Islamic Financial Inclusion Dorong Penetrasi Syariah

Penduduk Muslim RI Belum Didukung Oleh Penetrasi Perbankan Syariah

Surabaya – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi penduduk muslim di Indonesia mencapai 87% dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun keberadaan penduduk muslim sebagai mayoritas di Indonesia belum secara optimal difasilitasi untuk bertransaksi keuangan secara syariah.

Demikian pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Ronald Waas, dalam seminar di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 30 Oktober 2015. Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan karena masih rendahnya pangsa perbankan syariah di Indonesia, yakni sebesar 4,7% per Agustus 2015.

“Kami meyakini, masih banyak penduduk muslim di Indonesia yang merupakan unbanked. Disisi lain, kebutuhan transaksi keuangan ritel dikalangan masyarakat muslim semakin meningkat, khususnya untuk pembayaran Wakaf, Infak dan Shadaqah,” ujar Ronald.

Adanya berbagai kondisi tersebut, dirinya memandang, pengembangan layanan non tunai sebagai bagian dari upaya perluasan akses keuangan di kalangan umat muslim, merupakan sesuatu yang mutlak. Oleh sebab itu, BI telah menyusun strategi Islamic Financial Inclusion (IFI), sebagai bagian dari grand design perluasan akses keuangan. “Ini merupakan dalam kerangka kebijakan keuangan inklusif BI, makanya kami telah menyusun strategi IFI, sebagai bagian perluasan akses keuangan pada masyarakat muslim,” tukasnya.

Lebih lanjut Ronald menjelaskan, strategi IFI dapat berperan sebagai sarana perluasan ekosistem Layanan Keuangan Digital (LKD), melalui peranan sektor informal seperti Islamic Center, jaringan mesjid, serta pondok pesantren termasuk unit-unit usaha yang dimiliki oleh pesantren. Dimana sektor informal tersebut mempunyai peran besar. “Sektor informal itu memiliki peran besar dalam menciptakan ketertarikan masyarakat terhadap layanan non tunai yang tersedia dan perlahan mulai mengenal untuk kemudian mencoba bertransaksi dengan layanan dimaksud,” ucap Ronald.

Selain itu dirinya juga berharap, agar kemauan masyarakat muslim untuk membuka diri dan mencoba bertransaksi keuangan, dapat menjadi entry point yang strategis untuk melakukan edukasi keuangan, khususnya terkait dengan transaksi non tunai yang mengarah kepada ekonomi berbasis teknologi/digital.

“Ke depannya, masyarakat diharapkan tidak hanya mahir bertransaksi keuangan, melainkan juga memiliki pengelolaan keuangan yang handal,” tutup Ronald. (*) Rezkiana Nisaputra

Apriyani

Recent Posts

Ironi di Balik Kursi Terdakwa Kasus Sritex, Ketika Integritas Bankir Diadili Secara “Serampangan”

Oleh Tim Infobank SEMARANG, sebuah ruang pengadilan menjadi panggung sebuah drama yang memilukan sekaligus mengusik… Read More

2 hours ago

Modal Kuat dan Spin Off, OJK Optimistis Premi Asuransi Tumbuh

Poin Penting OJK optimistis premi asuransi tumbuh pada 2026 seiring membaiknya konsolidasi industri dan penguatan… Read More

4 hours ago

Pasar Modal Diminta Berbenah, Airlangga Beberkan Instruksi Prabowo

Poin Penting Presiden Prabowo memerintahkan reformasi pasar modal setelah IHSG sempat turun ke level 7.800-an… Read More

7 hours ago

OJK Siapkan Langkah Sistemik Dorong Kredit UMKM

Poin Penting OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan 10-12 persen pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan dana… Read More

8 hours ago

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

8 hours ago

Menko Airlangga Pamer Capaian Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, di Atas Negara-Negara Besar

Poin Penting Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (yoy) pada kuartal IV 2025, tertinggi dalam empat kuartal… Read More

8 hours ago