dan Potensi Penghasilannya

Poin Penting Grab menyebut separuh mitra ojolnya merupakan mantan korban PHK, menunjukkan peran platform sebagai… Read More

4 hours ago

Kinerja Himbara Turun, OJK Sebut Faktor Siklikal dan Berpotensi Rebound

Poin Penting OJK menilai penurunan kinerja bank Himbara bersifat siklikal akibat faktor global dan pelemahan… Read More

5 hours ago

Tugu Insurance Wujudkan Kepedulian terhadap Alam melalui Program Tugu Green Journey

Poin Penting Tugu Insurance menjalankan program Tugu Green Journey dengan mendaur ulang 1,7 ton limbah… Read More

6 hours ago

Tokio Marine Life Gandeng BAZNAS Bedah 5 Rumah dan Santuni Anak Yatim di Jakarta

Poin Penting Tokio Marine Life dan BAZNAS renovasi 5 rumah di Setiabudi, Jakarta, dengan Rp55… Read More

6 hours ago